“Kisah Maryam Binti Imran”

(Oleh: Sela Viviyani – Salam UI 20)

Dialah ibunda Nabi Isa AS. Seorang wanita yang menghibahkan dirinya untuk beribadah kepada Allah. Dialah wanita mulia yang mendapatkan kehormatan ditiupkan ruh ke dalam rahimnya. Kemuliaan yang sekaligus ujian baginya. Mengandung bayi tanpa disentuh seorang laki-lakipun. Dialah wanita yang tegar menghadapi cercaan dan tuduhan kaumnya. Dialah wanita yang melahirkan tokoh besar Nabi Isa AS.

Al-Qur’an Al-Karim menyebutkan kisah Maryam yang perawan dan putranya, Isa, lebih dari sekali, tetapi kisahnya secara terperinci dipaparkan sempurna pada dua lokasi utama; yang pertama pada surat Maryam, dan yang kedua pada surat Ali ‘Imran, berdasarkan urutan turunnya.

Maryam adalah sebuah nama dalam bahasa Aram, yang asalnya Mary Ama. Mary artinya Tuhan. Ama semakna dengan amatun (dalam bahasa Arab) artinya hamba perempuan. Nama Mary Ama memiliki arti hamba (perempuan) Tuhan.

Maryam menjalani kehidupan masa kecilnya bersama ibundanya dalam sebuah keluarga yang mulia, hingga dia berusia lima tahun, lantas sang ibu membawanya dan menyerahkannya ke haikal (rumah Allah) di mana Maryam sudah di nadzarkan akan menjadi pelayan yang berkhidmat melayani keperluan di rumah Allah (Ali ‘Imran: 37). Ini adalah untuk pertama kalinya sekaligus menjadi yang terakhir kalinya seorang wanita menjadi pelayan yang berkhidmat di haikal. Dikarenakan ayah Maryam sudah meninggal sehingga harus ada orang yang mengurusinya selama di haikal, maka dilakukan pengundian dan keluarlah nama Zakariyya, suami kakak Maryam, Elizabeth.

Maryam tumbuh dewasa dan usianya kini telah mencapai enam belas tahun. Dia selalu tinggal di mihrab tempat ibadah itu. Dia beribadah kepada Allah, senantiasa melakukan i’tikaf di sana, dan nyaris tidak pernah keluar dari tempat itu. Zakariyya senantiasa memeriksa keadaanya dan mengunjunginya di mihrab, lalu Zakariyya mendapati seseuatu yang aneh di sana, setiap kali iya berkunjung, selalu iya dapati makanan di dekat Maryam saat ditanya jawaban Maryam begitu mengguncangkan hati Zakariyya, Maryam menjawab, “makanan itu berasal dari hadapan Allah. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab” (Ali ‘Imran: 37). Seketika Zakariyya berdoa kepada Rabbnya agar dikaruniai seorang anak walaupun kondisi istrinya yang mandul namun ia yakin tiada yang dapat mewujudkan segala harapan dan cita-cta kecuali Allah semata. Dan Allah mengabulkan doa Zakariyya, istrinya mengandung nabi Allah, Yahya bin Zakariyya.

Allah mengutus malaikat kepada Maryam untuk menyampaikan terpilihnya dia sebanyak dua kali (Ali ‘Imran: 42). Pemilihan pertama adalah diterimanya Maryam untuk berkhidmat kepada Allah di haikal padahal dia adalah seorang perempuan. Dia menjadi perempuan pertama yang berkhidmat dan ini tidak diberikan kepada seorang wanita pun selain dia. Pemilihan kedua adalah penyucian dirinya. Orang-orang Yahudi terus-menerus menuduh Maryam yang masih gadis itu telah melakukan zina, karena mereka mendapati Maryam bersama bayi dari pria yang meminangnya. Perkara ini terus berlangsung dan orang-orang Kristen tidak mendapati dalam kitab mereka dalil yang membebaskan Isa atau Al-Masih kecuali bahwa dia merupakan anak angkat Yusuf si tukang kayu dan bahwa dia adalah anak sulung Maryam dari Yusuf, karena keduanya menikah sesudah itu keduanya mendapatkan anugerah berupa empat orang anak, yang menjadi saudara Isa sebagaimana yang dituturkan di dalam injil. Begitulah… tuduhan zina itu terus melekat kepada Maryam dari orang-orang Yahudi, sedangkan orang-orang Kristen tidak mampu mempertahankan sesuatu yang mereka Imani, yakni terbebasnya Maryam dari kesalahan sampai datangnya Al-Qur’an. Al-Qur’an menyatakan bahwa Maryam itu suci dan bahwa dia adalah wanita yang menjaga kehormatannya. Allah menyebutkannya sebagai contoh bagi wanita shalihah (At-Tahrim: 12). Kemudian Allah menempatkannya pada kedudukan orang-orang yang benar lagi jujur (Al-Ma’idah: 75). Akhirnya, Allah mendeskripsikan sifat Bani Israil dengan kekafiran karena tuduhan keji mereka terhadap Maryam (An- Nisa: 156).

Mukjizat yang tak berulang dan takkan pernah berulang sampai kapanpun adalah kehamilan Maryam dan mengandung dengan kalimat Allah tanpa disetubuhi oleh seorang pria pun. Sesungguhnya ini adalah keterpilihan atas semua wanita sekalian alam dengan keutamaan dan kebaikan; oleh sebab itulah Ibnu Katsir mengumpulkan hadits-hadits tentang wanita yang sempurna, sebaik-baiknya wanita penghuni surga, dan sebaik-baik wanita seluruh alam, yang berjumlah empat orang. Dengan mengkaji hadits-hadits yang ada sampailah kita pada pemahaman bahwa wanita terbaik secara mutlak adalah Maryam binti Imran, lalu diikuti oleh Khadijah binti Khuwailid, kemudian Fathimah putri Muhammad SAW, kemudian Asiyah istri Fir’aun (Al-Bidayah wa an-Nihayah). Sesungguhnya ini adalah tugas yang mengangkat Maryam menuju tingkatan orang-orang yang benar dan menjadikannya sebagai sebaik-baik wanita seluruh alam. Tugasnya adalah mengandung kalimat Allah dan melahirkannya, selanjutnya memelihara sang Nabi yang masih kanak-kanak pada masa kecilnya, menjaganya, serta mendidiknya untuk melaksanakan tugas yang dibebankan atas dirinya. Hal tersulit lainnya ketiak Maryam harus menyaksikan peristiwa penyaliban atas orang yang disangka anaknya juga setelah Maryam melihat dengan mata kepalanya sendiri berbagai siksaan yang mengerikan yang dialami anaknya, baik anaknya yang sebenarnya (Isa) sebelum menyerahkan kayu salib atau orang yang diserupakan dengan Isa. Akhirnya Maryam menjalani sisa kehidupannya, setelah hatinya tenang dengan terselamatkannya putranya, baik dia mengetahui melalui mimpi ataupun wahyu dari langit. Maryam hidup selama kurun waktu tertentu bersama Yohanes –salah seorang murid Isa- bersama empat orang anaknya yang merupakan saudara-saudara Isa, hingga Allah tetapkan kematian terhadapnya, lantas dia meninggal dunia, dan Allah menerima ruhnya bersama orang-orang yang benar.

Sungguh Maryam mengajarkan kita tentang menjadi wanita special, hanya dia yang Allah pilih akan karunia tersebut. Selain itu, bagaimana perjuangan menjaga kesucian serta ketabahannya dalam menjalani segala cobaan sudah semestinya membawa kita pada keyakinan setiap wanita yang beriman pasti akan dapat menjalaninya. Karena sesungguhnya begitu banyak kisah tauladan dan contoh dari shahabiyah yang dapat kita jadikan acuan serta panduan dalam mengarungi kehidupan di dunia. Begitu banyak kita mengetahui jumlah wanita terbaik dan paling sempurna di dunia, beberapa riwayat hadits menyebutkan bahwa jumlahnya ada dua, tiga, dan adapula yang menyebutkan empat. Akan tetapi semua hadits itu di dalamnya terdapat penyebutan nama Maryam, bahkan penyebutan namanya diurutan pertama.

Referensi:

Ridha, Arkam. 2003. The 4 Greatest Women in Islamic History. Pustaka Arafah: Solo.

Dokumen dapat di unduh di bawah ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *