“Kisah Aisyah Binti Abu Bakar”

(Oleh: Hanifa Husnun – FUSI Psikologi UI 19)

“Aisyah adalah sepasang mata…”

“Aisyah adalah sepasang telinga…”

Aisyah binti Abu Bakar bin Utsman, yang memiliki sebutan Ummu Abdillah, dikenal dan digelari Ash-Shiddiqah yang memiliki arti “wanita yang membenarkan”. Ia adalah perempuan yang lahir empat tahun setelah Muhammad diangkat sebagai seorang nabi. Aisyah dijuluki Ummul Mukminin (ibunda kaum mukmin) sebab kehebatannya dalam keilmuan Islam. Juga Al-Humaira’, panggilan yang sering diberikan pada anak-anak perempuan yang pipinya terlihat kemerah-merahan. Humaira adalah sebuah kata yang bersumber dari kata “hamra” yang berarti putih, merah muda, merah, kemerah-merahan. Warna-warna yang menghiasi kehidupan Aisyah.

Aisyah kecil merupakan Aisyah yang mengenal baik ayahnya, Abu Bakar. Ayah yang selalu terlihat baru baginya. Aisyah kecil adalah seseorang yang mampu membaca setiap kekhawatiran ibunya, Ummu Rumanbinti Amir bin Uwaimir, yang berharap agar sang Suami segera pulang dengan selamat. Aisyah kecil adalah seseorang yang mampu membaca simpulsimpul kebahagiaan kakak perempuannya, Asma, saat menunggu ayahnya pulang sebagai hadiah.

Aisyah memang berbeda dari kawan-kawannya. Ia jadikan setiap detik kesabaran menunggu kepulangan ayahnya kembali ke rumah sebagai puisi, dongeng, atau bintang di hati kecilnya. “Ayah adalah penyelamat kami. Bertemu dengan ayah dalam keadaan sehat adalah harapan kami,” adalah puisi yang selalu dikutip Aisyah untuk menjawab setiap tanya kabar dari sang Ayah ketika sampai di rumah. Keinginan Aisyah yang besar terhadap puisi adalah sebuah warisan dari keluarga. Keluarganya menjadi tempat pertama yang membantunya tumbuh menjadi perempuan istimewa.

Tak hanya laki-laki yang tahu bagaimana membaca dan menulis serta menghitung dan pengetahuan sejarah, para perempuan di keluarganya juga dididik untuk belajar membaca, menghafal, dan mengetahui adab berbicara sopan-santun seperti yang diajarkan kepada lakilaki. Tak heran jika Aisyah tumbuh menjadi seseorang yang penuh rasa ingin tahu. Asma, kakak perempuannya, selalu menganggap Aisyah sebagai pertanyaan yang tak akan pernah selesai akan sejumlah rintangan yang tak mudah dilewati para perempuan.

Aisyah hidup pada suatu masa ketika hak berkata dan berpendapat hanya ada pada orang-orang yang memiliki kekuasaan dan kekuatan. Sama halnya dengan kebebasan dan harga diri. Namun, Aisyah tak pernah merasakan kesusahan dalam menyampaikan tanya dan pendapatnya. Ia percaya bahwa selamanya ia adalah putri kata-kata. Ia jadikan sebagian besar kekuatannya dalam berkata sebagai tanda syukurnya kepada Allah dan sekuat tenaga memohon pertolongan kepada-Nya. Ia cerdas dan mencerdaskan. Ia baik dan menyebarkan banyak kebaikan.

Banyak keutamaan yang ada pada diri Aisyah, sampai-sampai Rasululullah SAW mengatakan dalam sabdanya:
“Orang yang mulia dari kalangan laki-laki banyak, namun yang mulia dari kalangan wanita hanyalah Maryam binti Imron dan Asiyah istri Fir’aun, dan keutamaan Aisyah atas semua wanita seperti keutamaan tsarid atas segala makanan.”(HR. Bukhari (5/2067) dan Muslim (2431))

Beberapa di antara banyaknya keutamaan yang dimiliki oleh Aisyah:

1. Aisyah adalah orang yang paling dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari kalangan wanita.

Suatu ketika Amr bin al-Ash bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling engkau cintai?” Beliau menjawab, “Aisyah.” “Dari kalangan laki-laki?” tanya Amr. Beliau menjawab, “Bapaknya.” (HR. Bukhari (3662) dan Muslim (2384))

2. Aisyah adalah wanita yang paling alim daripada wanita lainnya.

Berkata az-Zuhri, “Apabila ilmu Aisyah dikumpulkan dengan ilmu seluruh para wanita lain, maka ilmu Aisyah lebih utama.” (Lihat Al-Mustadrak Imam Hakim (4/11))

Berkata Atha’, “Aisyah adalah wanita yang paling faqih dan pendapatpendapatnya adalah pendapat yang paling membawa kemaslahatan untuk umum.” (Lihat al-Mustadrok Imam Hakim (4/11)).

Berkata Ibnu Abdil Barr, “Aisyah adalah satu-satunya wanita di zamannya yang memiliki kelebihan dalam tiga bidang ilmu: ilmu fiqih, ilmu kesehetan, dan ilmu syair.”. Aisyah menjadi seorang Ummul Mukminin, ibunda kaum mukmin, sebab keutamaannya dalam ilmu. Aisyah sejak kecil selalu ingin tahu dan seiring berjalannya waktu ia punmenjadi perempuan pembelajar. Hidup bersama Rasulullah menjadi pemantik semangat Aisyah dalam mencari dan menyiarkan ilmu. Aisyah selalu merasa bahwa ia tahu ia merupakan seorang yang memiliki utang untuk memberikan semua yang ia pelajari dari Rasulullah kepada generasi setelahnya— seiring perjalanan ilmu dan kesaksian mengenai Rasulullah. Ia menyadari bahwa seluruh jawaban Rasulullah atas pertanyaan dunia darinya merupakan penjelasan jalan menuju Illah, tafsir ketakwaan.

3. Aisyah adalah wanita yang dibela kesuciannya dari langit ke tujuh.

Bagaimana masa kesedihan Aisyah sebab fitnah yang datang kepadanya menjadikan ia mulia di hadapan manusia. Fitnah yang datang demi menjatuhkan Rasulullah dan menyakiti Rasulullah dengan mempertanyakan kesucian istrinya. Aisyah menghabiskan malam-malam bersama ayah dan ibunya dengan menangis dan jatuh sakit. Meratap dan berdoa. Aisyah segera sadar tidak ada tempat untuk bersandar selain kepada Allah.Terbesit dalam pikirannya Ibunda Maryam yang berlindung pada kesucian. Bagaimana ia mengingat sosok Maryam sebagai contoh utama bagi semua kehormatan, kesucian, dan ketaatan kepada Allah pun tak luput dari fitnah. Ketika penduduk bumi di seluruh bagian dunia ini pun ragu pada dirinya. Aisyah pun menyadari bahwa ujian paling berat di dunia ini bagi seorang wanita adalah fitnah mengenai kesucian dan kehormatannya.

Barirah, kerabat Aisyah, yang ketika ditanya Rasulullah tentang kabar yang menimpa Aisyah ia menjawab, “Aku bersumpah kepada Allah yang mengutusmu dan agama kebenaran ini, ya Rasulullah! Aku tak menemukan hal buruk pada diri Aisyah. Jika ada keburukan pada dirinya, di antaranya ialah kadang dia tertidur ketika bekerja karena kelelahan. Ketika dia tertidur, kambing masuk, memakan tepung, kemudian pergi melarikan diri. Sungguh, aku tak memiliki apa-apa selain berkata mengenai kebaikan dirinya. Hal-hal yang aku tahu mengenai dirinya tak lain ialah mengenai emas-emas kebaikan seorang pemilik emas.”

Aisyah telah menjadi jawaban sebaik-baiknya teladan bagi perempuan. Ibunda yang cerdas dan penuh kesabaran. Seseorang yang memilih tinggal bersama Rasulullah meninggalkan harta dunia sebagai upaya meyakinkan diri untuk bertahan. Perempuan yang juga tak pernah dijanjikan kemudahan, menjadi perempuan istimewa sebab ceritanya disucikan dalam Al-Qur’an. Cemburu Aisyah adalah cemburu pada kebaikan. Keingintahuan Aisyah adalah investasinya untuk peradaban di masa yang akan datang.

Referensi:
Eraslan, S. (2015). Aisyah (ra): Wanita yang Hadir dalam Mimpi Rasulullah. Jakarta: Kaysa Media.
Muslimah Or Id. (2012). Kemuliaan dan Keutamaan Aisyah. Diakses dari https://muslimah.or.id/2833-kemuliaan-dan-keutamaan-aisyah.html

Dokumen dapat diunduh di bawah ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *