KOPI Ramadhan

“Cinta Terbaik”

Oleh Syifa Ahliya (Kepala Biro PSDM BPI FKG UI 2018)

Seorang gadis tengah duduk termenung di sudut Taman Kota. Pikirannya melayang pada hari-hari lalu yang telah ia lewati. Kepalanya menggeleng berulang kali, terlihat menyesal. Quran merah portable masih berada di genggamannya.

Beberapa detik yang lalu, ia membaca sebuah ayat yang membuatnya tak habis pikir dengan kisah yang ada pada ayat tersebut:

وَٱلَّذِينَ تَبَوَّءُو ٱلدَّارَ وَٱلْإِيمَٰنَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِى صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّآ أُوتُوا۟ وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِۦ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

Artinya:

”Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung” (Q.S Al-Hasyr:9)

Luar biasa, batinnya tak percaya. Luar biasa rasa cinta yang Allah tanamkan di hati orang-orang Anshar dan Muhajjirin. Bagaimana orang-orang Anshar mencintai dan mengutamakan orang-orang Muhajjirin lebih dari mereka mengutamakan diri mereka sendiri? Bahkan, ketika kondisi mereka berada dalam kesusahan.

Kini, ia sadar. Ia tidak pernah benar-benar mencintai saudaranya sedalam cinta kaum Anshar kepada kaum Muhajjirin. Seringkali dalam beberapa waktu, ia menjadi sosok yang sangat egois. Ia habis-habisan berjuang untuk urusannya sendiri padahal di sebelahnya, mungkin ada orang-orang yang sebetulnya tengah kesulitan. Ada yang diam-diam mengharapkan uluran tangannya tapi tak berani mengungkapkan. Atau, ada yang telah meminta pertolongannya, ia tolak dengan dalih ada banyak hal yang harus ia selesaikan.

Dalam hati, ia tertawa miris. Menertawakan kebodohannya selama ini. Menertawakan hatinya yang begitu dangkal akan cinta. Menertawakan makna cinta yang selama ini ia pahami.

Lalu, sesuatu menamparnya: ia teringat betul, di tengah keegoisannya, masih ada orang-orang yang selalu berada di garda terdepan untuk mendukungnya. Ada yang masih terus bersabar menghadapi tingkahnya, dan tetap berada di posisi yang sama meskipun berkali-kali ia abaikan: selalu ada ketika dirinya membutuhkan.

Selama ini ia buta, tapi bukan matanya yang buta, melainkan mata yang berada dalam hatinya.

Istighfar dan hamdalah ia ucapkan bergantian. Ia beristighfar atas dirinya yang belum memberikan yang terbaik untuk saudaranya: untuk teman-teman terbaik yang selama ini berada di sekitarnya. Juga ia bersyukur atas cinta Allah yang dititipkan melalui teman-temannya kepadanya. Ia bersyukur karena di tengah kehidupan penuh sandiwara dengan air mata ini, dirinya masih dikelilingi orang-orang baik.
‘I thank Allah because in the midst of this cruel world, I still have you here’

Seseorang mendekatinya, menepuk pundaknya. Ia mendongak, terkesiap melihat siapa yang berada di hadapannya.

“Sahabatku yang super, jangan menanggung beban sendirian ya. Yuk, kita hadapi bersama.” bisik temannya.

Lagi-lagi, air matanya menetes tanpa sempat ia cegah.
Hatinya berkata lirih,

“Ya Rabb, mampukan hamba memberikan cinta terbaik untuk saudara-saudara hamba.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *