“Qadha dan Fidyah”


Oleh: Clarisatha Adienda (Kepala Departemen Kalam BPI FKG UI 2017)

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh

Ramadhan 1438 H sudah berakhir, mungkin di antara kita, keluarga kita ada yang memiliki hutang puasanya ataupun masih belum membayar hutang puasanya yang terdahulu. Hutang puasa ini ada disebabkan karena wanita haid atau nifas, ataupun karena hal-hal yang dapat memberatkan seseorang berpuasa seperti kehamilan, melahirkan anak, menyusui, sakit dan lemah, uzur usia yang sudah sangat tua, musafir, maka orang seperti ini wajib membayar fidyah atau mengqadha sebanyak puasa yang ditinggalkan.
Sebagaimana Allah SWT berfirman

“(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. ” (QS. Albaqarah: 184).

Yang dimaksud dengan qadha’ adalah mengerjakan suatu ibadah yang memiliki batasan waktu di luar waktunya. Qadha’ Ramadhan boleh dilakukan di bulan Dzulhijah sampai bulan Sya’ban. Di antara pendukung hal ini adalah ‘Aisyah pernah menunda qadha’ puasanya sampai bulan Sya’ban.

Akan tetapi yang dianjurkan adalah qadha’ Ramadhan dilakukan dengan segera (tanpa ditunda-tunda) berdasarkan firman Allah Ta’ala,
“Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.” (QS. Al Mu’minun: 61)

Bagi orang yang sudah tua renta yang tidak mampu lagi berpuasa, serta orang sakit yang sakitnya tidak kunjung sembuh, maka wajib bagi mereka fidyah sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta’ala:
“Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin” (QS. Al Baqarah: 184).

Ibnu ‘Abbas mengatakan, “(Yang dimaksud dalam ayat tersebut) adalah untuk orang yang sudah sangat tua dan nenek tua, yang tidak mampu menjalankannya, maka hendaklah mereka memberi makan setiap hari kepada orang miskin”.

Lalu bagaimana cara menunaikan fidyah?

1. Ukuran fidyah adalah dilihat dari ‘urf (kebiasaan yang layak) di masyarakat setempat. Selama dianggap memberi makan kepada orang miskin, maka itu dikatakan sah.

2. Fidyah harus dengan makanan, tidak bisa diganti uang karena inilah perintah yang dimaksud dalam ayat.

3. Satu hari tidak puasa berarti memberi makan satu orang miskin.

4. Bisa diberikan berupa makanan mentah (ditambah lauk) atau makanan yang sudah matang.

5. Tidak boleh mendahulukan fidyah sebelum Ramadhan.

6. Waktu penunaian fidyah boleh setiap kali tidak puasa, fidyah ditunaikan, atau bisa pula diakhirkan di hari terakhir Ramadhan lalu ditunaikan semuanya.

Namun, bagaimana membayar utang puasa bagi orang yang belum sempat membayar utang puasanya tahun lalu, sedangkan puasa tahun ini sudah masuk, sedang ia belum sempat menggantinya (mengqadhanya)? Para ulama berbeda pendapat tentang Qadha dan Fidyah bagi orang yang meninggalkan puasanya tahun-tahun yang lalu dan belum diqadha (diganti) sampai masuk puasa berikutnya.

1. Menurut jumhur ulama madzhab (Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad) wajib membayar fidyah dan qadha puasa bagi orang yang telat menggati puasanya yang tertinggal tahun lalu, yaitu puasa tahun lalu yang tertinggal belum terganti sedang puasa tahun ini sudah masuk berjalan, maka setelah selesai puasa berikutnya wajib diqadha puasa yang tertinggal dan wajib membayar fidyah.

2. Sedangkan menurut madzhab Imam Hanafi hanya wajib qadha saja tidak wajib membayar fidyah.

3. Sedangkan Imam Syafi’i menambahkan syarat bagi yang telat membayar qadha puasa tahun lalu dan sudah memasuki puasa berikutnya, maka ia disamping wajib mengqadha puasa sebanyak yang ditinggalkan, maka wajib membayar fidyah ganda (berlipat) sebanyak puasa yang ditinggalkan pada tahun-tahun sebelumnya. Umpama, jika tahun lalu seseorang berutang puasa 2 hari yang belum dibayar sampai pada puasa berikutnya, maka ia wajib hanya mengqadha puasa sebanyak yang ditinggalkan dan wajib membayar Fidyahnya dengan ganda yaitu menjadi empat, karena telat tidak mengqhad hutang puasanya sampai masuk puasa berikutnya. Jadi ia wajib membayar makan orang miskin (Fidyah) sebanyak empat orang miskin atau sebanyak ukuran untuk empat orang

Demikian pembahasan tentang qadha dan fidyah yang dapat kami tuliskan. Semoga dapat menjadi landasan bagi kita untuk beramal. Adapun ketika ada perbedaan pendapat dikalangan ulama, maka ketika saudara kita menjalankan salah satu pendapat ulama tersebut dan berbeda dengan pendapat yang kita pilih, kita tidak berhak memaksakan atau menganggap saudara kita tersebut melakukan suatu kesalahan.

Wallahu A’lam Bishawab.

Dokumen dapat diunduh di bawah ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *