“Kisah Ummu Ad Darda”

(Oleh: Desya Mulyaningrum – Nurani F. Kesehatan Masyarakat UI )

 

Sebelum menjadi istri dari Abu Ad-Darda’, beliau ialah gadis kecil yang tinggal di Madinah. Beliau tumbuh sebagai anak yatim yang rajin belajar di halaqah para ahli baca Al-Qur’an di masjid yang suci, yakni Masjid di kota Thaibah (Madinah). Seiring berjalannya waktu, beliau mengenyam pendidikan dengan adab dan kemuliaan yang luhur dari pemilik rumah yang ia tinggali. Pemilik rumah itu sangat menyayanginya, sangat senang untuk memberikan hal-hal yang bermanfaat baginya, dan selalu menginginkan kebaikan untuknya, sampai-sampai beliau tidak merasakan pahitnya menjadi anak yatim. Beliau merupakan seorang muslimah yang bijak, berilmu, ahli ibadah, dan merupakan seseorang yang hidup zuhud di dunia, beliau bernama Hujaimah binti Huyay al-Aushabiyah, atau yang sedari tadi dibicarakan yaitu Ummu ad-Darda’.

Setelah beliau berusia cukup matang, Abu ad-Darda’ datang ingin menikahinya. Sejak saat itu, beliau menjadi istri dari orang bijak dan menjadi ibu rumah tangga. Abu ad-Darda’ sebagai suaminya juga menjadi guru baginya. Beliau menimba ilmu dari Abu ad-Darda’ sehingga menjadi seorang istri yang taat kepada suami, istri yang senantiasa berusaha menyenangkan, dan istri yang membahagiakan suaminya. Begitu pun sang suami, Abu ad-Darda’, yang selalu memberi nasihat sehingga beliau menjadi pendidik yang sukses bagi anak-anaknya.

Sepasang suami-istri yang seperti inilah yang telah disatukan oleh cinta agama dan cinta kepada Allah. Ummu ad-Darda’ mencintai suaminya karena sifat-sifat yang langka tadi, bukan karena materi duniawi dan bukan pula karena dorongan hawa nafsu. Betapa mulianya cinta tersebut. Itulah cinta yang sejati, yakni cinta yang si pemiliknya tak ingin terputus sebatas di dunia saja melainkan agar tetap tumbuh di tempat yang kekal nantinya.

Suatu hari, beliau pernah meminta kepada Allah, “Ya Allah, sesungguhnya Abu ad-Darda’ melamarku lalu menikahiku di dunia, ya Allah, maka aku melamarnya kepada-Mu, aku memohon kepada-Mu agar Engkau menikahkan aku dengannya di akhirat.”

Ummu ad-Darda’ juga merupakan wanita yang penyabar dan rela dengan takdir Allah. Pernah suatu hari, putri dari Ummu ad-Darda’ meninggal dunia dan sedang dibawa untuk nantinya dikubur, Ummu ad-Darda’ seraya berkata “Pergilah kepada Tuhanmu dan aku akan pergi kepada Tuhanku.” Kemudian beliau masuk ke dalam masjid.

Sepotong peristiwa sejarah tadi dapat menegaskan kepada kita tentang sikap beliau yang penuh dengan kesabaran dan menerima takdir Allah dengan  lapang dada, oleh karena itu tidaklah heran jika nama beliau termasuk ke dalam orang-orang yang sabar. Namun, Ummu ad-Darda’ tidak akan menjadi seperti itu tanpa campur tangan kepala keluarga yang merupakan suami dan ladang ilmu bagi beliau. Pendidikan dari suami yang shalih yang sukses insyaAllah akan menghasilkan generasi shalihah seperti Abu ad-Darda’ yang mendidik dan membimbing Ummu ad-Darda’.

Mari kita kembali ke zaman sekarang untuk melihat kehidupan generasi muda sebagai penerus bangsa. Sudahkah kita menjadi seperti Ummu ad-Darda’ yang mengenyam pendidikan tetapi tidak lupa untuk mempelajari al-Qur’an dan sunnah-sunnah Rasul? Teruslah belajar dan tidak melupakan al-Qur’an dan as-Sunnah sesuai dengan sabda Rasul, “Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan padanya, Allah akan memahamkannya dalam urusan agama.” (HR Bukhari nomor 71 dan Muslim nomor 1037)

 

Referensi:

Mahmud, Azhari Ahmad. (2016). Kisah Para Wanita Mulia: Yang Memiliki Peran Besar dalam Sejarah. Jakarta: Darul Haq.

Dokumen dapat diunduh dibawah ini.
http://bit.ly/KS10WomenDays2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *