KOPI Ramadhan

“Ramadhan, dont go!”

Oleh: Heri Kurnia Andika
(Ketua Majelis Syuro SALAM UI 21)

Alhamdulillah, sudah sampai kita pada detik-detik terakhir dalam Ramadhan penuh berkah ini. Antara gembira dan sedih, gembira karena sebentar lagi menemui kemenangan di ujung Ramadhan dan sedih karena sahabat yang menemani ibadah akan pergi meninggalkan kita. Dan setidaknya ada 3 kebiasan rutin warga Indonesia di media sosialnya masing-masing ketika Ramadhan akan berakhir:

  1. Posting perjalanan mudik
    “semoga perjalanan aman”
    “fii amanillah ya! Salam buat keluarga”
    “mohon do’anya guys mau mudik” trus fotonya di pesawat mau take-off padahal bahaya
  2. Pengalaman itikaf di masjid. Entah quote dari penceramahnya. Entah wefie bareng teman itikafnya. Sampai fotoin halaman Al-qur’an atau kubah masjid dari dalam plus quote semangat mengejar targetan tilawah
  3. Yang paling banyak nih, tulisan puitis ala-ala tentang Ramadhan yang akan pergi
    “oh… andaikan ini Ramadhan terakhirku”
    “betapa beratnya hati ini setiap berbuka di penghujung Ramadhan…” yaelah buka mah buka aja
    “lebih baik ditinggal mantan daripada ditinggal ramadhan” kaya punya mantan ae
    Ditambah emot-emot nangis dan sedih ala-ala

Tapi guysfillah, suka tidak suka, mau tidak mau, Ramadhan akan meninggalkan kita. Seperti halnya 11 bulan yang lain.

Kalau mengutip kata Johny Deep “the problem is not the problem, the problem is your attititude to the problem”. Masalah itu bukan masalah, yang menjadi masalah adalah bagaimana cara kita menyikapi masalah tersebut.

Dalam kasus ini adalah kepergian Ramadhan. Ramadhan akan pergi bukan itu masalahnya, tapi Bagaimana sikap kita terhadap kepergian tersebut? Sedih? Haru? Menghabiskan waktu mikirin caption tentang kepergian Ramadhan? Atau bersyukur atas nikmat yang Allah berikan karna diberi kesempatan bertemu dengan Ramadhan tahun ini dan pengharapan untuk bisa berjumpa kembali?

Suatu Ramadhan saya pernah melihat teman-teman saya berantem. Ga berantem juga sih Cuma berdebat aja. Membahas peratanyaan sederhana: Ramadhan itu ajang kita latihan atau justru disaat itulah kita berperang?

ada yang berpendapat Ramadhan itu ajang latihan

yaiyalah her, Allah kasih kita sebegini nikmatnya Ramadhan. Setan dibelenggu, pahala yang berlipat- ganda, belum lagi lailatul qadr. Allah pasti membuat kita terlatih menghadapi 11 bulan kedepan yang menjadi ajang perang kita”

Lalu satu lagi membantah

“kaga cuy, justru latihan kita di 11 bulan kemarin. Dan di Ramadhan inilah perangnya, Allah kasih banyak bonus untuk menguji kita seberapa kuat kita memaksimalkan amalan di bulan Ramadhan. kan setan dibelenggu biar keliatan ‘ini lo kelakuan lo yang sebenarnya’ gitu”

Trus dibantah lagi

Dan lagi

Saya? Saya mah santai-santai aja #azeek. Terlepas perspektif kalian tentang perang atau latihan. Ramadhan sejatinya sangat mengubah dan meningkatkan kebiasaan kita dalam beribadah. Wajar karna banyak ‘bonus’ yang Allah tempatkan selama bulan Ramadhan. Yang mungkin Cuma ½ juz sehari bisa punya targetan 1 bahkan 2 juz sehari. Yang mungkin jarang terbangun shalat tahajud, karna dibangunkan sahur rasanya kurang Afdhal kalau belum tahajud. Dan lain sebagainya

Jadi, kalau kembali mengutip kata Johny Deep tadi maka masalah dari kepergian Ramadhan adalah “semua ibadah yang sudah menigkat tadi akan jadi apa pasca Ramadhan?”

Mari kita lihat!

Biasanya shalat yang dilafazkan bacaannya kan ada 3: shubuh, magrib, isya. Tapi di Ramadhan, nambah 2 shalat lagi. Yakni Tarawih dan witir. Apa istimewanya? Tentunya kita akan sering mendengar imam-imam yang membaca surat-surat yang lebih bervariasi.

Tapi hei! Apakah dari salah satu surat yang dibaca itu adalah surat yang pernah kamu hafal? Kalau iya, selamat! Kamu mendapatkan sarana murajaah gratis setiap harinya. Tapi apakah kamu lancar mengikuti lantunan imam tersebut? kalau kamu malah terbata-bata, ayo jadikan itu sebagai motivasimu untuk kembali menambah hafalan dan memurajaah hafalan-hafalan yang telah kamu punya

Dan inilah salah satu kenikmatan bulan Ramadhan. Bulan Al-qur’an. Dimana berbagai targetan tilawah, memahami tafsir, hingga hafalan meningkat. Well, bulan Al-Qur’an ini akan pergi tapi bukan berarti kita hanya menjadikan Ramadhan sebagai bulan Al-qur’an bukan? Jadikanlah setiap detik dan harimu selalu bisa berinteraksi dengan Al-qur’an.

عَنْ عُثْمَانَ – رضى الله عنه- عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ «خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ» رواه البخاري

Artinya: “Ustman bin Affan radhiyallahu ‘anhu berkata: “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar al-Quran dan mengajarkannya.” Hadits riwayat Bukhari.

Salah satu teman saya pernah cerita di pertengahan bulan Ramadhan

“selama ramadan gua bisa hemat makan diwarteg her! Dan gua gaperlu ikut program diet khusus buat ngurusin badan”

Lalu ia kembali bercerita sekitar hari ke 5 lebaran

“yaAllah her.. kemarin sih dapat THR mayan gede. Tapi langsung ludes sekarang gua belanjain entah makanan entah pakaian dan lain-lain. Gua juga ga berani liat timbangan badan sekarang.”

Hahahaha… adakah teman kalian yang seperti itu?
sejatinya Ramadhan bukan hanya menahan lapar dan haus sepertihalnya kita merasakan bagaimana rasanya para fakir miskin setiap harinya. Tapi Ramadhan membuat kita untuk menahan hawa nafsu dan kembali mencari ridha-Nya disetiap aktivitas yang kita miliki.

Bagus jika kita bisa melewati laparnya dan hausnya selama 1 bulan penuh. Namun jangan lupa bahwa lapar dan haus itu hanya contoh sederhana dari melawan hawa nafsu lainnya. Entah nafsu akan menerima suap mungkin? Nafsu dengan lawan jenis lain? Dan kalau Puasa-menahan-lapar-haus kita sudah benar dalam artian mencari Ridho-Nya. Maka InsyaaAllah Ramadhan tidak akan kawatir meninggalkan kita berjumpa 11 bulan lainnya.

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ

Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath Thobroniy dalam Al Kabir dan sanadnya tidak mengapa. Syaikh Al Albani dalam Shohih At Targib wa At Tarhib no. 1084 mengatakan bahwa hadits ini shohih ligoirihi –yaitu shohih dilihat dari jalur lainnya).

Salah satu kakak kelas saya pernah berkata:
“Ramadhan adalah momen yang sangat baik bagi kita untuk menjalin 5 networking yang telah terputus dan membangun 5 networking baru untuk kedepannya”

ya! Itu ide yang briliiant. Saya langsung teringat dengan kebiasaan buka bersama, bagi-bagi ta’jil bareng, atau I’tikaf bareng yang sering dilakukan warga Indonesia. Maksudnya, itu bukan hanya sekadar mencari teman berbuka karna mungkin merasa kesepian terus di kosan. Tapi juga sarana kita menjalin kembali silaturahim dengan kawan-kawan lama atau justru membangun silaturahim.

Namun sayang jika kita mendefinisikan momen tersebut Cuma sebatas untuk rutinitas, ga-zamannow-kalau-ga-bukber, sebatas target bisa instastory sambil caption “7 years and still counting”. Padahal berapa kolaborasi kebaikan yang bisa kita ciptakan setelah bertahun-tahun tidak berjumpa? Siapa tau teman-teman kita dulu telah menjadi seseorang yang keren dan kita bisa bersama-sama membuat proyek kebaikan bersama

Ok, kalau misalnya kemarin skip untuk memikirkan hal itu. Tapi jangan lupa bahwa momen silaturahim itu bukan hanya ketika bukber. Bangunlah kembali jaringan-jaringan tersebut pasca Ramadhan. hubungi mereka lagi, Tanya kesibukan dan kabar mereka, dan bangunlah kolaborasi kebaikan bersama mereka.

Lagi-lagi, Ramadan insyaaAllah tidak akan kawatir meninggalkanmu

وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

dan ingatlah akan nikmat Allah Azza wa Jallaepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu karena nikmat Allah, menjadilah kamu orang yang bersaudara.[Ali Imrân/3:103]

Terakhir, di dunia islam hanya mengenal 2 hari raya. Yakni Idul Fitri dan idul adha. Sisanya adalah hari peringatan. Tidak ada namanya merayakan maulid nabi, yang ada memperingati maulid nabi. Tidak ada yang namanya merayakan isra’ mi’raj, yang ada memperingati is’ra mi’raj dan sebagainya. Oleh karna itu ikhwah fillah, mari kita maksimalkan detik-detik ramadan ini dengan seksama. Bersyukurlah Allah masih memberi kita kesempatan untuk berjumpa dengan Ramadhan. dan mari kita sama-sama berdo’a semoga Allah masih memberi kita izin untuk tahun-tahun selanjutnya dan berharap akan semakin lebih baik. Aamiin..

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَب، وَشَعْبَانَ، وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

“Ya Allah, berkahi kami di bulan Rajab dan Sya’ban serta sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan.” (HR. Ahmad)

 “Celebrate what you want to see more of”
-Tom Peters

p.s celebrate Ramadan-Idul Fitri nya dengan ibadah ya maksudnya hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *