“Kisah Ummu Salamah”

Ummu Salamah: Muslimah Cerdas yang Rupawan Hatinya
(Oleh: Rigita Ayu Dyah P. – BPI F. Kedokteran Gigi UI)

Beliau bernama asli Hindun binti Abu Ummayah Al-Makhzumi. Merupakan seorang yang cerdas, bijaksana, berani, dan penuh kasih. Sebelum menjadi istri Rasulullah SAW, beliau merupakan istri dari Abu Salamah bin Abdul Asad Al-Makhzumi yang wafat akibat luka yang dideritanya sejak Perang Uhud. Beliau bersama Abu Salamah dikaruniai empat orang anak, yaitu Zainab (Barrah), Salamah, Umar, dan Ruqaiyyah (Durrah).

Ditinggal wafat oleh suami, beliau bertanya-tanya siapakah yang lebih baik yang bisa menggantikan suaminya, Abu Salamah. Sebelumnya beliau sempat berkata pada Abu Salamah, “Aku telah mendengar bahwa seorang wanita yang suaminya tiada, dan suaminya itu termasuk ahli surga, kemudian dia tidak menikah lagi sepeninggalnya, Allah mengumpulkan mereka berdua di surga. Mari kita saling berjanji agar engkau tidak menikah lagi sepeninggalku dan aku tidak akan menikah lagi sepeninggalmu.” Mendengar perkataan tersebut, Abu Salamah mengatakan, “Apakah engkau mau taat kepadaku?” Ia menjawab “Ya.” Abu Salamah pun berkata kembali, “Kalau aku kelak tiada, menikahlah! Ya Allah, berikan pada Ummu Salamah sepeninggalku nanti seseorang yang lebih baik dariku, yang tak akan membuatnya berduka, dan tak akan menyakitinya.”

Sebelum wafat, Abu Salamah juga pernah mengatakan bahwa Rasulullah SAW telah mengajarkan kepadanya satu doa apabila ditimpa musibah yaitu, “Tidaklah sebuah musibah menimpa seorang pun dari kaum muslimin lalu ia ber-istirja’ (mengucapkan innaa lillahi wa innaa ilaihi raji’un) saat tertimpa musibah tersebut, kemudian ia mengucapkan: “Ya Allah berilah aku pahala dalam musibah yang menimpaku, dan berilah aku ganti yang lebih baik daripada musibah yang telah menimpa.”” Doa tersebut pun terlaksana.

Beberapa waktu setelah masa iddah-nya selesai, datang lamaran dari Abu Bakar ashShidiq dan Umar bin Khattab, namun keduanya ditolak oleh Ummu Salamah. Akhirnya, datanglah Rasulullah SAW melamar. Ummu Salamah tidak langsung menerimanya walaupun ia merasa sangat tersanjung dengan lamaran yang ditujukan kepadanya. Beliau pun menjelaskan bagaimana permasalahannya saat itu. Beliau berkata bahwa ia adalah perempuan yang pencemburu, umurnya pun sudah tak lagi muda, dan beliau telah memiliki empat orang anak. Maka atas segala permasalahan yang disebutkan tadi, Rasulullah mengatakan bahwa beliau berdoa kepada Allah agar kecemburuan itu dihilangkan darinya. Kemudian mengenai umur, Rasulullah SAW juga memiliki masalah yang sama, dan yang terakhir mengenai anak, Rasulullah SAW menegaskan bahwa anak Ummu Salamah juga merupakan anaknya. Setelah terjawab permasalahan tersebut maka diterimalah lamaran Rasulullah SAW.

Selama menjadi istri Rasulullah SAW, beliau semakin banyak meraup ilmu. Hal ini tak lepas dari pola pikirnya yang kritis serta ingin belajar terus menerus. Beliau tidak segan untuk bertanya pada Rasulullah SAW apabila dirasa ada hal yang tidak dimengerti, pun selain kritis beliau merupakan rekan yang baik dan memiliki kebijaksanaan yang luar biasa.

Dikisahkan kala itu mengenai Perjanjian Hudaibiyah di mana dalam isi perjanjian tersebut dikatakan bahwa umat muslim tidak diperbolehkan untuk memasuki Mekkah hingga setahun ke depannya, padahal saat itu umat muslim sedang berihram dan ingin menandai hewan sembelihannya. Tidak terkira rasa kecewa yang diterima oleh umat muslim kala itu. Usai menyelesaikan penulisan perjanjian tersebut, Rasulullah SAW memerintahkan para sahabat untuk menyembelih hewan dan bercukur, namun tak ada yang bergeming hingga telah tiga kali diserukan oleh beliau.

Kemudian Rasulullah SAW menemui Ummu Salamah dan menceritakan apa yang terjadi. Ummu Salamah pun memberikan gagasan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, apakah engkau ingin agar mereka melakukannya? Bangkitlah, jangan berbicara pada siapa pun hingga engkau menyembelih hewan dan memanggil seseorang untuk mencukur rambutmu.” Maka Rasulullah SAW pun bangkit dan menjalankan gagasan tersebut. Melihat hal itu para sahabat pun kemudian berbondong-bondong bangkit untuk menyembelih hewan dan bercukur.
Masya Allah, bagaimana kepribadian yang dimiliki Ummu Salamah begitu luar biasa. Banyak hal yang dapat kita teladani darinya, misalnya saja saat kita sedang tertimpa musibah

banyak dari kita sering lupa dan langsung berkeluh kesah, padahal mungkin Allah SWT telah menyiapkan suatu yang begitu lebih baik dan istimewa di balik musibah tersebut. Janganlah kita berprasangka buruk terhadapnya. Kemudian kita juga harus mau terus-menerus belajar dan selalu berpikir kritis di setiap keadaan seperti yang telah dilakukan oleh Ummu Salamah.
Semoga kita dapat meneladani sifat-sifat beliau dan insyaAllah menjadi pribadi dengan sebaik kepribadiannya, aamiin ya rabbal alamin.

Sumber:
Rony Wijaya. Biografi Ummu Salamah. Dikutip dari http://bio.or.id/biografi-ummu-salamah/
Shaykh Muhammad; Hisham Kabbani and Laleh Bakhtiar (1998). Encyclopedia of Muhammad’s Women Companions and the Traditions They Relate. Chicago: ABC International Group. hlm. 461-462.
“Ummu Salamah” dalam ceramah yang disampaikan oleh Dr. Yasir Qadhi (youtube)

Dokumen dapat diunduh di bawah ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *