ArtikelOpiniSM Town

“Keberanian Melawan Ketakutan”

Oleh: Mochamad Ichsan Prayudhi

            Bulan Ramadhan memang telah tiba saat ini. Inilah saat-saat yang ditunggu-tunggu oleh seluruh umat muslim di dunia. Semua umat muslim memang harus berpuasa dan melakukan ibadah lainnya untuk melawan hawa nafsunya. Hal tersebut seharusnya sudah kita ketahui pastinya. Ramadhan ini adalah Ramadhan pertama bagiku yang berada sangat jauh dari orang tua, sekitar 527 km jauhnya. Universitas Indonesia telah membuatku menjauh dari mereka, tetapi tidak apa-apa karena orangtuaku juga mengajariku hal yang baik sehingga aku bisa melawan hawa nafsuku sendiri.

            Tetapi bagiku bulan Ramadhan ini tidak hanya untuk memerangi hawa nafsu saja, tetapi juga memerangi sifat tertutup dalam diri. Adalah aku, Khofifah, yang sangat susah untuk berdamai dengan realita kalau dunia itu perlu keberanian. Aku terkurung dalam sifat introvertku sendiri entah kenapa, maka aku sangat susah untuk berkomunikasi dengan orang lain. Banyak orang yang bilang diriku taat beragama tetapi aku merasa sangat susah untuk menyampaikan kebenaran karena aku takut. Beberapa kali aku melihat sebuah ketidakadilan di depanku, tetapi aku tidak sanggup untuk mencegahnya karena aku takut. Iya memang benar, aku memang penakut.

            Kemarin, aku mendapati diri ini diam terhadap ketidaktaatan yang dilakukan orang lain. Aku melihat ada seseorang yang menginjak area suci masjid fakultasku dengan tidak melepas sepatunya untuk menuju area wudhu. Alhasil lantai keramik musholla menjadi sangat kotor oleh bercak-bercak tanah. Tetapi aku malah justru memilih diam dan tidak menegurnya. Aku langsung melanjutkan langkahku menuju tempat wudhu untuk persiapan shalat Zuhur tanpa ada rasa bersalah sama sekali.

            Tetapi setelah sholat Zuhur, aku menyaksikan sebuah sinetron yang biasa aku saksikan di televisi menjadi tampak nyata di hadapanku ini. Aku melihat bapak tua penjaga musholla dimarahi oleh salah satu pengunjung karena lantai terlihat kotor. Meskipun hanya dengan verbal, tetapi itu pasti menyakitkan bagi bapak tua itu. Padahal menurutku pengunjung musholla tersebut tidak berhak untuk memarahi bapak tua tersebut. Tetapi aku mengerti mengapa pengunjung tersebut memarahi bapak tua tersebut karena pengunjung tersebut ingin melihat musholla itu bersih. Tetapi tidak seperti itu juga cara menegurnya. Lagi-lagi aku tetap diam dan tidak mau menegur pengunjung tersebut.

            Karena kejadian tersebut aku mengalami sebuah pertentangan batin. Apakah aku akan terus menerus diam seperti ini? Apakah aku akan terus-menerus membiarkan ketidakbenaran terus terjadi di depanku? Khofifah, aku masih bingung dengan kebungkaman diri ini. Saat aku diam, justru orang lain yang akan menanggung kerugiannya. Aku merasa telah secara tidak langsung berdosa kepada orang lain bahkan aku sempat berfikir aku berbuat jahat kepada orang lain dengan sifat diamku ini. Kalau malaikat mencatat rasa diamku, sudah berapa kali dosa yang aku lakukan?

            Tiba-tiba aku teringat sebuah ayat Al-Qur’an yang berbunyi “Sampaikanlah kebenaran meski satu ayat.” Meski aku lupa ayat tersebut berada pada Surah apa atau ayat berapa, tetapi itu cukup menunjukkan kepada diriku bahwa aku tidak boleh diam saja. Aku mulai merasa bahwa aku harus memulai untuk melawan rasa takutku sendiri karena ketakutanku justru bisa merugikan orang lain. Aku juga harus melihat dampak sosial dari kebungkamanku terhadap suatu kebatilan. Jika kejahatan yang kecil saja aku tidak mampu untuk melawan, bagaimana dengan kejahatan besar?

            Esoknya aku harus menuju Stasiun Pasar Senen untuk mengurus tiket pulang kampung  mudik Lebaran kali ini. Akses menuju kesana cukup menggunakan KRL yang berangkat dari stasiun terdekat. KRL tidak terlalu penuh, tetapi tempat duduknya sudah penuh oleh orang-orang. Tetapi aku melihat seseorang pria tua buta yang kesusahan dalam berjalan. Dia menggunakan tongkat untuk menunjukkan jalan, tetapi semua tempat duduk sudah penuh. Aku merasa kasihan terhadap pria tua itu, tetapi aku masih merasa tidak berani menegur seseorang yang duduk di kursi prioritas lansia. Akhirnya secara setangah sadar aku menegur orang yang duduk di kursi prioritas, “Mbak, maaf bapak ini mau duduk di kursi yang mbak tempati.”

            “Ohh silakan pak, silakan duduk disini,” kata perempuan itu seraya mempersilakan bapak tersebut duduk.

            Tidak terasa bahwa setelah itu aku sampai di tujuan dan aku meninggalkan mereka tanpa bertegur sapa sama sekali. Tetapi aku sangat senang karena aku mulai berani berbicara dan menyampaikan kebenaran. Meski ini perbuatan kecil dan sepele, aku yakin itu dapat membuat diriku tergerak untuk menyuarakan kebenaran demi tersebarnya kebaikan. Ya, aku suka menebar kebaikan, salah satu contohnya adalah keberanian berbicara. Sekali lagi aku tenteram karena telah mengalahkan ketakutanku sendiri.

            Aku berharap dalam Ramadhan kali ini aku bisa melawan ketakutanku sendiri, tidak hanya melawan hawa nafsu saja. Aku juga berharap bisa menebar kebaikan-kebaikan lain yang tidak kalah manfaatnya.

Nama               : Mochamad Ichsan Prayudhi

Instansi            : Sosmas Salam UI 22

E-Mail             : mochamadichsan3@gmail.com

Nomor HP       : 08979812996

ID Line            : hasan0772

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.