BeritaInternasional

“Represi Pemerintah Beijing terhadap Muslim Xinjiang”

Oleh: Farah Anindya Maharani (Deputi SPICE Salam UI 21)

Etnis Uighur (atau Uyghur), adalah etnis keturunan Turki yang merupakan 45% dari populasi Provinsi Xinjiang, Cina. Jika dibandingkan dengan etnis Han yang merupakan mayoritas penduduk di Cina, etnis Uighur memiliki perbedaan yang cukup mencolok, antara lain bahasa, budaya, dan agama yang berbeda. Kebanyakan dari etnis Uighur Cina memeluk agama Islam, dan sejak tahun 2017, Muslim Uighur Cina menjadi objek dari program pengawasan ‘anti-terorisme’ besar-besaran yang dilakukan oleh pemerintah Cina.

Etnis Uighur, karena perbedaannya yang sangat jelas secara budaya dan agama dengan etnis Hui dan Han, sudah mengalami gesekan dengan pemerintah Cina selama berpuluh-puluh tahun. Setelah tragedi 11 September di Amerika Serikat, pemerintah Cina mulai aktif mempromosikan gerakan nasional melawan tiga ‘kekuatan jahat’, yaitu separatisme, ekstremisme dan terorisme, yang menjadi dasar dimulainya program pengamanan intensif di Xinjiang oleh Chen Quanguo, pemimpin Partai Komunis Cina di daerah Xinjiang. Pengawasan difokuskan pada etnis Uighur karena etnis Uighur dianggap sebagai kelompok yang paling rawan terpengaruh oleh radikalisasi, terutama oleh kelompok-kelompok ekstremis Islam. Meskipun pemerintah mengatakan bahwa program pengawasan intensif ini hanya bertujuan untuk melawan radikalisme, banyak dari hal-hal yang dianggap ilegal oleh pemerintah Cina justru merupakan praktek ibadah yang sangat dasar bagi pemeluk agama Islam. Beberapa waktu terakhir, jumlah peraturan-peraturan negara di Xinjiang yang berkenaan dengan ‘aktivitas ibadah yang legal dan tidak’ semakin meningkat, dengan contohnya antara lain adalah pembelajaran mengenai Islam dan pembacaan Qur’an hanya diperbolehkan di masjid serta tidak boleh ada warga di bawah umur 18 tahun yang pergi ke masjid. Warga di bawah umur 18 tahun juga harus dipastikan tidak mempelajari Islam di rumah atau sekolah. Pemerintah Cina juga menerbitkan panduan-panduan tentang hal-hal yang dianggap menunjukkan ‘kecenderungan ekstremis’, seperti mengenakan jilbab, memiliki janggut, mengenakan pakaian dengan lambang bulan dan bintang, bahkan menamai anak dengan nama-nama Islam. Kegiatan keagamaan hanya boleh dilakukan di masjid dan kegiatan keagamaan yang dilakukan di tempat lain dianggap sebagai ‘kegiatan keagamaan ilegal’.

Cara-cara yang dilakukan untuk mengawasi etnis Uighur terutama di Xinjiang adalah dengan cara mengumpulkan data DNA etnis Uighur saat pemeriksaan medis, pemerintah daerah Xinjiang harus memasang GPS di setiap kendaraan, pemasangan aplikasi pengawas yang dikelola pemerintah di telepon seluler warga Provinsi Xinjiang, juga pemasangan QR code berisi nomor identitas etnis Uighur di rumah dan pisau dapur mereka. Jika etnis Uighur dianggap melanggar peraturan yang ditetapkan oleh pemerintah atau dianggap mencurigakan oleh pemerintah, yang bersangkutan dapat ditangkap tanpa pemberitahuan terlebih dahulu dan ditempatkan dalam kamp-kamp ‘reedukasi’, di mana etnis Uighur menerima edukasi dari pemerintah Cina tentang nilai-nilai nasionalisme Cina dan mengurangi implementasi nilai-nilai Islam dalam kehidupan masyarakat Uighur karena dianggap rawan radikalisme. Saat ini, sekitar 1 sampai 3 juta etnis Uighur sedang ditahan di dalam kamp-kamp reedukasi di Xinjiang.

Pihak pemerintah Cina sudah menyatakan beberapa pembelaan terkait kasus etnis Muslim Uighur. Li Xiaojun, mewakili pemerintah Cina dari Biro Urusan Hak Asasi Manusia, Kantor Informasi Dewan Negara, menyatakan bahwa kamp-kamp reedukasi memberikan pelatihan vokasional bagi etnis Uighur, dan bahwa kamp-kamp reedukasi memiliki maksud menghilangkan paham radikalisme yang dapat mempengaruhi etnis Uighur. Pemerintah Cina juga menyebut kamp-kamp reedukasi sebagai ‘rumah sakit’ untuk ‘menyembuhkan penyakit ideologis’. Meski begitu, bekas tahanan kamp reedukasi telah melaporkan tidak adanya pelatihan pekerjaan dan kondisi di kamp reedukasi yang tidak manusiawi, bahkan muncul juga laporan penyiksaan dan kematian yang terjadi di kamp-kamp reedukasi.

Pengawasan besar-besaran terhadap etnis Uighur tidak hanya mempengaruhi komunitas Uighur yang berada di Xinjiang, meski aturan paling ketat tentang kegiatan keagamaan masih berpusat di Xinjiang. Etnis Uighur di seluruh Cina dapat dimasukkan ke dalam kamp-kamp reedukasi jika dianggap mencurigakan, dan etnis Uighur yang didapati mengontak keluarga atau kerabat di luar negeri juga dapat diperiksa dan ditangkap oleh pemerintah Cina. Pemerintah Cina juga tidak memperbolehkan jurnalis internasional masuk ke Xinjiang dan mengawasi dengan ketat orang asing yang masuk ke Xinjiang. Gene A. Bunin, jurnalis yang menulis untuk The Guardian, melaporkan bahwa dalam perjalanannya meliput kehidupan pemilik restoran beretnis Uighur di Cina, ia masuk ke dalam blacklist hotel-hotel di Xinjiang dan mendapat peringatan dari aparat kepolisian.

Perlakuan yang diterima etnis Uighur di Xinjiang dapat menjadi sebuah peringatan bagi dunia internasional untuk meninjau kembali peraturan-peraturan dan langkah-langkah yang diambil untuk mengatasi radikalisme. Terorisme dan tindakan radikal yang mengatasnamakan agama merupakan masalah serius yang sedang dihadapi seluruh dunia, namun dalam proses penanggulangannya, pihak berwajib yang bersangkutan harus dapat menentukan standar ‘radikal’ yang tidak diskriminatif terhadap sebuah kelompok tertentu. Jangan sampai keinginan untuk mengatasi radikalisme dengan alasan agama menyebabkan pemeluk agama tidak bisa melakukan praktek-praktek dasar yang terdapat dalam ajaran agamanya, apalagi menerima perlakuan tidak manusiawi.

Editor  : Juan Antonio Cedric (Kepala Departemen Salam Palestine and International Centre Salam UI 21)

Kajian ini disusun oleh SPICE (Salam Palestine and International Center).

Sumber:

  1. Ildikó Bellér-Hann (2007). Situating the Uyghurs between China and Central Asia. Ashgate Publishing, Ltd. hal. 32.
  2. China Uighurs: One million held in political camps, UN told. (2018, 10 Agustus). Diakses 13 September 2018, dari https://www.bbc.com/news/world-asia-china-45147972.
  3. Millward, J. A. (2018, 03 Februari). What It’s Like to Live in a Surveillance State. Diakses 13 September 2018, dari https://www.nytimes.com/2018/02/03/opinion/sunday/china-surveillance-state-uighurs.html.
  4. Uighur, G. (2018, 12 September). ‘I’m a Uyghur Muslim who fled China’s brutal crackdown against my community – it’s time the world showed us some support’. Diakses 13 September, 2018, dari https://www.independent.co.uk/voices/china-uyghur-muslim-rules-laws-treatment-chinese-human-rights-religion-a8534161.html.
  5. Kuo, L. (2018, 14 September). China claims Muslim internment camps provide professional training. Diakses 14 September, 2018, dari https://www.theguardian.com/world/2018/sep/14/china-claims-muslim-internment-camps-provide-professional-training.
  6. Samuel, S. (2018, 04 September). China Is Treating Islam Like a Mental Illness. Diakses 14 September, 2018, dari https://www.theatlantic.com/international/archive/2018/08/china-pathologizing-uighur-muslims-mental-illness/568525/.
  7. Nebehay, S. (2018, 14 Agustus). China rejects allegations of detaining million Uighurs in camps in… Diakses 14 September, 2018, dari https://uk.reuters.com/article/uk-china-rights-un-uighurs/china-rejects-allegations-of-detaining-million-uighurs-in-camps-in-xinjiang-idUKKBN1KY0ZB.
  8. Bunin, G. A. (2018, 07 Agustus). ‘We’re a people destroyed’: Why Uighur Muslims across China are living in fear. Diakses 15 September, 2018, dari https://www.theguardian.com/news/2018/aug/07/why-uighur-muslims-across-china-are-living-in-fear.

Dokumen dapat diunduh di bawah ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *