Uncategorized

Viral! Tiga Mitos Wisata Halal Ini Wajib Diluruskan!

Ditulis Oleh: Aryadimas Suprayitno

Tak lengkap rasanya membahas wisata halal tanpa menyoroti polemik yang terjadi di dalamnya. Ingatan kita tentu masih segar dengan kehebohan masyarakat lokal ketika mendengar Danau Toba akan dijadikan destinasi wisata halal. Dengan kompaknya, mereka berdalil bahwa kebijakan tersebut dinilai tidak menghargai aturan adat yang telah berlaku[1]. Ternyata, aksi penolakan wisata halal juga terjadi di Bali. Alasan serupa juga datang dari pihak setempat. Mereka menyatakan bahwa Pulau Seribu Pura tersebut sudah cukup ramah bagi pelancong Muslim, sehingga tidak perlu embel – embel halal yang nantinya merusak kebudayaan ciri khas Bali[2]. Apakah benar penambahan kata ‘halal’ akan melunturkan ciri khas daerah? Lalu, apakah ada stigma negatif lain yang melekat dalam sektor pariwisata halal di Indonesia? Apakah itu bernilai fakta atau hanya mitos belaka? Ayo kita bahas bersama berikut ini!

1. Benarkah Wisata Halal Menghilangkan Budaya Setempat?

Kita mulai dengan pertanyaan yang hot dan sedang naik daun. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumatera Utara, Ria Novida Teleumbanua menyatakan bahwa konsep wisata halal tidak akan menjadi gangguan serta menghilangkan budaya setempat[3]. Halal yang dimaksud yaitu menyediakan pelayanan yang ramah bagi pengunjung muslim, seperti kemudahan akses terhadap masjid, restoran halal, hotel syariah, serta pelabelan produk non halal[4]. Hal tersebut dinilai penting mengingat pengunjung Danau Toba kebanyakan dari Malaysia dan Singapura.

2. Bukankah Pelabelan Halal Tidak Akan Menarik Minat Wisatawan Non Muslim?

Sekilas, wisata halal seolah menjadi pembatas bagi pelancong yang datang. Dr. Drs. Rohidin, S.H., M.Ag selaku Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Keagamaan, dan Alumni Universitas Islam Indonesia (UII) menegaskan bahwa wisata halal bukanlah bentuk batasan apalagi diskriminasi, tetapi sebagai jaminan keamanan dan kenyamanan[5]. Apabila sebuah destinasi wisata dikatakan halal, telah dipastikan adanya jaminan kebersihan produk, kebersihan lingkungan wisata, kenyamanan pelayanan hotel, dan lainnya. Maka, esensi dari halal itu sendiri tidak hanya memberi jaminan kepada wisatawan muslim, tetapi juga kepada wisatawan non muslim[6].

3. Apakah Pariwisata Halal Berkontribusi Dalam Mendongkrak Pendapatan Masyarakat Sekitar?

Sebagai rahmatan lil ‘alamin, Islam diturunkan sebagai rahmat bagi seluruh alam. Maka, adanya pariwisata halal tidak hanya menarik eksistensi, tetapi juga menambah nilai kesejahteraan itu sendiri. Pada tahun 2017, Lombok dinobatkan sebagai The Best Destination for Halal Tourism Resort skala global oleh CNBC Indonesia. Prestasi Lombok dalam bidang kehalalan tersebut tentu dapat meningkatkan pengunjung yang mayoritas berasal dari Australia, Malaysia, dan Singapura. Buktinya, terjadi peningkatan wisatawan Lombok sebesar 50% dari 1 juta wisatawan pada tahun 2016 menjadi 1,5 juta pada tahun 2017[7]. Peningkatan tersebut dapat menjadi tolak ukur positif bertambahnya kesejahteraaan masyarakat sekitar.

Bukan hanya Lombok, penerapan wisata halal juga berhasil meningkatkan pendapatan pedagang di objek wisata Kapal PLTD Apung Banda Aceh sebesar Rp1.000.000,00 hingga Rp2.000.000,00[8] serta meningkatkan 6,9% pendapatan masyarakat di Mataram[9]. Jadi, tidak elok rasanya apabila pariwisata halal dianggap tidak memberi kontribusi apapun. Mengingat potensi Indonesia sebagai mayoritas muslim terbesar dunia dan destinasi wisata halal terfavorit tahun 2019, sudah sepatutnya kesempatan ini dimanfaatkan sebaik – baiknya. Berbincang wisata halal bukan tentang diskriminasi, tetapi bagaimana memberikan pelayanan terbaik kepada setiap pelancong tanpa rasa khawatir. Yakinlah, kalau sudah halal, pasti dapat memberikan jaminan keamanan dan kenyamanan terbaik kepada siapapun.


Catatan Kaki

Redaksi Warta Ekonomi. “Diusulkan Jadi Wisata Halal, Masyarakat Danau Toba Menolak, Kenapa?”..https://www.wartaekonomi.co.id/read245021/diusulkan-jadi-wisata-halal-masyarakat-danau-toba-menolak-kenapa.html (diakses pada 29 Oktober 2020).

Aditya Mardiastuti. “Wisata Bali Sudah Ramah Muslim, Tak Sulit Cari yang Halal”. https://travel.detik.com/travel-news/d-4780579/wisata-bali-sudah-ramah-muslim-tak-sulit-cari-yang-halal (diakses pada 29 Oktober 2020).

Tigor Munthe. “Samosir Tolak Terapkan Wisata Halal, Ini Kata Pemprovsu”. https://www.tagar.id/samosir-tolak-terapkan-wisata-halal-ini-kata-pemprovsu (diakses pada 29 Oktober 2020).

LPPOM MUI. “Berbagai Panduan tentang Wisata Halal”. http://www.halalmui.org/mui14/main/detail/berbagai-panduan-tentang-wisata-halal (diakses pada 29 Oktober 2020).

Universitas Islam Indonesia. “Indonesia Punya Prospek Jadi Tujuan Wisata Halal”. https://www.uii.ac.id/indonesia-punya-prospek-jadi-tujuan-wisata-halal/ (diakses pada 29 Oktober 2020).

Masyarakat Ekonomi Syariah. “Indonesia Winner Destinasi Wisata Halal Dunia”. http://www.ekonomisyariah.org/id/10598/ndonesia-winner-destinasi-wisata-halal-dunia/ (diakses pada 29 Oktober 2020).

Bank Indonesia. “Memperkuat Perekonomian Indonesia Melalui Wisata Halal”. https://www.bi.go.id/id/ruang-media/info-terbaru/Pages/Memperkuat-Perekonomian-Indonesia-melalui-Wisata-Halal.aspx (diakses pada 29 Oktober 2020).

Wazni Felyana. “Dampak Pengembangan Objek Wisata Halal Terhadap Kehidupan Sosial dan Pendapatan Pedagang di Kapal PLTD Apung Kota Banda Aceh Tahun 2015-2017”. https://repository.ar-raniry.ac.id/id/eprint/9457/1/WAZNI%20FELYANA.pdf (diakses pada 29 Oktober 2020) .

Safroni Isrososiawan. “Pengaruh Pariwisata Halal Terhadap Pendapatan Usaha di Kota Mataram Nusa Tenggara Barat”. http://repository.uinmataram.ac.id/384/2/384% 20Artikel%20Penelitian.pdf (diakses pada 29 Oktober 2020)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *