“Kisah Ummu Waraqah binti Abdulllah bin Harist”

(Oleh: Yunistia Moura Z. – SYIFA F. Farmasi UI)

 

Namanya adalah Ummu Waraqah binti Abdullah bin Harist atau dikenal dengan Ummu Waraqah binti Naufal, ia putri dari Abdullah bin al- Harist bin Uwaimar bin Naufal al-Anshariyah, dinisbahkan kepada kakeknya. Beliau masuk islam semenjak pertama kali mendengar tentang Rasulullah dan hadist-hadist yang diriwayatkannya sehingga termasuk ke dalam kafilah assabiquunal  awwaluun, sebagaimana yang disebutkan dalam surah At-Taubah ayat 100. Beliau termasuk wanita yang paling mulia pada zamannya. Rasulullah SAW telah mengunjungi beliau beberapa kali dan beliau menjulukinya dengan gelar asy-Syahidah.

Ummu Waraqah  termasuk salah seorang penduduk kota Madinah yang sangat bersyukur  dan  berbahagia dengan kehadiran Nabi Muhammad SAW. Karena kepribadian Rasulullah SAW sudah lama didengar, dan risalahnya telah lama diimani. Ummu Waraqah menekuni ayat-ayat Allah dengan sungguh-sungguh. Ummu Waraqah tidak hanya pandai membacanya, melainkan juga memahami dan  menghafalnya dengan baik.

Lebih dari  itu, Ummu Waraqah pun berusaha menghimpun dan menuliskannya pada tulang, kulit, pelepah kurma, dan lain-lain. Ia berhasil menghimpun ayat-ayat Allah di rumahnya waktu itu. Setelah Rasulullah SAW wafat dan Abu Bakar RA berencana menghimpun Al Qur’an, Ummu Waraqah ditunjuk Khalifah untuk menjadi salah seorang rujukan penting bagi Zaid bin Tsabit sebagai pelaksana proyek.

Rasulullah SAW sangat menghormati Ummu Waraqah. Beliau kerap berkunjung ke rumahnya sebagai bentuk penghormatan. Rasulullah SAW juga mengangkat seorang muazin yang sudah lanjut usia khusus untuknya. Atas saran Rasulullah SAW yang sangat memahami kebersihan dan kejernihan hatinya, Ummu Waraqah menjadikan rumahnya sebagai masjid dan ia sebagai imam khusus bagi kaum muslimah.

Ummu Waraqah binti al-Harits bukan hanya seorang ahli ibadah, ia pun seorang mukminah yang mencintai jihad dan merindukan syahid di jalan Allah. Ketika ia mengetahui bahwa Rasulullah SAW menganjurkan sahabatnya untuk ikut perang Badar, ia pun menjumpai Rasulullah SAW dan berkata, “Wahai Rasulullah, izinkanlah aku ikut perang bersamamu untuk merawat tentara yang terluka dan sakit. Mudah-mudahan Allah memberiku mati syahid dengan cara itu.”

Rasulullah SAW bersabda, “Tinggallah di rumahmu, karena sesungguhnya Allah SWT  akan memberimu anugerah sebagai orang yang mati syahid.” (HR Abu Dawud)

Mukminah ahli ibadah itu pulang menaati saran Rasulullah SAW dengan sebuah harapan besar, yaitu menjemput syahid di rumahnya sendiri.

Ketika Rasulullah SAW meninggal dunia, Ummu Waraqah sangat kehilangan dan merasa terpukul. Namun, ia tetap istiqomah menunggu syahid datang. Akhirnya kerinduan dan pengharapan panjang itu pun datang, Ummu Waraqah menerima penghargaan tertinggi tersebut. Dalam Riwayat Abu Dawud dikisahkan sebagai berikut:

Ummu Waraqah memiliki seorang budak laki-laki dan budak perempuan. Kedua budak itulah yang membunuhnya dengan menutup wajah Ummu Waraqah dengan kain hingga meninggal, kemudian mereka melarikan diri.

Tatkala pagi Umar bin Khattab berkata, “Demi Allah aku tidak mendengar suara bacaan Alquran dari bibiku semalam.” Beliau memasuki rumahnya, namun tidak melihat suatu apa pun. Kemudian beliau memasuki kamarnya, ternyata beliau telah terbungkus dengan kain di samping rumah. Umar berkata, “Alangkah benar sabda Rasulullah SAW ketika bersabda ‘Marilah pergi bersama kami untuk mengunjungi wanita yang syahid.” Kemudian Umar mengumumkan kasus tersebut seraya berkata, ”Siapa yang mengetahui keberadaan budak tersebut, atau pernah melihatnya, maka tangkap dan bawalah kepadaku.” Akhirnya kedua budak itupun tertangkap, lalu dibunuh, dan diikat ditiang. Dan mereka berdualah orang yang pertama kali disalib dalam sejarah Islam.

Dari cerita diatas dapat diambil hikmah bahwa sebagai seorang muslimah hendaklah mencintai Allah SWT dan Rasulullah SAW dengan menekuni, membaca, memahami, dan menghafalkan serta mengimani Alquran dan hadist-hadist. Di samping itu, kita harus tetap istiqomah dalam menjalani hidup di jalan Allah.

Melihat kondisi saat ini, kita sebagai muslimah hendaknya meneladani kepribadian Ummu Waraqah, baik dalam berperilaku seperti tekun beribadah, memahami Alquran, serta tetap istiqomah dalam melakukan hal-hal positif dalam hidup.

 

Source:

Kitab 35 Sirah Shahabiyah (Shahabiyyat Haular Rasuul SAW), Mahmud Al Mishri. Available at http://www.voa-islam.com/read/muslimah/2009/10/22/1474/ummu-waraqahsyahidah-di-dalam-rumahnya#sthash.FXcxrqnw.dpbs

 

 

QUOTES

“Classyiswhen a woman has everythingtoflauntbutchooses not toshowit”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *