SM Town

“Cahaya di Kala Itu”

Oleh : Febri Handayani

            Ardi berjalan dilorong fakultasnya sendirian, kelasnya sudah selesai. Disebuah kursi, Ardi menemukan seorang pemuda duduk sendirian dengan murung. Ardi pun menghampirinya dan menyapanya dengan ramah.

“Assalamu’alaikum, kenapa sendirian? Kenalkan aku Ardi” Tanya Ardi dengan senyum ramahnya

“Wa’alaikumussalam, hai Ardi, aku Ilham. Kurasa menyendiri disini menyenangkan” jawab Ilham

“Mau kuajak ketempat yang lebih menyenangkan? Gak jauh kok. Sambil nunggu buka puasa nih hehe” ajak Ardi. Ilham pun ikut bersama Ardi sambil terus berbincang sepanjang jalan.

            Mereka sampai dimasjid, tempat Ardi tinggal. Pak Ridwan tak terlihat melintas disana, hanya banyak anak-anak kecil berlalu lalang dengan tawa mereka. Ardi pun mengajak Ilham duduk disalah satu sudut pelataran masjid tersebut.

“Menyenangkan bukan? Mereka anak-anak yatim yang diurus oleh yayasan yang berada disamping masjid ini. Menurutku, melihat mereka tertawa bahagia semacam ini sangatlah menyenangkan” ujar Ardi

“Iya, kau benar. Dan bukankan memang sudah kewajiban kita sebagai Muslim untuk memuliakan anak yatim?” sahut Ilham

“Tepat sekali! Boleh ku bertanya, kenapa tadi kamu sendirian?” ujar Ardi

“Kau tau? Terkadang hidup itu melelahkan. Aku hanya ingin menyendiri. Dan kenapa kamu sepeduli itu?” Tanya Ilham

“Melihat orang sendirian itu bukan hal yang menyenangkan. Kenapa kamu tidak mencoba melakukan suatu hal yang lebih berguna dibandingkan menyendiri? Contohnya seperti bermain dengan anak-anak disana, menyiapkan takjil, atau yaa masih banyak lagi” jelas Ardi

 “Ingatlah bahwa Allah selalu bersamamu. Jika kamu butuh teman cerita, bisa cerita padaku. Atau mungkin kamu bisa main kesini untuk refreshing. Jangan terlalu membebankan pikiranmu, jalanilah dengan usaha maksimal. Dan berbuat baiklah kepada sesama, apalagi ini kan bulan Ramadhan. Jagalah dirimu dari amarah, bersedekahlah, muliakanlah anak yatim, rajin tadarus, dan masih banyak kebaikan yang bisa kamu lakukan dibanding hanya menyendiri, hehehe” lanjut Ardi

“Terima kasih Ardi. Aku akan mencoba saran-saranmu mulai hari ini” ujar Ilham dengan tersenyum tenang

“Apa kamu tertarik untuk menghafal Al Qur’an?” Tanya Ardi

“Kenapa kamu bertanya seperti itu?” jawab Ilham. Ardi pun memberikan sebuah Al Qur’an berukuran kecil yang cukup untuk dibawa sehari-hari.

“Ambil Al Qur’an ini untukmu. Anggap saja hadiah dariku hehehe. Bagaimana jika aku tantang bulan ini kamu selesaikan hafalan 1 juz?” ujar Ardi dengan senang

“Juz 30? Boleh saja” sahut Ilham sambil menerima pemberian Ardi dengan senang

“Akhir bulan ini, setelah kamu selesaikan hafalanmu, temuilah Pak Ridwan. Dan mengobrol dengannya” ujar Ardi. “Oke, bagaimana jika sekarang kita bantu menyiapkan takjil berbuka? Sepertinya orang-orang disana sudah mulai sibuk hehe”

“Oke. Ayo kita bantu” sahut Ilham dengan semangat bangkit membantu menyiapkan takjil.

            Bulan Ramadhan pun berjalan begitu cepat. Ilham melakukan semua saran dari Ardi. Anak-anak yatim dimasjid tersebut sudah mengenal Ilham dengan akrab. Ilham pun terus berusaha menyelesaikan tantangan dari Ardi untuk menyelesaikan hafalan juz 30.

            Sudah waktunya Ilham menemui Pak Ridwan karena sudah menyelesaikan hafalannya dengan baik. Ia pun pergi kemasjid tempat ia dan Ardi biasa kumpul.

“Assalamualaikum, pak. Bisakah saya bertemu pak Ridwan?” Tanya Ilham

“Wa’alaikumussalam, saya sendiri. Ada yang bisa saya bantu?” jawab pak Ridwan.

“Saya Ilham, pak. Awal bulan ini saya mendapat tantangan dari Ardi untuk menyelesaikan hafalan juz 30. Dan diminta menemui bapak jika saya sudah menyelesaikannya” jelas Ilham

“Kamu bertemu Ardi awal bulan ini?” seketika wajah pak Ridwan terlihat begitu kaget.

“Iya pak. Memangnya ada apa ya pak?” sahut Ilham

“Al Qur’an itu, kamu dapat dari Ardi juga?” Tanya pak Ridwan melihat Ilham membawa sebuah Al Qur’an ditangannya.

“Iya, pak. Benar”

“Baiklah, ayo kita mengobrol sebentar” ujar pak Ridwan dan mengajak Ilham menuju sebuah ruangan. Tepatnya itu adalah kamarnya Ardi.

“Disini, dulu tempat Ardi sering beristirahat setelah selesai kuliah. Dia tinggal disini, dia ingin menjaga dan memuliakan masjid ini. Yayasan yatim piatu disamping masjid ini, awalnya hanya rumah kosong tak terpakai yang akhirnya dijadikan yayasan oleh Ardi. Dia anak yang hebat, dan memiliki hati yang sangat baik.” Jelas pak Ridwan

“Ini kamarnya Ardi, pak? Lalu kenapa Ardi tidak ada? Apa Ardi sedang keluar?” Tanya Ilham bingung

Pak Ridwan terdiam dan menghela nafas panjang. “Sebenarnyaa.. Ardi sudah meninggal sekitar 1 tahun yang lalu. Tepat diakhir bulan Ramadhan tahun lalu” jelas pak Ridwan

“Hah? Tapi pak, saya bertemu dia belum lama” ujar Ilham terkejut

“Saya juga tidak paham kenapa ini terjadi. Mungkin ini cara Allah memberi petunjuk agar kamu tau tempat ini?” sahut pak Ridwan dengan senyum teduhnya

“Ardi mengubah saya menjadi lebih baik. Walau ternyata ini cukup mengejutkan untuk saya”

“Pertahankanlah semuanya. Dan semoga ini bisa menambah pahala Ardi di akhirat kelak”

Ilham pun kembali kerumahnya, ia masih terkejut dengan apa yang didengarnya. Tetapi ia tetap akan melanjutkan kebaikan yang diajarkan Ardi, dan baginya Ardi tetaplah teman terbaik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *