“Kisah Zainab binti Ali bin Abi Thalib”

(Oleh: Destya Galuh Ramadhani – FSI F. Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UI)

Zainab binti Ali bin Abi Thalib adalah cucu pertama Rasulullah SAW dari putrinya, Fatimah Az-Zahra. Ia adalah seorang wanita mulia yang mempunyai logika berpikir yang jernih, banyak ide, fasih, dan juga menguasai ilmu bahasa.

Zainab dilahirkan sebelum kakeknya, Rasulullah SAW, wafat. Sekitar lima tahun sebelum Rasulullah menghadap Ilahi. Dia adalah anak ketiga pasangan Ali dan Fatimah—setelah Hasan dan Husain—dengan jarak kelahiran sekitar satu tahun antara setiap anak. Kelahirannya diikuti oleh saudara perempuannya, Ummu Kultsum.

Zainab menikah dengan anak pamannya atau sepupunya, Abdullah bin Ja’far. Dia melahirkan beberapa orang anak seperti Muhammad, Ali, Abbas, Ummi Kultsum, dan ‘Aunal Akbar.

Zainab juga meriwayatkan beberapa hadits. Beberapa orang juga meriwayatkan hadits yang berasal darinya, seperti Muhammad bin Amru, Atha bin As-saib, dan Fathimah binti Husain bin Ali. Di antara beberapa perkataan Zainab yang dikenal adalah, “Barangsiapa yang menginginkan makhluk menjadi syafaat (mediator) baginya menuju keridhaan Allah, maka hendaklah dia sering-sering memuji Allah (dengan ucapan alhamdulillah). Tidakkah kau mendengar perkataan mereka ‘sami’a Allahu liman hamidah’ (Allah Maha Mendengar orang yang memuji-Nya) kemudian Allah meringankan qudrah-Nya yang akan menimpamu dan merasa malu untuk menurunkan cobaan lebih besar karena kedekatan-Nya padamu.”

Zainab meninggal dunia pada tahun 65 Hijriyah, dan dikuburkan di Qanathir As-Siba’, Mesir. Kini makamnya banyak dikunjungi peziarah. Bahkan namanya dijadikan nama sebuah masjid di Mesir, yaitu Masjid Sayyidah Zainab.

Suatu saat Rasulullah SAW pernah mendekap Sayyidah Zainab di dadanya dan meletakkan wajahnya yang mulia di wajahnya. Tiba-tiba Rasulullah SAW menangis. Begitu banyak air mata yang mengalir hingga membasahi janggutnya. Sayyidah Fathimah as. bertanya, “Duhai Ayah, mengapa engkau menangis?”

Rasulullah saw. bersabda, “Setelah kepergianku, anak ini akan mendapat musibah yang bermacam-macam.” Mendengar itu, Sayyidah Fathimah pun menangis.

Zainab menjadi salah satu saksi kelam tragedi karbala. Kedua putranya syahid di karbala, sehingga ia dapat merasakan kepedihan yang dirasakan para syuhada karbala dan saudara tercintanya Husain as. Dalam rombongan tawanan, Zainab bertindak sebagai penanggung jawab rombongan. Dia berusaha sedapat mungkin menyediakan segala kebutuhan kaum perempuan dan anak-anak. Sayyidah Zainab menghibur mereka dalam setiap kesulitan, seperti kelaparan, kehausan, dan mengalami tindakan pemukulan. Ia juga melindungi seluruh keluarga Husain beberapa bulan setelahnya ketika mereka dipenjara oleh dinasti Umayyah.

Di Kufah, para tawanan dimasukkan ke dalam penjara sementara di Syam, mereka ditempatkan di sebuah bangunan tanpa atap. Begitu juga bukan sesuatu yang mudah baginya harus menanggung kedinginan, kepanasan, dan kematian Ruqayah. Dari sisi kesabaran dan ketekunan, Sayidah Zainab As adalah satu-satunya orang yang memiliki kedua sifat tersebut. Ketika berada di hadapan tubuh saudaranya, Imam Husain As, yang berlumuran darah, ia langsung menengadahkan wajahnya ke langit dan berkata, “Wahai Tuhanku, inilah sedikit pengorbanan yang kami berikan di jalan-Mu, maka terimalah pengorbanan ini dari kami.”

Seorang peneliti berkata, bahwa di antara gelar-gelar Sayidah Zainab As adalah Ar-Radhiyah bil Qadri wal Qadha yaitu ridha atas ketentuan qadha dan qadar Ilahi. Zainab begitu tegar menghadapi berbagai kesulitan dan musibah yang mana jika sedikit saja dari musibah dan kesulitan itu diberikan kepada gunung yang kokoh maka gunung akan meleleh seketika. Tetapi sosok yang teraniaya ini begitu kuat dan tegar, terasing, dan sendiri bagaikan gunung yang mencakar langit. Ia tetap tegak menghadapi semua permasalahan. Ia berkali-kali menyelamatkan nyawa Imam Sajjad As dari kematian. Di antaranya, ketika di majelis Ibnu Ziyad, setelah Imam Sajjad beradu argumen dengan Ibnu Ziyad, Ibnu Ziyad mengeluarkan surat perintah untuk membunuh Imam. Pada saat itu, Sayidah Zainab meletakkan tangannya di leher putra saudara laki-lakinya dan berkata, “Selama aku hidup tak akan kubiarkan kalian membunuhnya.”

Dari cerita perjalanan yang dihadapi oleh Zainab tersebut, maka ada begitu banyak makna yang dapat diteladani oleh para muslimah saat ini. Salah satunya adalah bahwa sejatinya, seberat apapun kedukaan yang kita alami, bila kita tetap percaya ini yang terbaik dan bergantung pada Allah SWT semata, jadilah keikhlasan karena-Nya menjadi pilihan terakhir.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

(QS Al Baqarah: 216)

Referensi :
http://m.republika.co.id/amp_version/lozl3m
http://www.majulah-ijabi.org/sejarah/mengenang-sayyidah-zainab-zain-abiha-cucu-rasulullah-saw
Sayid Alinaqi, Faizul Islam, Khatun dusara, hlm. 185.
Sayid Nuruddin Jazairi, al-Khasaishatu al-Zainabiah,  hlm. 24.
Muhammad Bagir Majlisi, Biharul Anwar, jild. 45, hlm. 117.

Dokumen dapat diunduh di bawah ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *