Notula

“NOTULA NGOBAR MBAK SALMA : Siapkan Diri Selagi Menanti””

Klik tombol yang terletak di pojok kanan atas untuk memperbesar versi pdf.

Nama Kegiatan: Ngobrol Bareng Mbak Salma

Tema Kegiatan           : Siapkan Diri Selagi Menanti

Tanggal Kegiatan       : 31 Agustus 2019

Waktu Kegiatan          : 18.35 – 21.30 WIB

Teknis Kegiatan          : Online via WhatsApp

Pembicara Kegiatan     : Siti Zahrotul, S. Si.

A. Pernikahan

Pernikahan adalah topik yang selalu menarik untuk diperbincangkan terutama kalau sudah usianya. Kita jadi bertanya2 dibuatnya. Kira kira akan bagaimana pernikahan kita nanti. Atau mungkin ada yang bertanya tanya sama siapa ya? Sama yang bagaimana? Pertanyaan pertanyaan hati ini terkadang sering kali tanpa sadar menguji kita. Terutama di era media sosial. Gak jarang kita melihat atau bahkan diri sendiri memasang kode kode sedang galau terkait topik ini. Ada yang gamblang. Ada yang tersirat

Padahal, bicara pernikahan. Bukan hanya bicara tentang sisi romantismenya saja. Ada misi besar di sana. Ada amanah besar di sana.

Sebelum bicara lebih jauh sebenarnya apa sih definisi pernikahan dalam islam?

“Pernikahan merupakan ikatan yg sesuai aturan syariah yg kemudian ikatan dan aturan ini mengatur hubungan antara laki laki dan perempuan secara permanen dan terus menerus. Hubungan yang terbangun ini atas dasar suka rela secara penuh dari keduanya, dan sesuai hukum hukum terperinci secara syariat”.

Dalam islam ada aturan-aturan yang mengikat pernikahan tersebut. Setiap pihak bebas untuk berekspresi selama berada dalam batasan syariat. Aturan-aturan yang dibuat oleh islam adalah untuk menjaga manusia dari kerusakan. Allah yang menciptakan kita tentu lebih mengerti bagaimana sistem kerja dari makhluknya sehingga dibuatkan tatanan, termasuk tatanan keluarga. Hal ini yang mulai hilang, terkikis dari individu muslim yang kemudian menggoyahkan pondasi keluarga. Sekarang banyak menjangkit pemikiran bahwa bebas berarti bebas berlaku sesuka hati asalkan tidak merugikan orang lain. Padahal manusia diciptakan dengan seperangkat fasilitas yakni akal nurani dan jasad yang ketiganya ini seharusnya dipergunakan untuk membedakan antara manusia dengan binatang.

Ada seorang ulama dan pejuang Abdullah Nadeem (1845-1896M) yang berkata begini mengenai kebebasan :

“Jika dikatakan bahwa kebebasan mengharuskan seseorang tidak mengganggu orang lain dalam urusan pribadinya, kita mengatakan : sebenarnya ini kembali pada sifat kebinatangan dan keluar dari batas kemanusiaan. Adapun kebebasan yang sejati adalah adanya tuntutan atas hak dan berhenti pada batas yang ditetapkan.”

Sehingga begitu pula tatanan berkeluarga. Ada aturannya ada hak ada kewajiban ada batasan batasan yang tidak boleh dilanggar. Pernikahan sendiri dikatakan sebagai mitsaqan ghalizan perjanjian yang berat. Di balik perjanjian itu tentu menuntut konsekuensi bagi yang terlibat di dalamnya. Menariknya, tatanan keluarga dalam islam yang diikat oleh pernikahan itu sarat sekali akan saling memikul saling tolong menolong. Jadi keluarga muslim yang baik niscaya akan melahirkan manusia manusia yang kemudian tenteram jiwanya.

B. Hak dan kewajiban Bersama

  1. Kerja sama atas tanggung jawab pernikahan.

Saling memberi nasihat, saling percaya satu sama lain, melaksanakan tanggung jawab kehidupan pernikahan. Juga pengasuhan anak dan pendidikannya. Ada tanggung jawab yang sama antara ayah dan ibu dalam mengasuh anak.

  1. Saling memahami dan tidak saling bertentangan

Suami istri berupaya sekali untuk menemukan titik temu, bersikap positif dan mencari solusi jalan tengah yang memuaskan keduanya, menjauhkan diri dari sifat egois, keras kepala, provokatif, cemburu yang berlebihan dan senang merasa menang dari yang lain. Ketidakmampuan untuk saling memahami sering kali jadi hambatan terutama diusia awal awal pernikahan sehingga ga jarang keluarga muslim pun berakhir dengan perceraian.

  1. Saling menghormati

Bagi keduanya wajib untuk saling menghormati dan menghargai pihak lain merasakan kadar beban kehidupannya , dan saling membantu. Seorang suami yang pada dasarnya berenergi besar misalnya tidak meremehkan pekerjaan istri yang dianggapnya tidak melelahkan dan terlihat sepele. Seorang istri juga tidak menganggap hasil kerja keras suaminya kecil dan merasa bisa melakukan lebih baik dari suaminya. Suami istri wajib  untuk memperhatikan perasaan saling menghindari sesuatu yang menyakitkan harkat dan martabat keluarga. Pada poin harkat dan martabat keluarga.

  1. Komitmen terhadap Akhlak Islami
  2. Membina hubungan baik dengan orang lain, terutama para tetangga dan sanak saudara.

 C. Hak Istri Atas Suami

Islam mewajibkan kepada suami untuk memberikan nafkah dan mahar kepada istri serta menyediakan peralatan rumah tangga. Sedikitpun pihak istri tidak terbebani untuk memenuhi kebutuhan itu kecuali atas keinginannya sendiri. Melakukan interaksi baik dan santun seperti:

  1. Memperlakukannya dg lemah lembut, memperhatikan pola asuhnya. Misal sang istri terbiasa diasuh dengan lemah lembut maka sang suami memperhatikan dn menyesuaikan diri untuk menemukan cara membimbing yang pas dengannya. Penuh kasih sayang, sabar serta menghibur supaya hatinya gembira.
  2. Tidak melarangnya berkunjung ke rumah ortu atau sanak keluarga kecuali ada keadaan darurat dn syar’i yg mengharuskannya di rumah.
  3. Proporsional dalam kecemburuan tidak menyepelekan tidak berlebihan.

D. Nafkah

Walaupun istri memiliki harta sendiri ia berhak mendapat nafkah secukupnya seperti makanan, minuman, tempat tinggal, pakaian dan pengobatan sesuai dg kemampuan suami. Nafkah diberikan secara wajar dan seimbang.

E. Aktivitas di Luar Rumah

Pada dasarnya boleh namun ada rambu rambu yang diatur seperti

  1. Aktivitas yg diperbolehkan menurut syariat dan sejalah dengan kepentingan umum serta fitrahnya sbg perempuan.
  2. Mendapat ridho suami.
  3. Mendahulukan kemashlahatan anak2 dalam pendidikan dan pengasuhan

F. Hak Suami Atas Istri

  1. Ditaati dalam Hal yang Ma’ruf

Apa itu ma’ruf yakni perkara yang boleh menurut syariat dan tidak menimbukan mudharat atau merugikan orang lain.

  1. Tidak berlebihan dalam nafkah

Artinya seorang istri berhati hati dalam membelanjakan harta suami. Tidak boros atau mubazir. Tidak membelanjakan harta suami kecuali seizin suaminya

    3. Hak komitmen terhadap adab adab agama

Seperti istri memiliki sopan santun agama, berkomitmen memakai pakaian syar’i, tenang serta sederhana dalam perhiasan dn semua aktivitasnya.

  1. Seorang istri harus mengurus kebutuhan rumah tangga dan anak2 sesuai keinginan dan kesepakatan bersama suaminya. Hal ini menurut agama wajib dilakukan dengan menerapkan kasih sayang, cinta, dan kerja sama untuk menggapai kebahagiaan keduanya.

G. Persiapan Diri

Pandai merawat diri dan merawat rumah itu penting. Merawat diri dan tabarruj itu dua hal yg berbeda. Merawat diri itu untuk suami. Kalau tabarruj untuk non suami. Karena ada kasus perceraian karena istrinya gaya hidupnya terlalu jorok. Nah lagi. Gaya hidup ga bisa diubah secara instan. Harus dimulai sejak sekarang.

Sebelum menikah kita harus mempersiapkan mental. Kesiapan mental di sini adalah kesiapan untuk menerima kekurangan suami nanti. Manusia berubah. Awal pernikahan misalnya baik. Lalu Allah uji orang tersebut dan bisa saja berubah. Apakah kita akan siap?

Pada contoh yg ekstrim. Asiyah radhiyallahu’anha yang shalihah itu bersuamikan fir’aun. Tapi kemungkaran suaminya tidak mempengaruhi keimanannya. Saya tidak berkata lantas kita bisa menikah dengan siapa saja. Walaupun akhlaknya buruk. Tapi lebih kemanusia nya tau jodohnya itu yg bagaimana. Sehingga dia harus bersiap. Apakah pernikahannya akan banyak diuji dengan sabar atau pernikahannya banyak diuji dg syukur.. keduanya sama sama menambah keimanan bagi kita 🙂

Kesiapan mental bukan hanya berkenaan dengan suami. Kesiapan mental untuk memiliki anak. Kesiapan mental berbaur dengan keluarga besar. Kesiapan mental berbaur dengan mertua. Sehingga harus ada nih mental-mental yg dilatih. Misal berlatih berkomunikasi dengan yang lebih tua. Karena ada cerita nyata dimana dalam sebuah pernikahan engga tenang karena masalah mertua yg matre, memfitnah si istri dsb. Jadi begitu menikah masalah tidak selesai karena sudah menjawab “kapan nikah?” Karena pernikahan adalah awal tantangan baru 🙂

Lalu persiapan ruhiyah..

Momen-momen menanti ini justru momen terbaik yang sedang Allah berikan untuk kita. Karena masa masa menanti kita menjadi lebih dekat sama Allah. Memperbanyak ibadah. Memperbanyak musyawarah sama Allah.

Kebanyakan dari kita keburu khawatir dengan pernikahan. Sibuk dengan segala urusan yg bersifat materiil tapi lupa menikmati proses penantiannya. Kalau belum diberi jodoh artinya Allah kasih nikmat berusaha. Kalau sudah diberi jodoh artinya Allah kasih nikmat mengabdi..

Selain meminta nasihat dari manusia, selain banyak ikut seminar seminar untuk pernikahan. Yg paling utama jangan lupa meminta nasihat pada Allah lewat doa doa kita. Shalat kita. Serta meminta fatwa pada hati kita..

Di setiap step menuju pernikahan mulai dari bertemu dan mengenal calon jangan lupa untuk bertanya pada Allah melalui istikharah.. ini yg sering kali terlewat. Bahkan oleh yang melalui proses ta’aruf lebih sering dibingungkan oleh logikanya sendiri.. padahal Allah yg lebih tau tentang takdir terbaik kita.

Tujuan tujuan keluarga

  1. Berketurunan untuk memelihara eksistensi manusia.

Tujuan ini supaya manusia memakmurkan bumi dan menjamin kesinambungan generasi. Sehingga Allah menjadikan nafsu seksual itu sebagai fitrah pada setiap orang. Dengan fitrah itulah manusia tidak terancam oleh kepunahan. Sehingga nafsu seksual ini menjadi sarana natural bagi kelahiran yang disyariatkan bukan menjadi tujuan akhir.

  1. Mewujudkan Ketentraman, Cinta dan Kasih Sayang

Agar hubungan suami istri tidak hanya terbatas pada hubungan fisik semata, maka syariat islam telah mengingatkan pada kita bahwa salah satu tujuan dari ikatan pernikahan adalah terwujudnya suasana tenteram pada diri pasangan suami istri. Terwujudnya cinta dan kasih sayang di antara mereka berdua. Sehingga salah satu soft skill yang harus kita pelajari sebagai istri maupun calon istri adalah kemampuan kita untuk membawa ketenteraman dalam rumah dan hati keluarga kita. Dimulai dari menetramkan hati kita. Tidak berapi api padahal sedikit di singgung orang. Tidak senggol bacok, belajar untuk berlapang dada agar tidak mudah baperan atau sensi.. kita mengarahkan karakter kepekaan kita pada hal hal yang baik. Yakni menjadi peka apabila suami maupun anak-anak sedang kesulitan dan banyak pikiran. Kita peka apakah menghadirkan diri dengan bertanya. Atau memberikan ruang untuk mereka merenung dan memikirkan solusi.

Oleh karena itu syariat islam menjamin keamanan setiap anggota keluarga dengan kehidupan sosial yang damai penuh kebahagiaan. Panglimanya adalah cinta dan kasih sayang, tolong menolong baik dalam suka maupun duka serta terwujudnya rasa tenteram dan saling mempercayai. Untuk mewujudkan tujuan ini islam mengatur pola hubungan antara suami istri serta hukum lain. Agar suasana kekeluargaan penuh denfan rasa tenteram dan jiwa jiwa di dalamnya merasakan kebahagiaan. Islam mensyariatkan laki laki sebagai rijal, pemimpin keluarganya. Kemudian mengistimewakan perempuan melalui ketaatannya kepada suami. Bahkan menjadi syarat surganya seorang istri adalah taatnya kepada suami. Maka salah bila orang mengatakan perempuan taat berarti lemah. Karena untuk taat sejujurnya membutuhkan upaya yang besar, matangnya ilmu, serta kedewasaan. Sehingga perempuan yang taat adalah perempuan yang kuat mengendalikan dirinya dari godaan hawa nafsu. Taatnya seorang istri kepada suami tidak lantas mengkebiri potensi potensinya. Justru keluarga muslim yang baik adalah yang mampu mengeluarkan segala potensi baik dari anggota keluarganya. Karena dari yang menghadapi ujian hidup sendiri. Kini bersama sama saling bahu membahu, saling menopang ketika lemah, saling mengasihi ketika energi hendak habis.

  1. Pemeliharaan Nasab

Asal usul yang sah dan menjaga kesucian nasab dari campur baur nasab yang lain adalah tujuan tersendiri dari syariat islam. Sehingga untuk tujuan ini islam mengharamkan zina, adopsi anak, serta mensyariatkan hukum hukum khusus yang mengatur ‘iddah, tidak boleh menyembunyikan janin yang masih di dalam kandungan, islam mengatur penetapan nasab, dan berbagai hukum syariat lainnya.

  1. Pemeliharaan diri

Pernikahan secara sah akan mewujudkan iffah atau kesucian diri. Memberikan pemeliharaan diri dari dosa dan menjaga kehormatan serta menutup rapat pintu dan sarana penyimpangan seksual serta memberangus segala dampak kerusakan seks bebas dan kerusakan moral.

  1. Menjaga Nilai Nilai Religius dalam Keluarga

Keluarga adalah tempat bernaung bagi tiap individu bukan hanya menganyomi tubuh saja, yang lebih penting daripada itu adalah menanamkan nilai nilai agama, norma, dan etika di dalam jiwa individu tersebut. Tanggung jawab keluarga pada bagian ini dimulai bahkan dari sejak memilih pasangan terbaik. Dengan mengutamakan standar agama dan akhlak dalam melakukan pilihan tsb. Tanggung jawab ini kemudian brlangsung dengan mengajarkan akidah, ibadah dan akhlak bagi setiap anggota keluarga.  Dan melatih mereka untuk mengaplikasikannya ke dalam kehidupan sehari hari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *