Internasional

“Muslim Australia Dukung Seruan Boikot Haji”

Klik tombol yang terletak di pojok kanan atas untuk memperbesar versi pdf.

Versi Web

“Seruan Boikot Haji ini bermula ketika dibawah pimpinan Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman terjadi peristiwa serangan bom Arab Saudi kepada Yaman yang mengakibatkan korban jiwa. Menurut perkiraan PBB jika serangan ini berlanjut hingga 2020 maka akan menyebabkan sekitar 230.000 kematian di Yaman”.[1] Di akhir Bulan April tahun lalu, Sadiq al-Gharani (Ulama Sunni Muslim Libya) mengajak seluruh muslim untuk memboikot haji. Alasan seruan tersebut adalah karena  Pendapatan dari pemasukan haji termasuk pendapatan terbesar bagi Arab Saudi serta mendorong Arab Saudi dalam membeli dan memperkuat senjata serta serangan ke Yaman, Libya, Sudan,Tunisia, dan Aljazair.[2] Selain itu, Arab Saudi juga melakukan boikot kepada Qatar pada 2017 lalu, ulama Yusuf Al-Qaradawi mengatakan bahwa “Muslim yang memberi makan fakir miskin, merawat kaum yang sakit dan memberikan rumah bagi tuna wisma lebih disukai Allah daripada mereka yang menghabiskan uang untuk Haji setiap tahun”.[3]        
Dengan adanya seruan internasional tersebut, Muslim Australia menyatakan bergabung dalam seruan Boikot Haji.[4] Faraaz Rahman (Pembuat Film di Sidney) mengatakan bahwa “Pergi haji merupakan kontribusi secara finansial kepada rezim saudi yang saat ini melakukan kekejaman massal di Yaman terhadap sesama Muslim” selain itu dia mengatakan bahwa menunaikan ibadah haji di tahun ini tidak menunjukkan kepedulian moral. Dengan kata lain, melakukan haji di saat ini (tahun-tahun ini) termasuk upaya mendukung rezim yang melakukan kekerasan pada Yaman. Seruan ini merupakan teguran Internasional kepada Arab Saudi. Selain itu, seruan boikot haji juga menguat di media sosial dengan tagar #BoycottHajj di beberapa negara. Wakil Presiden Dewan Islam Victoria, Adel Salman memahami beberapa alasan muslim yang melakukan boikot haji namun menurut beberapa muslim lainnya, menjalankan ibadah haji adalah bentuk penyelesaian kewajiban agama dan memisahkan masalah politik dengan ibadah haji.[5]

Dalam hal ini, Salam UI memandang kembali hukum haji yakni wajib bagi yang mampu serta haji dilaksanakan di Arab Saudi. Terlebih lagi terdapat berbagai kondisi dan kebijakan negara-negara tentang haji. Salah satunya Indonesia, di mana untuk melakukan ibadah haji umat islam harus menunggu antrian selama beberapa tahun untuk mendapat kuota berangkat ibadah haji. Mungkin hal ini berbeda dengan kondisi negara lain yang tidak memiliki kebijakan kuota haji atau karena jumlah umat muslim di negara tersebut yang hendak berangkat haji kurang dari kuota, maka waktu untuk berangkat haji relatif cepat. Selain itu, Salam mengecam keras aksi Arab Saudi yang melakukan blokade dan penyerangan bom kepada Yaman karena merupakan Kejahatan Hak asasi manusia dan berharap agar PBB gencar dalam  eksekusi mekanisme perdamaian konflik tersebut.

[1]https://foreignpolicy.com/2019/07/02/mohammed-bin-salman-is-making-muslims-boycott-mecca-hajj-islam-pilgrimage-saudi-arabia/ diakses pada 31 Juli 2019 pukul 13.35

[2]https://www.sbs.com.au/news/australian-muslims-are-joining-international-calss-to-boycott-the-hajj diakses pada 31 Juli 2019 pukul 11.05

[3]https://foreignpolicy.com/2019/07/02/mohammed-bin-salman-is-making-muslims-boycott-mecca-hajj-islam-pilgrimage-saudi-arabia/ diakses pada 31 Juli 2019 pukul 13.35

[4]https://www.sbs.com.au/news/australian-muslims-are-joining-international-calss-to-boycott-the-hajj diakses pada 31 Juli 2019 pukul 11.05

[5]https://m.republika.co.id/amp/pvbz36328 diakses pada 31 Juli 2019 pukul 14.13

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *