InternasionalNotulaPalestina

“Notula: Kajian Islam Internasional 70 Tahun Konflik Israel-Palestina”

Selasa, 17 April 2018

Pembicara:
1. Agung Nurwijoyo
(Dosen Prodi Hubungan Internasional, Universitas Indonesia)
2. Muhammad Zulifan (Dosen Prodi Sastra Arab, Universitas Indonesia, dan peneliti untuk Pusat Kajian Timur Tengah dan Islam, Universitas Indonesia)

Moderator: Faqih Hindami

TOPIK 1: Efek konflik Israel-Palestina pada negara-negara sekitar

(Muhammad Zulifan)

  • Dunia Arab memiliki opini yang sama mengenai masalah Israel-Palestina, contohnya saat negara-negara Arab bereaksi negatif pada pernyataan Trump tentang memindahkan ibukota Israel ke Yerusalem. Kesatuan pendapat negara-negara Arab mengenai dukungan pada Palestina yang bebas tidak bisa diganggu-gugat bahkan walaupun KSA dianggap memilikihubungan erat dengan AS.
  • Indonesia telah secara jelas meyatakan dukungan pada koeksistensi (dua negara dalam satu wilayah). Indonesia sejauh ini tidak mengadakan hubungan diplomatis dengan Israel karena Israel melakukan pendudukan pada daerah Palestina dan Indonesia telah menyatakan dengan jelas dalam konstitusinya bahwa Indonesia melawan penjajahan dan pendudukan.
  • KSA memposisikan dirinya sebagai pemimpin dunia Sunni, namun KSA juga tidak dapat menjauhkan dirinya dari sejarahnya dengan Barat, terutama dengan AS, yang dapat dirunut kembali sampai pada masa Perang Dunia II, di mana terjadi kerjasama antara KSA dan AS.

(Agung Nurwijoyo)

  • Palestina memiliki tempat yang spesial dalam dunia Arab. Hal ini dapat dilihat dari reaksi keras yang diberikan dunia Arab ketika ada insiden yang terjadi di tanah Palestina—contohnya pembentukan OKI (Organisasi Kerjasam Islam) setelah kebakaran di Al-Aqsa yang dipicu oleh Dennis Rohan.
  • Pembicara memiliki pandangan yang lebih pesimis terhadap sikap Muhammad bin Salman yang sejak penunjukkannya telah mendorong bertumbuhnya hubungan antara KSA dan AS. AS, karena posisinya sebagai negosiator di dalam konflik Israel-Palestina, seharusnya bersikap netral dan negara-negara yang ingin terlibat dalam proses konflik Israel-Palestina tidak boleh membangun hubungan dengan negosiator konflik.
  • Pendirian AS yang tidak netral dapat menyebabkan penunjukan negosiator baru, namun Indoensia tidak dapat bertindak sebagai negosiator konflik dikarenakan Indonesia memiliki pendirian yang sangat jelas mengenai penjajahan dan mendukung berdirinya Palestina yang merdeka.

TOPIK 2: Hubungan antara AS dan Israel

(Agung Nurwijoyo)

  • Pernyataan Trump mengenai Yerusalem adalah sebuah cara untuk masuk ke dalam timur Tengah dan ikut andil dalam perebutan pengaruh di Timur Tengah.
  • Ada tekanan internal di AS yang mendorong Trump mengeluarkan pernyataan tentang Yerusalem. Masyarakat Yahudi AS tidak mendukung Trump sebelum pemilihan Presiden, sementara lobby Yahudi terkenal sangat kuat dan berpengaruh di Senat AS. Mayoritas masyarakat Yahudi AS pada saat itu mendukung Hillary Clinton sebelum pemilu. Karena inilah Trump meletakkan Mike Pence dan Jared Kushner, dua orang dengan keturunan Yahudi, dalam posisi yang penting di pemerintahan. Kushner juga sempat dikirim ke Timur Jauh..

Q&A #1: “Apakah AS merupakan negosiator yang tepat? Apakah AS cukup mampu untuk menyelesaikan konfik Israel-Palestina?”

(Agung Nurwijoyo)

  • Keterlibatan AS dalam konflik Israel-Palestina sudah dimulai di Perjanjian Camp David I.
  • Pada dasarnya, pihak pendamai atau mediator harus ditunjuk oleh kedua kubu yang terlibat konflik. Dengan adanya pernyataan Trump mengenai Yerusalem, apakah AS masih merupakan negosiator/mediator yang tepat?
  • Masih belum diketahui apakah akan ada mediator baru dalam konflik Israel-Palestina, namun jika ada, mediator tersebut harus ditunjuk dan dilegitimasi oleh kedua belah pihak, dan jika tidak, mediator tidak boleh bertindak.
  • Ada beberapa negara yang mungkin menggantikan AS sebagai mediator dalam konflik Israel-Palestina—Prancis, sebagai contoh, sedang mencoba memasuki Timur Tengah melalui konflik Suriah dengan cara berusaha menjadi penyelamat.
  • Usaha untuk mengadakan perdamaian di negara-negara Timur Tengah oleh agen-agen barat sejauh ini hanya bertujuan menciptakan negative peace (ketiadaan konflik) dan bukan positive peace (keberadaan keadilan).
  • Menurut Karen Armstrong, positive peace hanya terjadi di tanah Palestina pada saat pemerintahan Salahuddin Al-Ayyubi. (Baca lebih lanjut: Armstrong, Karen. Jerusalem: One City, Three Faiths. 1996)

Q&A #2: “Dalam hal konflik Timur Tengah, pendapat masyarakat Indonesia sangat terpolarisasi mengenai siapa yang harus didukung dan siapa yang seharusnya tidak didukung. Bagaimana cara kita menyikapi perbedaan drastis ini”

 (Muhammad Zulifan)

  • Ada perbedaan politis yang sangat terlihat di Timur Tengah. Hal ini dimulai pada tahun 1980-an, saat peran Iran-Irak, ketika Irak membentuk kubu dengan AS dan Iran dengan Uni Soviet, yang nantinya berlanjut ke Perang Afghanistan. AS membantu Irak dengan prinsip ‘musuh dari musuhku adalah temanku’, yang juga berarti AS melakukan hal tersebut dengan motivasi untuk mendorong kejatuhan Uni Soviet.
  • Sebelum tahun 1990-an, tidak ada definisi ‘teroris’ di dunia Arab, dan pejuang Afghanistan dibantu dan dipandang sebagai pahlawan.
  • Titik balik terjadi pada saat Perang Teluk I, saat Saddam Hussein, dipengaruhi oleh AS, menginvasi Kuwait. KSA, negara yang berbatasan langsung dengan Kuwait, berusaha menghentikan Saddam Hussein dari melanjutkan serangannya ke KSA. Raja Fahd, yang menjabat pada masa itu, meminta bantuan AS untuk menghentikan Saddam Hussein, sambil meminta pendapat dari organisasi-organisasi atau perkumpulan mujahidin, seperti Ikhwanul Muslimin. Pihak mujahidin menolak usul dari raja Fahd dengan alasan bekerjasama dengan kafir untuk membunuh Muslim tidak dapat diterima. Sejak saat itulah KSA dan kelompok mujahidin berpisah, dan belakangan, mujahidin dianggap juga sebagai militant dan teroris di KSA.
  • Muslim di seluruh dunia, juga di Indonesia, sering sangat terpecah dalam dukungannya di konflik-konflik Timur Tengah karena alasan ini. Contoh yang paling baru adalah konflik Yaman.
  • Sangat penting untuk memahami bahwa ada dua kepemimpinan di KSA—yaitu kepemimpinan politik (kerajaan) dan kepemimpinan religius (ulama). Kedua kepemimpinan ini sering tidak setuju satu sama lain dan bukan tidak mungkin seseorang bisa tidak mendukung atau hanya mendukung satu dari keduanya.
  • Meski begitu, AS dan Uni Soviet merupakan dalang sebenarnya dalam konflik-konflik Timur Tengah. Dalam mayoritas kasus, negara-negara Timur Tengah hanya bergerak sebagai partisipan dan bukan inisiator, sementara ada tujuan dan rencana yang dicanangkan oleh pihak pemerintahan AS dan Uni Soviet.
  • Mengenai bagaimana cara menyikapi perbedaan pendapat dan perbedaan dukungan, adalah sunnatullah bahwa kita akan terpisah sebagai suatu umat, namun secara individu, kita harus dapat berpikir secara kritis dan mampu meninjau kondisi konflik secara individu.

Q&A #3: “Masa depan konflik Israel-Palestina: eskalasi atau de-eskalasi?”

(Agung Nurwijoyo)

  • Konflik Israel-Palestina sudah berlangsung sangat lama namun buakn konflik yang berlangsung paling lama. Konflik yang telah berlangsung dengan durasi paling lama adalah konflik Kashmir.
  • Seperti siklus kehidupan, seluruh konflik, termasuk konflik Israel-Palestina, akan terus mengalami eskalasi dan de-eskalasi, namun kita tidak boleh mengadopsi pandangan fatalis yang menyerah begitu saja. Harus ada aksi yang terus diusahakan untuk memecahkan konflik.

Q&A #4: “Apa yang bisa dilakukan oleh Salam UI?”

(Agung Nurwijoyo)

  • Palestina adalah isu yang penting, namun Salam juga sebaiknya bisa memberikan laporan mengenai komunitas Muslim lainnya di seluruh dunia.
  • Buat analisis, kajian, dan ceramah, gunakan metode peace journalism. Jangan melibatkan terlalu banyak emosi dan jika harus memihak, harus mengetahui cara membangun narasi dengan menggunakan fakta dan argument. Create analysis, studies, and lectures, apply the method of ‘peace journalism’.
  • Buat narasi dan guidelines, jadilah unik dan reaktif, gunakan media sosial.

(Muhammad Zulifan)

  • Beri informasi mengenai pernyataan Trump mengenai Yerusalem yang akan ditindaklanjuti pada tanggal 14 Mei.
  • Jangan batasi kegiatan Salam pada hanya membantu komunitas Muslim yang leltaknya dekat. Muslim di seluruh dunia memiliki hak akan perhatian yang sama sejauh apapun mereka.
  • Konflik Israel-Palestina mungkin sudah tidak lagi menarik bagi masyarakat luas, namun itu adalah akar dari semua permasalahan di dunia. Konflik Israel-Palestina ada di dalam Surat Al-Baqarah dan Akhir Zaman tidak akan terjadi sampai Palestina dibebaskan.

Q&A #5: “Apa akar dari konflik internal di Palestina (antara Hamas dan Fatah) dan apakah ada kaitannya dengan negara Israel?”

(Muhammad Zulifan)

  • Ada dua faksi utama dalam pemerintahan Palestina: Fatah and Hamas.
  • Fatah: Turunan dari gerakan Yasser Arafat, sangat kooperatif dengan Israel, setuju dengan konsep koeksistensi.
  • Hamas: Memiliki pendirian yang jelas bahwa Palestina adalah tanah para Muslim dan negara Israel tidak memiliki hak atas tanah Palestina.
  • Fatah lebih disukai oleh pihak Barat. Pada tahun 2006, hamas memenangkan pemilihan demokratif, namun pemiihan tersebut dianggap tidak demokratis oleh pihak Barat.
  • Era ini adalah era rekonsiliasi, dan kedua pihak sudah sering bertemu, terutama di Qatar dan terkadang Turki. Namun sampai saat ini belum ada persatuan antara kedua belah pihak.

Dokumen dapat diunduh di bawah ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *