ArtikelOpiniSM Town

“Anak Kecil Penjual Koran”

Oleh : Christin Pasaribu

Keyla berjalan dengan tas usangnya yang berisi koran jualannya.

“Koran.”

“Koran.”

Keyla terus berjalan tidak peduli panasnya terik matahari membakar kulitnya, tenggorokannya yang kering atau perutnya yang lapar.

“Koran Bu?,” ucap Keyla menawari Ibu penjual warung di pinggir jalan namun ia malah mendapat tatapan tajam, sinis, dan menghina dari Ibu tersebut.

“Engga, pergi Sono nanti jualan Gue engga laku gara-gara Lo,” ucap Ibu tersebut lalu memakan roti jualannya sendiri padahal ini adalah bulan Ramadhan dan Ibu itu adalah seorang muslim.

“Ibu tidak puasa?,” tanya Keyla lembut.

“Engga, memang kenapa kalau Gue Engga puasa? Lo mau apa?,” tantang Ibu itu.

“Bu ini adalah bulan penuh berkah seharusnya Ibu sebagai seorang mus….

“Berisik Lo sudah sana pergi.”

“Permisi Bu,” ucap Keyla lalu kembali menjual korannya namun langkahnya terhenti saat tangan besar menahan tangan kecilnya.

“Setoran,” ucap preman yang menarik tangannya membuat Keyla ketakutan dan berusaha lepas.

“Saya belum dapat uang bang,” ucap Keyla dengan mata berkaca-kaca namun preman tersebut tidak terpengaruh dan langsung mengambil tas usang Keyla lalu mengambil uang Keyla tidak peduli koran jualan Keyla jatuh berhamburan di tanah.

“Bang jangan di ambil uangnya itu buat buka puasa saya dan Ibu,” teriak Keyla saat preman itu meninggalkannya dengan membawa uang hasil jualan korannya.

Keyla lalu membereskan kembali korannya berharap ada yang membeli kembali korannya namun sayang tidak ada yang membeli korannya.

Suara Adzan berkumandang namun Keyla belum pulang dan duduk di pinggir jalan sambil memeluk perutnya yang kelaparan.

“Jambret.”

“Jambret.”

Keyla menoleh ke arah kanan saat mendengar suara teriakan seorang wanita dan Keyla melihat seorang wanita berusaha mengejar jambret membuat Keyla langsung mencari alat untuk membantu Ibu tersebut.

Keyla mengambil kayu di dekatnya dan memukul jambret tersebut dengan kayu saat jambret tersebut sudah berada di dekatnya.

Keyla lalu mengambil tas wanita tersebut namun jambret tersebut mendorongnya hingga keningnya berdarah.

“Tolong jambret tolong,” teriak wanita tersebut tidak lama kemudian datang warga membawa jambret tersebut dan mengangkat anak perempuan tersebut ke dalam mobilnya.

>>>>….<<<<

“Nama kamu siapa sayang?,” tanya Dera, wanita yang tadi di jambret.

“Keyla tante,” jawab Keyla tersenyum.

“Orang tua Keyla ke mana? Kok Keyla di jalanan sendirian?,” tanya Dera menatap lembut Keyla.

“Keyla anak yatim piatu tante, orang tua Keyla meninggal karena kecelakaan mobil saat Keyla berusia 5 tahun,” jelas Keyla membuat Dera merasa kasihan pada anak perempuan tersebut.

“Keyla mau tidak tante dan suami tante adopsi jadi anak tiri tante soalnya tante dan suami tante tidak bisa mempunyai anak?,” tanya Dera mengelus rambut halus Keyla dengan lembut.

“Tapi tante Keyla hanya penjual koran keliling.”

“Engga apa-apa karena tante mulai menyukai kamu dan ingin kamu menjadi anak tante, jadi kamu mau tidak jadi anak tante?.”

Keyla mengangguk sambil tersenyum membuat Dera memeluknya dengan erat dan penuh cinta.

“Mulai sekarang jangan panggil tante tapi bunda.”

>>>>….<<<<

Doni, Dera, dan Keyla membagikan nasi kotak kepada anak yatim piatu di panti asuhan.

Keyla tersenyum karena cita-citanya selama ini terkabul yaitu berbagi kepada anak yatim piatu dan kurang mampu di bulan Ramadhan.

“Anak-anak yang saya cinta, kami keluarga Dewantara meminta doanya untuk keluarga kecil kami agar keluarga kami selalu diberkahi oleh sang pencipta dan selalu di lindungi dalam perlindungan sang pencipta,” ucap Doni sambil menggendong putrinya, Keyla.

“Amin,” ucap anak-anak panti lalu mereka berdoa bersama dan yang terakhir anak panti berbaris lalu Dera dan Doni memberi santunan kepada setiap anak yatim piatu.

“Terima kasih Bu, Pa, dan adik Keyla sudah memberi santunan kepada anak yatim piatu di sini,” ucap Ibu panti tersenyum.

“Iya Bu sama-sama lagi pula kami hanya ingin memberi apa yang seharusnya di dapat anak yatim piatu.”

>>>>….<<<<

Keyla diam duduk di depan pos satpam sekolahnya, Keyla habis pulang sekolah dan Ia sedang menunggu bundanya menjemputnya pulang.

“Na minta sedekahnya Na, Nenek belum makan dari tiga hari yang lalu,” ucap Nenek meminta sumbangan pada Keyla.

Keyla menatap kasihan Nenek tersebut lalu mengambil uang di saku seragamnya dan memberikan semuanya pada nenek tersebut membuat senyum terbit di wajah keriput nenek tersebut.

“Maka sih Na semoga kamu menjadi anak yang berbakti pada kedua orang tuanya dan menjadi anak yang berguna bagi bangsa dan negara ini,” doa sang nenek membuat Keyla tersenyum.

“Amin, Keyla pulang dulu ya Nek,” ucap Keyla lalu berjalan ke arah Dera yang sedang menatapnya berdiri di depan mobil.

“Anak bunda baik banget sih, bunda sayang banget sama Keyla.”

“Keyla juga sayang banget sama bunda.”

Biodata:

Nama: Christin Pasaribu

Alamat: Perum Permata Rajeg Blok D2 no 14, kab. Tangerang, kec. Rajeg, Banten, Indonesia.

No Hp+Wa: 082125965796

Alamat Email: christinpasaribu123@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *