“Kisah Fatimah Az Zahra”

(Oleh: Anonim – Sahabat Asrama UI)

Fatimah ialah seorang anak, istri, ibu—muslimah—yang taat pada Allah dan Rasulnya. Ayahnya adalah Muhammad bin Abdullah, Rasulullah SAW. Ibunya bernama Khadijah binti Khuwailid, salah satu dari empat wanita pemuka surga—Fatimah juga termasuk salah satunya. Suaminya adalah Ali bin Abi Thalib ra; salah satu dari sepuluh orang Amirul Mukminin yang dijanjikan masuk surga. Dua putranya adalah pemuka pemuda surga, yaitu Hasan ra dan Husain ra. Pamannya ialah pemuka para syuhada bergelar Singa Allah dan Rasul-Nya; Hamzah bin Abdul Muttalib ra. Kunyahnya (nama julukan yang menggunakan ummu dan abu) adalah Ummu Abiha karena baktinya pada sang ayah.

Fatimah bergelar az Zahra sebab wajahnya senantiasa cerah bak sekuntum bunga. Berbagai ujian hidup dan kehidupan telah dialaminya dengan wajah cerah ceria. Tegar dan bersahaja membuat demikian perangainya. Saat masih kecil, Fatimah telah menjadi saksi pembangkangan kafir Quraisy terhadap apa yang dibawa oleh ayahnya. Ialah yang membersihkan pakaian Rasulullah SAW saat kotoran ditimpakan padanya. Ia pula yang dengan lantang berorasi di depan kaum kafir yang menyakiti baginda Rasulullah SAW. Sungguh wanita yang sangat pemberani. Setidaknya ‘kecerewetan’ seorang wanita ditempatkan proporsional olehnya.

Masa kecilnya tidaklah seperti anak-anak pada umumnya yang penuh dengan keasyikan, kedamaian, juga kebahagiaan. Saat usianya belasan, ia harus rela untuk ditinggalkan sang ibu dan saudari-saudarinya satu per satu. Bayangkan, betapa beratnya ditinggal ibu dan saudari-saudari tercinta dalam kurun waktu yang tidak telalu lama. Namun, bukan Fatimah namanya jika tidak tegar menghadapi ujian. Bahkan, kemudian ia yang mengurusi setiap kebutuhan dari ayahandanya. Benar-benar contoh bakti yang luar biasa. Itulah sebabnya ia terkenal dengan sebutan Ummu Abiha (anak yang menjadi seperti ibu bagi ayahnya).

Beranjak dewasa, Fatimah tumbuh menjadi seorang gadis yang juga luar biasa. Tentang masa mudanya juga tentang menjaga fitrahnya cinta. Rasa yang ada di hati Fatimah, tersimpan sangat rapi. Kata cinta terucapkan hanya ketika ia yang telah mengusik hatinya, hanya ketika dirinya telah bersiap sesungguh hatinya. Pada akhirnya, Ali bin Abi Thalib, menjadi penyempurna separuh agamanya.

Fatimah menikah dengan Ali bin Abi Thalib setelah lamaran Abu Bakar dan Umar untuknya ditolak oleh sang ayah. Ali seorang laki-laki kesatria, penuh keberanian, kesalehan, dan kecerdasan, merasa ragu-ragu mencari jalan untuk dapat meminang Fatimah karena dirinya begitu miskin. Akhirnya ia memberanikan diri meminang Fatimah dan langsung diterima oleh Nabi. Kehidupan mereka ialah sederhana, gigih, dan tidak mengenal lelah. Ali bekerja keras mendapatkan nafkah, sedangkan istrinya bersikap rajin, hemat, dan berbakti.

Fatimah mengasuh anak-anaknya dan melaksanakan tugas-tugas rumah tangga secara mandiri; seperti menggiling jagung dan mengambil air dari sumur. Pernah suatu ketika Fatimah meminta pembantu kepada ayahnya. Namun, bagaimana jawaban Rasulullah?  Beliau mendatangi putrinya, dan berkata dengan perasaan haru, “Maukah kalian kuberi tahu sesuatu yang lebih baik dari yang kamu minta? Bila hendak naik pembaringan, maka bertakbirlah 33 kali, bertasbihlah 33 kali, dan bertahmidlah 33 kali. Semuanya itu lebih baik daripada seorang pembantu.” Sejak saat itu, Ali dan Fatimah mengamalkan dzikir tersebut hingga akhir hayat. Tak pernah lagi Fatimah meminta pembantu. Tak lagi ia mengeluh atas keletihan yang menderanya.

Kehidupan terus dilaluinya dengan segala apa yang diperintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya hingga ajalnya tiba. Tidak lama setelah ayahnnya wafat, Fatimah meninggal dunia, beberapa bulan setelah nabi wafat. Usianya tidak mencapai 30 tahun.

Itulah secuplik tentang Fatimah Az Zahra. Sosok yang selalu berusaha ceria atas segala ujian yang ditimpanya. Bagaimana dengan kita? Katamu, ujian datang darimana saja. Ah, rasanya diri kita sendiri yang paling menderita, ujian tak kunjung usai. Mengeluh, menyalahkan, air mata sebagai pelampiasan lainnya? Belum lagi kalo lagi banyaknya tugas, dari dosen, kadiv, kadept, atau dari ketummu. Berat gitu rasanya, tapi coba lagi tanya pada nurani, seberat itukah? Lalu bagaimana dengan sikap kita dengan orang tua kita? Sudahkah kita menjaganya dengan sikap dan tutur kata kita? Apalagi merawatnya dan membantunya jika membutuhkan kita. Hmm, rasanya kita terlalu sibuk dengan dunia kita sendiri. Terkadang kita lupa bahwa untuk menjadi sebaik-baiknya ibu juga istri, ya, harus menjadi sebaik-baiknya anak terlebih dahulu.

Sejatinya, kita juga sering lupa siapa suri tauladan kita seharusnya. Bukan yang lain, Ukh. Dialah muslimah terbaik yang cantik luar dan dalamnya. Tentang cantiknya akhlak, pandainya sikap, indahnya iman, islam, dan ihsannya. Fatimah Az Zahra, selalu ceria menghadapi segala ujian. Kekuatan, keteguhan, kebersahajaan, dan segala kebaikannya adalah guru abadi sepanjang zaman. Seberat apapun ujian atau masalah, keikhlasanlah yang membuatnya ringan. Dan sekali lagi, ingatlah bahwa hidup tidak hanya ada banyak ujian, tetapi juga bantuan, solusi, terlebih martabat yang dijanjikan turut serta.  Di mata orang-orang besar masalah besar terlihat kecil. Dan di mata orang-orang kecil, masalah kecil menjadi besar.

Ukhti, pilih yang mana?

Referensi:

https://www.dakwatuna.com/2012/04/15/19504/teladan-wanita-sepanjang-masa/
https://www.dakwatuna.com/2013/11/14/42163/fatimah-az-zahra-teladan-para-ibu-dan-muslimah
http://www.dakwatuna.com/2014/04/21/50086/stop-mengeluh-ukhti-mari-berkaca-pada-sayyidah-fatimah-ra/

Dokumen dapat diunduh di bawah ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *