ArtikelOpiniSM Town

“Ramadhan Pertama Dan Terakhir Temanku”

Oleh : Sayekti Brotojoyo

“Anisa ayooo cepat sedikit, udah ditungguin sopir kamu itu di mobil.” Teriak Bella sambil membawa koper menuju keluar bandara.

Kenalin Bella , teman terbaikku disalah satu Universitas di Inggris. Kami sama-sama mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di Inggris. Meskipun Bella orang Kristen namun Bella tidak pernah membedakan pertemanan, justru Bella sangat baik dan seperti seorang Kakak bagiku. Bella asli orang Semarang, namun dari umur 2 tahun Bella sudah tinggal di Belanda karena harus ikut dengan Papah dan Mamahnya, namun beberapa bulan terakhir Papah dan Mamahnya meninggal karena mengalami kecelakaan, jadi liburan semester kali ini aku mengajaknya pulang ke Surabaya bersamaku, karena kebetulan sekali awal bulan Ramadhan jadi suasana rumah pasti lebih mengasikan.

“Nis, aku takut kalau Abi sama Ummi kamu gak suka sama aku, kan kita beda Nis. Apalagi keluarga kamu religious banget.”

“Astaghfirullah Bella, keluarga aku gak kayak gitu. Abi sama Ummi aku sangat menghargai orang lain.” Jelasku.

“Assalamu’alaikum, Abi Ummi, Anisa pulang.”

“Wa’alaikumsalam,” Jawab Abi dan Ummiku.

“Selamat siang Om, senang bertemu dengan Abi dan Umminya Anisa.”

“Selamat siang, ini pasti Bella temannya Annisa ya? Cantik sekali kamu.” Ucap Ummiku.

“Sudah, istirahat dulu kalian pasti lelah.” Ucap Abiku.

Setelah beberapa minggu berlalu, sudah setengah perjalanan ramadhan Bella bersamaku. Namun ada yang aneh dengan perilaku Bella, setiap sahur Bella selalu ikut bangun dan melihat suasana sahurku bersama Ummi dan Abiku, setiap shalat tarawih Bellapun selalu ikut denganku, namun hanya sampai di depan Masjid, setiap aku mengaji pun Bella selalu didekatku mendengarkan tilawahku terkadang sampai menetes air matanya. Tidak seperti biasanya, dulu saat di Inggris, Bella biasa saja saat melihatku beribadah.

“Nis, aku ingin seperti kamu” ucap Bella sambil memasang muka bersalah dan sedih.

“Seperti aku? Maksud kamu Bell? Tanyaku keheranan.

“Aku ingin ikut seperti kamu, sahur bersama, shalat bersama, mengaji setiap waktu seperti yang kamu lakukan. Aku ingin berada dalam naungan agamamu.” Jelasnya sambil memegang tangan dan menangis memelukku.

“Masya Allah Bella, ka…ka..kamu se..rius? tanyaku terbata-bata sambil menatap mata Bella.

“Aku gak bercanda Nis, aku serius ingin masuk agamamu. Agama Islam. Aku mohon Nis, bantu aku. Aku ingin mencari ketenangan yang selama ini gak ada dalam hidup aku. Aku merasa aman, nyaman dan tenang saat melihatmu keluargamu beribadah kepada Tuhanmu, entah kenapa aku ingin merasakan itu.

Setelah berjam-jam aku mendengarkan semua alasan Bella ingin masuk agama Islam dan sambil kujelaskan semua hal tentang islam. Keesokan harinya aku memberi tahu kepada Abiku, dan saat itu juga Abiku membimbing Bella mengucapkan dua kalimat syahadat saat itu pula Bella menjadi seorang mualaf dan saat itu pula Bella mengenakan hijab.

Waktupun berlalu begitu cepat, setiap hari aku bersama Bella selalu mengejar amal kebaikan, aku yang mengajarinya membaca Al-Quran, kami datang dari Masjid ke Masjid untuk mengikuti kajian Islam, kami selalu memberi sedikit rezeki untuk kaum dhuafa. Namun dalam beberapa waktu terakhir, aku begitu salut dengan sikap Bella, Bella tidak henti-hentinya memberikan bantuan kepada kaum dhuafa. Karena aku harus membantu Ummiku mempersiapkan lebaran nanti. Bellapun harus sendirian membawakan berbagai makanan dan berapa baju untuk kaum dhuafa.

Waktu sudah menunjukan pukul 18.05, waktu berbuka puasa sudah tiba, tidak seperti biasanya, sampai sekarang Bella belum juga pulang. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumahku dan memberi tahuku bahwa ada seorang perempuan yang tertabrak mobil demi menolong anak kecil, dengan kondisi kritis dibawa ke Rumah Sakit dan itu adalah Bella. Tanpa berpikir panjang aku pun menuju ke Rumah Sakit sendirian karena saat itu Abi dan Ummiku tidak ada di rumah.

Sesampainya di ruang ICU aku tidak bisa berkata-kata. Hanya air mata yang terus menerus mengucur deras.

“Ni..nii.ss, ja..nggan menangis. Aku gak apa-apa. Bukankah kata kamu segala sesuatu yang bernyawa pasti akan mati. Akan kembali kepada-Nya. Terima kasih Nis sudah mengajariku tentang Islam, tentang indahnya berbagi di bulan Ramadhan ini. Aku bersyukur sekali Allah masih memberiku waktu menuju ke jalan yang benar meskipun waktuku tidak lama. Sampaikan terima kasihku kepada Ummi dan Abimu Nis, aku sayang kalian.”

Seketika air mataku semakin deras, tidak sanggup kumelihat Bella sudah terbaring memejamkan mata dengan raut muka yang bahagia terlihat Husnul Khatimah kepergiannya. Kupeluk erat tubuhnya, Bella sahabat terbaikku yang merasakan Ramadhan pertama dan terakhirnya, sahabat yang Insya Allah akan bertemu kelak di JannahNya.

Tamat

BIODATA PENULIS

Nama saya Sayekti Brotojoyo, saya lahir di Pati 28 Maret 1999. Saya anak terakhir dari dua bersaudara. Saya tinggal di Pati namun saat ini sedang berada di Semarang untuk melanjutkan pendidikan S1. Hobi saya menulis, mengarang cerita dan mendengarkan hal-hal yang baru. Alamat email saya sayektibrotojoyo@gmail.com . Nomor Hp saya 085701703564. Saya rasa itu saja tentang diri saya. Terima kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *