Internasional

“Tahukan Kamu Deklarasi Balfour?”

Klik tombol yang terletak di pojok kanan atas untuk memperbesar versi pdf.

Di tengah situasi Perang Dunia I yang masih berkecamuk, pada tanggal 2 November 1917, Inggris melalui Deklarasi Balfour telah berjanji untuk mendukung pendirian tanah air nasional bagi orang-orang Yahudi (Zionis) di Palestina. Berdasar pada deklarasi ini, pasca perang dunia I, mulai terjadi migrasi besar-besaran dari orang Yahudi di seluruh dunia untuk menduduki wilayah bekas kekuasaan Utsmaniyah tersebut. Singkat cerita, dengan dukungan politik yang telah diberikan Inggris, kaum Zionis berhasil membentuk negara Israel pada tahun 1948 di wilayah yang mereka anggap sebagai “Tanah yang Dijanjikan”, yakni Palestina.

Namun, sebelum adanya Deklarasi Balfour yang menjanjikan tanah Palestina itu, terdapat beberapa wilayah yang dijadikan opsi bagi tanah air kaum Zionis, yakni Argentina dan Uganda, dan semuanya tidak bisa dilepaskan dari pengaruh Inggris.

Argentina: Melalui sebuah pamflet berjudul Der Judenstaat (Negara Yahudi), Theodor Herzl (pemimpin organisasi Zionis modern) menyebut Argentina menjadi salah satu tempat potensial untuk mendirikan negara bagi bangsa Yahudi. Argentina dipilih dengan alasan memiliki tanah yang subur dan luas, tingkat kepadatan penduduk yang minim. Selain itu, adanya kebijakan pro-imigran dari pemerintah Argentina di bawah Presiden Alejo Julio Argentino Roca Paz (1843-1914) mendorong pemimpin Zionis untuk merencanakan migrasi ke negara Amerika Latin tersebut. Arus migrasi bangsa Yahudi ke Argentina sudah dimulai sejak 1880-1990an. Namun, proyek ini tidak berhasil.

Uganda: Dalam pertemuannya dengan Joseph Chamberlain (menteri urusan kolonial Inggris) pada 1902, Theodore Herzl menyepakati bahwa wilayah Uganda di Afrika Timur sebagai tanah air bagi bangsa Yahudi. Hasil kesepakatan ini dibawa oleh Herzl dalam Kongres Zionis keenam di Basel (1903) untuk diusulkan kepada anggota kongres. Usul ini pun menimbulkan pertentangan dan perpecahan di kalangan pendukung Zionis. Akhirnya, rencana kepindahan orang-orang Yahudi Zionis ke Afrika Timur ditolak dalam Kongres Zionis Ketujuh pada 1905.

Organisasi Zionis menegaskan kembali komitmen mereka untuk mendirikan sebuah tanah air Yahudi di wilayah Palestina, dan Inggris membuka jalan itu dengan menetapkan Deklarasi Balfour. Deklarasi ini dapat disebut sebagai tonggak awal dari konflik-konflik lain yang berkepanjangan di Timur Tengah yang melibatkan Zionis Israel dan Palestina-bangsa Arab.

Disusun oleh:
Departemen Kastrad Salam UI 22

Referensi:

_. Zionist Congress: The Uganda Proposal. Diakses melalui laman https://www.jewishvirtuallibrary.org/the-uganda-proposal-1903 pada 4 November 2019.

Avnery, Uri. (2014). The Israel that could have been in Argentina. Diakses melalui laman https://www.redressonline.com/2014/05/the-israel-that-could-have-been-in-argentina/ pada 4 November 2019.

Rogan, E. (2016). The Fall of The Khilafah, terj. Fahmi Yamami. Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta.

Firman, Toni. (2017). Negara Israel Nyaris Didirikan di Uganda. Diakses melalui laman https://tirto.id/negara-israel-nyaris-didirikan-di-uganda-cvNj pada 4 November 2019.

Saifullah, Muhammad. (2010). Sebelum Palestina, Yahudi Incar Uganda dan Argentina. Diakses melalui laman https://news.okezone.com/read/2010/06/08/343/340738/sebelum-palestina-yahudi-incar-uganda-argentina pada 4 November 2019.

Schneer, J. (2010). The Balfour Declaration: the origins of the Arab-Israeli conflict. Bond Street Books.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *