KOPI Ramadhan

“Memaknai Puasa dan Idul Fitri dalam Konteks Keindonesiaan”

Oleh Vyan Tashwirul Afkar

(MWA UI UM 2018)

 

Terlalu naif rasanya jika kita mengangkangi realita bahwa dewasa ini persatuan dan kesatuan di Indonesia tengah diuji. Kebhinnekaan yang seharusnya dipandang sebagai anugerah, justru menimbulkan percik perselisihan dan sekat-sekat sektarianisme. Diawali dari konflik akibat politik identitas yang belum terobati sejak momentum pesta demokrasi beberapa saat lalu, masyarakat terdikotomi ke dalam terminologi mayoritas dan minoritas. Puncaknya, serangkaian aksi teror oleh sekelompok masyarakat kepada yang mereka anggap berbeda, menjadi kulminasi yang semakin membuat anak bangsa saling curiga. Toleransi bak sekadar konsep yang normatif tapi tidak aplikatif dan tidak solutif.

Problematika menjadi kian rumit ketika di internal umat beragama pun terjadi gejolak. Menyusul dikeluarkannya daftar 200 penceramah oleh Kementerian Agama yang walaupun dicabut di kemudian hari, telah mengakibatkan umat Islam terpecah menjadi pihak pro dan kontra. Saling tuding dan saling ejek menjadi buntutnya. Lengkap sudah kepelikan untuk menguntai kembali mozaik-mozaik bangsa menjadi satu.

Di saat-saat seperti itulah, umat Islam memasuki bulan suci Ramadan. Bagaikan hujan pertama setelah musim kemarau panjang, bangsa ini bak disadarkan untuk saling menahan diri. Sebagaimana pengertian puasa yang berarti imsak yaitu menahan. Membungkam hawa nafsu dan melebur angkara murka agar menjadi pribadi yang baru, bersih dari kebencian dan dendam. Melakukan introspeksi sembari bersama-sama merajut kembali tenun persatuan yang telah dibeli oleh para pendiri bangsa, dengan harga yang sangat mahal.

Momentum imsak dalam Ramadan menuntun kita untuk menahan ego dan merenungkan pentingnya meletakkan persatuan di atas segalanya. Terlebih, Ramadan tahun ini membawa hadiah istimewa bagi Indonesia, berupa Hari Lahirnya Pancasila yang akan datang beberapa hari lagi. Seolah di tengah rapuhnya persatuan, Allah hendak mengingatkan kita untuk menahan diri dan mengingat kembali dasar negara yang telah mempersatukan berbagai suku, agama, dan ras menjadi satu bangsa besar bernama Indonesia.

Jika dalam Ramadan ini kita berhasil menahan diri dari perpecahan dan merekonsiliasi hubungan baik antarelemen, maka sebagaimana janji Allah di ujung Ramadhan, Indonesia akan memperoleh Idul Fitri. Kemenangan yang hakiki untuk mereka yang berpuasa dan menahan diri. Kemenangan sejati bagi Indonesia sebagai sebuah bangsa yang kembali utuh. Memulai kembali langkah sebagai satu kesatuan, menyongsong masa depan Indonesia yang lebih baik.

Sehingga pemaknaan puasa dalam konteks kebangsaan jelas sangat diperlukan saat ini. Karena esensi puasa adalah menahan diri dan esensi kemenangan pada Idul Fitri ialah saling berinisiatif untuk berdamai dan memaafkan, bukannya menunggu untuk diajak bermaafan, apalagi diam menanti dimaafkan.

Retaknya persatuan yang terjadi belakangan ini memang bukan disebabkan oleh umat Islam. Namun dengan statusnya sebagai umat mayoritas di Indonesia, Islam memegang peranan penting dan tanggung jawab yang begitu besar untuk menebarkan kedamaian dan keselamatan. Sejalan dengan salam asal kata Islam, yang dalam Bahasa Arab berarti selamat. Selamat menahan diri dan selamat kembali ke fitrah kita sebagai satu bangsa yang utuh, Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *