ArtikelOpiniSM Town

“Untuk Pak Mamat”

Oleh: Salzabilla Wahyu Putri

“Gas, duluan ya! Assalamu’alaikum!”

            “Oke Run, wa’alaikumsalam!”

            Harun mulai mengayuh pedal sepeda sesaat setelah berpamitan pada Bagas. Ia dan sepedanya perlahan melaju menjauhi masjid kampus yang masih ramai orang duduk mengobrol atau sembari menunduk melantunkan ayat suci. Langit malam pertengahan ramadhan kala itu cerah dengan udara dinginnya membuat kemudi Harun sesekali goyah karena badannya menggigil. Pemuda itu terus mengayuh sepedanya menyusuri jalanan kecil Yogyakarta.

            Waktu di jam tangan Harun masih menunjukkan tepat pukul sembilan malam tetapi suasana sebuah jalan kecil itu sudah sangat sepi, hanya ada satu-dua orang melintas. Harun memicingkan mata melihat lurus ke ujung persimpangan jalan. Lagi-lagi Harun mendapati seorang lelaki paruh baya dengan sebuah gerobak beratap terpal. Sendirian, remang, dengan tusuk-tusuk sate di gerobaknya yang masih penuh seakan tidak ada orang membeli. Penasaran, Harun segera memperlambat laju sepedanya dan berhenti di dekat gerobak.

            “Pak, permisi. Sate ayam satu porsi ya,”

            Sang penjual paruh baya itu menengadahkan kepala dengan raut muka terkejut dan mata yang berkaca-kaca. “Alhamdulillah, baik Mas silakan duduk dulu,”

            Harun hanya mengangguk dan segera duduk di kursi kayu pipih panjang yang ada. Dilihatnya tangan sang bapak penjual yang gemetar namun cekatan dalam meracik bumbu dan membolak-balik sate di atas tempat pembakaran. Tidak ada obrolan hingga akhirnya sate telah matang dan disajikan di atas piring bersama potongan lontong. Harun tertegun memandang piring penuh di hadapannya itu.

            “Pak, maaf, satu porsi isinya sebanyak ini? Sepertinya ini dua porsi Pak,”

            “Itu memang untuk Mas, yang jadi pelanggan pertama saya hari ini,” sahut sang penjual, tersenyum. Mendengar hal itu Harun makin tertegun.

            “Silakan Mas dimakan dulu,”

            Banyak pertanyaan melintas di pikiran Harun yang tidak terutarakan. Raut senang dari wajah yang kulitnya terbakar sinar matahari dihiasi guratan keriput lelaki paruh baya itu terlihat damai di bawah pencahayaan remang lampu minyak. Harun mengalihkan pandangan dan mengambil satu tusuk sate untuk dilahap. Ia berhenti mengunyah sejenak ketika merasakan paduan daging ayam dan bumbu kacang yang memenuhi mulutnya. Enak sekali! Sate ukuran dua porsi ditambah potongan lontong itu segera habis tersantap dengan lahap. Harun beranjak untuk membayar sesaat setelah selesai mengosongkan isi piring dan melonggarkan isi perutnya.

            “Lima belas ribu, Mas,” kata sang penjual yang diikuti raut bingung Harun. Lelaki paruh baya itu mengangguk lalu tersenyum untuk meyakinkan Harun.

            “Maaf Pak tidak ada uang pas, ini sisanya tolong diterima ya,” ujar Harun seraya menarik uang dua puluh ribu, uang terakhir dari dompetnya. “Kalau boleh tahu, nama Bapak siapa?”

            “Alhamdulillah, makasih Mas. Saya Pak Mamat,”

            “Baik Pak, besok lagi saya ajak teman-teman saya buat makan di sini ya!” pamit Harun ditutup dengan salam dan diikuti anggukan penuh bahagia Pak Mamat. Ia kembali mengayuh pedal sepedanya menyusuri jalan dengan berbagai pikiran.

            Esok harinya di kampus pun Harun lebih banyak diam dengan dahi sesekali mengerut. Melihat kelakuan temannya yang agak aneh, Bagas menepuk pundak Harun.

“Hayo, mikir apaan? Serius amat,”

            “Ah, enggak. Kepikiran bantu Pak Mamat aja,”

            “Pak Mamat?”

            Harun menceritakan pertemuan dengan Pak Mamat sang penjual sate di perjalanan pulangnya semalam, bagaimana rasa makanannya yang enak dengan harga murah namun sepi pelanggan. Bagas ber-oh panjang setelah Harun menyelesaikan ceritanya.

            “Kenapa nggak jualan di tempat lain?”

            Harun menggeleng. “Aku belum sempat tanya itu sih,” Harun memberi jeda sebelum melanjutkan. “Gas, ajak teman-teman yang lain makan di sana yuk!”

            Bagas mengangguk. “Oke. Gimana kalau dua hari lagi pas ngabuburit kita ke sana?”

            “Siap! Makasih Gas!”

            Kedua pemuda itu kemudian sibuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk membantu Pak Mamat hingga tak terasa dua hari berlalu. Matahari telah bergerak perlahan ke arah barat ketika Pak Mamat beranjak dari tempat duduk melihat Harun berlari menuju padanya. Beliau belum sempat bertanya apa yang terjadi saat Harun meraih gerobaknya dan mulai mendorong.

            “Ayo Pak, cepat!” ujar Harun masih dengan napas tersengal. “Pelanggan Bapak sudah menunggu!”

            Masih bingung, Pak Mamat hanya ikut membantu Harun mendorong gerobaknya dalam diam tanpa ada percakapan yang tercipta, menyusuri jalanan Yogyakarta dibawah langit dan sinar matahari keemasan. Butuh waktu agak lama hingga akhirnya Harun menghentikan langkah dan laju gerobak. Pak Mamat ikut berhenti, memandang ke sekeliling. Sebuah masjid kampus berdiri megah di hadapannya.

            “Harun!”

            Harun dan Pak Mamat menengok ke arah Bagas yang berseru dan melambai pada mereka. Di belakangnya banyak orang duduk melingkari meja-meja di petak kecil kedai sebelah masjid seraya menanti azan. Kedua kaki Pak Mamat lemas hingga tersungkur ke tanah ketika melihat tulisan “Kedai Sate Pak Mamat” pada papan kayu yang terpasang di depan.

            “Sebentar lagi waktunya berbuka, ayo Pak,” ujar Harun sambil membantu Pak Mamat berdiri. Mereka melanjutkan mendorong gerobak, menyapa seluruh yang ada di sana dengan bahagia.

BIODATA PENULIS

Nama                                       : Salzabilla Wahyu Putri

Tempat, Tanggal Lahir           : Magelang, 18 Maret 2000

Alamat                                    : Jalan Haji Amat II Nomor 13A, Kukusan, Beji,

                                                  Depok

Asal Fakultas                          : Fakultas Kedokteran Gigi

E-mail                                      : salzabillawp@gmail.com

Nomor HP                               : 081993889700

ID LINE                                 : salzabillaptr

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *