“Belajar Menjaga Kesetiaan dari Hudzaifah Ibnul Yaman”


Oleh: Fitri Amalina (Kepala Bidang SDM Salam UI 20)

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh

Siapa yang tak kenal dengannya ? Hudzaifah Ibnul Yaman, seorang sahabat Rasulullah yang dalam dirinya terdapat kejernihan pikiran dan kesucian hati. Konon, rupanya mirip dengan Rasulullah saw. Ia tampan, teduh, dan berwibawa.

Hudzaifah adalah sahabat Rasul yang diberi rahmat oleh Allah berupa kemampuan untuk mengetahui apa-apa yang tersembunyi melalui air muka manusia dan situasi lingkungan. Ya, ia mampu mengetahui apakah terdapat sifat munafik atau tidak di dalam jiwa seseorang hanya melalui air muka yang bersangkutan.

Kemampuan ini tidak semesta tumbuh begitu saja di dalam dirinya, melainkan karena begitu sering Hudzaifah mengasah kemampuannya itu dengan mengamati dan mencari tahu sesuatu yang tak terpikirkan oleh orang lain. Seperti riwayat yang menceritakan tentang pertanyaannya kepada Rasulullah, yang berbeda dari pertanyaan mayoritas sahabat. Di saat para sahabat bertanya tentang kebaikan, tidak dengannya, Hudzaifah justru bertanya tentang kejahatan yang mungkin muncul setelah setiap kebaikan itu terwujud. Ya, kecerdasanlah yang menuntun seorang Hudzaifah untuk mengajukan pertanyaan itu, ia bertanya bukan tanpa dasar, melainkan sebagai upaya untuk menyusun strategi agar dirinya tidak menjadi bagian dari kejahatan yang akan datang.

Kekuatan iman dan kecintaannya yang besar pada Islam membuat Rasulullah begitu mencintainya, bahkan Rasul tak ragu memilih Hudzaifah untuk mengisi posisi strategis dalam gerakan dakwahnya, terkhusus dalam perang Khandaq. Di saat seluruh pasukan mujahidin telah mencapai puncak kelaparan yang disebabkan pengepungan panjang oleh Bani Quraisy, Rasulullah pun memilih Hudzaifah sebagai utusan yang akan pergi ke perkemahan tentara Quraisy untuk melihat bagaimana kondisi musuh saat itu.

Hudzaifah pun menerima, meski baginya ini adalah tugas yang begitu berat disebabkan kondisi jasmani yang lemah di tengah terjangan badai kencang. Namun, karena kekuatan iman dan kecintaan yang besar pada Allah dan Rasul, ia pun pergi ke tempat peristirahatan tentara Quraisy.. Dengan kecerdasannya, Hudzaifah mampu melaksanakan tugas mulia itu dengan sangat baik, tanpa mendapat kecurigaan sedikit pun dari musuh. Dan satu hal yang menunjukkan prinsip sami’na wa atho’na seorang Hudzaifah, adalah ketika ia berada di antara tentara Kaum Quraisy dan mendapatkan posisi dekat dengan pemimpin Quraisy saat itu, Abu Sufyan, namun tak ada tindakan apapun yang ia lakukan, ia hanya bergumam, “Kalau tidaklah pesan Rasulullah saw. kepada saya agar saya tidak mengambil sesuatu tindakan sebelum menemuinya dulu, tentulah saya bunuh Abu Sufyan itu dengan anak panah.”.

Masyaa Allah, satu keputusan yang tentu akan sulit kita temukan di masa kini. Saat dihadapkan pada kesempatan yang begitu besar, yang sudah sangat jelas jika ia melakukan pun, bisa jadi itu adalah satu kebaikan. Namun, Hudzaifah memilih untuk taat atas perintah pemipinnya kala itu, Rasulullah saw. Sebab, Hudzaifah yakin bahwa setiap perintah dari makhluk mulia, Muhammad saw. tentu memiliki hikmah dan tujuan yang jauh lebih baik jika dibandingkan dengan keputusannya untuk membunuh Abu Sufyan, yang mungkin hanya didasarkan pada amarah dan nafsu sesaat, dan tidak ada yang tau apa yang akan terjadi setelah itu pada kaum muslimin, jika tindakan itu benar-benar ia lakukan.

Dan, setidaknya ada dua pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah Hudzaifah Ibnul Yaman ini, yaitu :

Pertama, memikirkan apa yang jarang terpikirkan (Think Out of The Box). Perluas cara kita memandang satu peristiwa dan fenomena. Karena, dengan begitu kita bisa menemukan hal-hal kecil yang mungkin menjadi jawaban atas pertanyaan kita selama ini. Dan bukankah gagasan-gagasan baru nan kreatif di masa sekarang cukup dihargai ? Maka, apa yang lebih baik dari mensyiarkan gagasan kreatif berlandaskan keimanan ditengah hiruk pikuk jaman global seperti hari ini ? Konon katanya, gagasan yang berlandaskan iman akan lebih teduh dan menyejukkan, karena tersimpan ruh di dalamnya. Dan bukankah ini yang dibutuhkan umat ? Gagasan yang berfungsi untuk mencounter gagasan lain yang bersebrangan dengan syari’at.

Kedua, menjaga kesetiaan. Kesetiaan pada jamaah (kelompok) dan pemimpin. Kesetiaan yang mencerminkan keistiqomahan dalam menjaga rasa cintanya pada jalan Islam. Siapapun kita, tentu akan sulit menjaga kesetiaan seperti Hudzaifah, kesetiaan yang dimenangkan atas nafsu, kesetiaan yang menggerakkan jasad untuk berjuang ke medan yang berat dalam kondisi yang berat pula, kesetiaan yang mampu menjaganya dari godaan nafsu untuk bersikap khianat terhadap kaum mujahidin demi mendapatkan kesejahteraan jasmani berupa makan, minum, dan mungkin tahta.

Maka, sudah sepantasnya kita jadikan kisah Sang Musuh Kemunafikan dan Kawan Keterbukaan, Hudzaifah Ibnul Yaman ini sebagai tauladan untuk senantiasa menjaga kesetiaan pada agama Islam, agama Rahmatan Lil ‘Alamiin, karena dengan menjaga kesetiaan padanya, insyaa Allah akan berbalas dengan penjagaan yang luar biasa dari Allah swt. kepada diri kita. Aamiin Yaa Robbal’aalamiin.

Wallahu’alam bi showwab.

Dokumen dapat diunduh di bawah ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *