“Kisah Khadijah”

(Oleh: Azizah Alawiah – MII F. Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UI)

 

Suatu hari, mata Rasulullah berkaca-kaca seraya bersabda kepada para sahabatnya:

“Allah tidak pernah memberikanku wanita yang lebih mulia daripada Khadijah. Di saat manusia tidak percaya, dia sendiri yang percaya. Ketika semua orang mendustakan diriku, dia sendiri yang menerimaku. Ketika manusia berlarian dariku, ia mendukungku, baik ketika ada maupun tiada. Dan Allah mengaruniaiku putra-putri bukan dari yang lain, melainkan darinya.”

Ah, membaca sabda Rasulullah di atas saja kita sudah tahu betapa besar cinta bunda Khadijah kepadanya.

Khadijah berasal dari keluarga terpandang, Bani Hasyim. Khuwaylid dan Fatimah, adalah orang tuanya. Ia tumbuh menjadi gadis yang pandai dan bijaksana. Di usia yang masih muda, ia menikah dengan Abu Hala bin Zurara. Pernikahan pertama ini melahirkan dua putra, Hala dan Hindun. Namun, Allah menakdirkan kepedihan kepada bunda. Suaminya meninggal di usia bunda yang baru menginjak 20 tahun. Ia berwasiat agar anaknya jangan diasuh oleh orang lain. Dari wasiat tersebut bunda bertekad akan memperhatikan anak-anaknya dan juga perkerjaannya (perdagangan) dengan segala kemampuan yang dimilikinya. Tekad inilah yang mengantarkan Khadijah menjadi Ibunda Mekkah nantinya.

Akhirnya bunda kembali menikah dengan Atik bin Aziz. Dari pernikahan kedua ini lahir seorang putri bernama Hindun. Atik adalah pria yang keras dan tidak pernah puas, kekerasannya membuat sang bunda memutuskan pergi dari rumah bersama dua putra dan bayi perempuannya.

Membesarkan anak-anak dan mengurus perdagangan sendirian tidaklah mudah. Meskipun tekad kuatnya selalu membara, dalam hatinya ia merasa kesepian. Ia membutuhkan seorang pendamping setelah sekian tahun hidup menjanda. Hingga akhirnya ia bermimpi yang sama berulang kali. Dari mimpi tersebut, ada makna tersirat yang sang bunda dapat. Sebuah kisah cinta.

Kali ini, Khadijah ingin menyerahkan urusan perdagangan kepada orang lain. Pembantunya mengusulkan Abu Thalib dan keponakannya yang terkenal jujur dalam mengelola perdagangan. Namun, karena alasan sudah tua, akhirnya Abu Thalib menyuruh sang keponakan yang mengambil alih. Dengan perintah tersebut, pemuda yang akhirnya diketahui Khadijah sebagai Muhammad, pergi ke kediaman Khadijah. Kontrak kerja pun terjadi. Muhammad akan menjadi pemimpin kafilah dagangnya menuju Syam.

Ketika rombongan kafilah melewati rumahnya, Khadijah mencari-cari pemuda tersebut. Ia melihat pemuda itu yang paling bersinar di antara banyaknya kerumunan orang. Seketika, hati Khadijah berdebar-debar. Cahaya yang terpancar dari pemuda itu membawa ketenangan dan keteduhan bagi hatinya. Khadijah akhirnya menyadari bahwa ia telah jatuh hati pada pemuda tersebut. Pemuda yang masih menjadi kerabatnya.

Khadijah begitu memendam perasaannya. Ia tak ingin membiarkan orang lain tahu bahwa ia merindukan pemuda berawalan huruf mim itu. Ia begitu senang mendengarkan para pembantunya menceritakan kebaikan Muhammad. Baginya, semua benda yang berawalan “mim” membuat hatinya berdesir. Baginya, setiap pandangan yang ia lihat tertulis “mim” di sana. Baginya, awan di langit melukiskan huruf “mim” setiap saat. Baginya, angin yang menerpa dirinya akan membisikkan kata “mim“. Seolah-olah alam semesta begitu mengerti kerinduan Khadijah.

Tidak lama setelah kepulangan kafilah dagang yang dipimpin Muhammad, terjadilah pernikahan agung itu. Pernikahan antara “kha” dan “mim“. Bahkan seluruh jagad raya seperti ikut merayakan hari bahagia tersebut.

Muhammad begitu dicintai Khadijah, ketiga anaknya, dan seluruh keluarganya. Darinya, lahirlah Qasim, putra pertama, yang sayangnya meninggal di usia belia. Ketika itu Zainab, putri pertama mereka, masih bayi. Kesedihan menyelimuti rumah dan seluruh keluarga Khadijah. Hari-hari sulit itu pun membuat Khadijah dan Muhammad semakin dekat. Sang Al Amin selalu menemani dan menghiburnya. Hingga peristiwa pengangkatan anak terjadi, anak istimewa itu adalah seorang budak bernama Zaid bin Haritsah. Setelah itu, lahirlah dua anak perempuan, Rukayah dan Ummu Kultsum. Lalu Fatimah lahir di masa menjelang kenabian.

Di akhir usia 30-an, Muhammad sering bertafakur ke gua Hira. Sendiri maupun bersama istrinya, Khadijah. Ia menjauhkan diri dari masyarakat dan kesibukan dunia. Muhammad mulai merasakan keanehan. Ia sering melihat dan mendengar hal yang membuatnya tak nyaman. Di saat seperti itu, Khadijah selalu menenangkan dengan mengucapkan kata-kata lembut.

Dan peristiwa turunnya wahyu pertama pun terjadi. Peristiwa yang membuat hati setiap orang beriman bergetar. Peristiwa abadi yang tak pernah bosan kita dengarkan.

“Selimuti aku, selimuti aku…, pinta Rasulullah ketika sampai di rumah.

Dengan penuh kasih sayang, Khadijah berusaha menenangkan suaminya.

Waraqah, saudara Khadijah, menerangkan bahwa yang datang menemui Muhammad adalah makhluk yang sama yang mendatangi Musa yaitu Malaikat Jibril. Ia mengatakan kepada Khadijah dan Muhammad bahwa hari-hari berat akan segera mereka jalani.

Hal itu membuat Khadijah selalu setia mendampingi suaminya, mendukungnya, dan merekalah pasangan muslim pertama di dunia. Rasulullah mulai berdakwah pada keluarga dan sahabatnya. Tak banyak yang mau mengikuti agama baru tersebut. Agama yang hanya menyeru satu Tuhan. Hinaan dan cacian ia terima. Yang paling keras dan menentang datang dari kedua pamannya, Abu Lahab dan Abu Jahal. Bahkan hinaan semakin memburuk ketika Rasulullah menyampaikan isi Al Quran. Kata-kata si gila, tukang sihir, dan penyair tersemat padanya.

Namun, semakin hari semakin banyak pengikut Rasulullah. Hal itu membuat geram kaum musyrikin. Akhirnya mereka membuat kesepakatan untuk memboikot Rasulullah dan pengikutnya. Boikot itu akan berakhir jika Rasulullah berhenti berdakwah dan meninggalkan agama baru itu. Di masa-masa sulit itu, Khadijah berusaha membagikan apa saja yang ia punya kepada kaum muslimin yang tertindas dan kelaparan. Semua kekayaannya terkuras habis selama tiga tahun masa pemboikotan tersebut. Setelah masa sulit itu berakhir, Khadijah jatuh sakit. Di dalam pembaringannya, ia menyebutkan segala nama baik sang Suami. Rasul Allah. Dengan menyebut syahadat, kekasih dari kekasih-Nya pergi. Meninggalkan sang utusan terakhir.

Tahun itu disebut tahun duka cita karena Abu Thalib dan Khadijah, paman dan istri tercinta Rasulullah SAW, pergi menuju Sang Pencipta.

Dengan penuh kesedihan, Rasulullah menggoreskan empat buah garis ke tanah dengan cabang pohon kurma.

“Tahukah kalian apa arti empat garis ini?” tanya Rasulullah

“Rasul Allah pasti tahu yang sebenarnya, jawab para sahabat.

“Empat garis ini menggambarkan empat wanita ahli surga yang paling mulia. Khadijah binti Khuwaylid, Fatimah binti Muhammad, Istri Firaun, putri Mudzahim, Asiyah, dan Maryam, putri Imran. Semoga Allah meridhai mereka.”

 

 

Referensi:

“Khadijah: Ketika Rahasia Mim Tersingkap” Karangan Sibel Eraslan

 

Dokumen dapat diunduh dibawah ini.
http://bit.ly/KS09WomenDays2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *