BeritaInternasional

“Sudan Pasca Pemerintahan Bashir”

Oleh: Ridho Surya Perkasa (Mipa 2017)
Departemen Salam Palestina dan Internasional Center Salam UI 22

Pada 11 April 2019, pihak militer Sudan (DTM) mengumumkan pemecatan presiden Omar al-Bashir, setelah berbulan-bulan aksi protes rakyat terhadap kekuasaanya yang telah  berlangsung selama 30 tahun. Sejak saat itu, kekuasaan diambil alih oleh Dewan Transisi Militer (DTM) sampai saat ini. Akibatnya Asosiasi Pekerja Professional Sudan (SPA) beserta kelompok oposisi dan rakyat Sudan semakin gencar melakukan demo guna menuntut transisi pemerintahan dari pihak militer kepada pihak sipil. Hal ini tak kunjung terwujud karena tercapainya kesepaktan antara Dewan Transisi Militer (DTM) dengan oposisi Sudan yang menyetujui proses transisi pemerintahan akan dilaksanakan dalam waktu 3 Tahun. Sementara itu pihak SPA dan oposisi yang tidak menyetujui kesepakatan tersebut meminta transisi pemerintahan harus dilaksanakan dalam 15 hari semenjak mundurnya presiden Bashir. Demonstrasi semakin meningkat setelah banyaknya korban dari kalangan pendemo. Serta diplomasi ketua DTM dengan beberapa negara Arab pada KTT OKI di Mekkah. Diplomasi tersebut disinyalir oleh SPA akan semakin menguatkan posisi militer didalam pemerintahan Sudan.

Sehari sebelum demonstrasi ; Minggu, 2 Juni 2019, para demonstran membuat roadblock dari ban, pohon dan batu di daerah utara Khartoum pihak pemerintah menyiram gas air mata untuk membubarkan kerumunan. Besoknya, SPA menyerukan demonstarsi total menolak pemerintahan yang mengakibatkan lumpuhnya beberapa objek vital di Sudan. Mereka menutup jalan-jalan Protokol termasuk bandara internasional di Khartoum. Pasukan pemerintah di Khartoum terlibat dalam aksi penumpasan kekerasan sejak senin pagi pada pembububaran demonstran duduk diluar markas militer. Letnan Jendral Mohammed Hamdan Daglo, pemimpin RSF dan wakil ketua DMT mengatakan pasukan tak dikenal yang mengenakan seragam RSF yang bertanggung jawab atas kematian tersebut.

Setelah demonstrasi, kepala DTM Abdel Fattah al-Burhan mengajukan kepada SPA dan grup oposisi(yang demonstrasi)  bahwa proses transisi akan diadakan dalam 9 bulan, tetapi pihak kelompok oposisi menolak rencana tersebut. Asosiasi Pekerja Professional Sudan (SPA), yang telah melakukan penolakan semenjak rezim bashir,  mengatakan Demonstrasi akan di mulai dari Minggu sampai proses transisi pemerintahan diumumkan militer ditelevisi[1]. DTM memutus akses Internet, guna meredam akses informasi diantara para demonstran, di seluruh negara Sudan karena demonstrasi yang ekstalasinya meningkat secara drastis.

Pada 5 Juni 2019, Jumlah korban jiwa dari penyeranagan pada Senin mencapai 100 setelah ditemukan 40 mayat yang hanyut di Sungai Nil kata Komite Sentral Dokter. Terkait hal ini, Kepala DTM Abdel Fattah al-Burhan mengatakan akan menyelidiki kasus tersebut.

“Karena pemutusan akses internet dan tekanan kepada para dokter kami baru saja menerima informasi sejak Rabu(5 juni 2019) tentang jumlah mereka yang kehilangan nyawa. Jumlah korban tewas meningkat menjadi 113 orang, termasuk empat di port Sudan dan satu di Khartoum, karena peluru-peluru milisi Cancavit dan Dewan Militer Transisi.” Kata Komite Sentral Dokter dalam sebuah pernyataan. Namun Kementrian Kesehatan negara Sudan, mengatakan “jumlah mayat yang dikirim ke rumah sakit hanya 61 orang” Solaiman Abdul Jabbar, menurut kantor berita Sudan.[1]

Juru bicara DTM Shams El Din Kabbashi menyatakan pihak DTM akan mendengarkan permintaan kelompok oposisi yang demo dan mencoba melakukan negosiasi ulang.[2]

Disamping itu akibat pemutusan akses internet Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Khartoum menghimbau kepada WNI di Sudan agar meningkatkan kewaspadaan. KBRI telah memfasilitasi WIFI bagi WNI yang ingin berkomunikasi dengan keluarga di Indonesia. Serta KBRI telah menyediakan 2 rumah untuk tempat mengungsi WNI di Sudan. Keadaan Mahasiswa yang berada di Sudan mendapatkan oerlindungan dari asrama kampus. Bagi mahasiswa yang berada di luar kampuspun jauh dari daerah sasaran demonstran.

Referensi:

https://www.aljazeera.com/news/2019/06/sudan-police-fire-tear-gas-civil-disobedience-campaign-stars-190609084804785.htmlhttp://www.voa-islam.com/read/world-news/2019/06/07/64713/sudah-113-demonstran-tewas-oleh-tindakan-keras-militer-di-sudan/https://www.cnn.com/2019/06/05/africa/sudan-death-toll-intl/index.html

Footnote:

[1] http://www.voa-islam.com/read/world-news/2019/06/07/64713/sudah-113-demonstran-tewas-oleh-tindakan-keras-militer-di-sudan/

[2] https://www.cnn.com/2019/06/05/africa/sudan-death-toll-intl/index.html

[1] https://www.aljazeera.com/news/2019/06/sudan-police-fire-tear-gas-civil-disobedience-campaign-stars-190609084804785.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *