“Anjuran Menikah di Bulan Syawal”


Oleh: Idris Izzaturrahman Haidar (Ketua LD FUKI Fasilkom UI 2017)

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memperkenankan jasad dan ruh kita untuk singgah di bulan Syawal 1438 H ini, sesaat setelah Ia juga memperkenankan kita untuk menyelami samudera penuh berkah di bulan Ramadhan kemarin. Shalawat beserta salam tak lupa senantiasa kita sampaikan kepada sosok manusia yang paling berjasa atas tegaknya satusatunya agama Allah yang haq ini, Nabi Muhammad SAW. Insan yang setiap hembusan nafas, sikap, amal ibadah, dan perilakun beliau menjadi suri tauladan bagi umat Islam dari generasi beliau hingga saat ini. Semoga syafa’at beliau menghampiri kita di hari akhir kelak.

Izinkan penulis berbagi ilmu mengenai salah satu sunnah Rasulullah SAW di bulan Syawal, di samping berpuasa sebanyak 6 hari, yakni melakukan pernikahan.

Qadarullah, fenomena “menikah muda” sedang panas-panasnya, terlebih di kalangan mahasiswa. Cukup banyak terdengar kabar adanya kawan (atau kawan dari kawan) dan senior yang telah merencanakan pernikahan sebelum menamatkan studinya. Maksud dari perencanaan semacam ini yaitu agar pernikahan dapat langsung dilaksanakan setelah wisuda. Motif dari tiap pasangan mungkin beragam, namun insya Allah muslim/ah yang baik selalu mempunyai satu tujuan yang sama dalam menikah, yakni membangun generasi Islam.
Penulis sendiri belum berkesempatan untuk melaksanakan sunnah yang satu ini. Kendati demikian, insya Allah tidak ada salahnya berbagi ilmu syariat selama ada niat dan ikhtiar untuk menghidupkan sunnah-sunnah Rasul kita yang mulia.

Menikah secara umum merupakan sunnah Rasulullah SAW, yang sekaligus menjadi bukti bahwa beliau pun manusia biasa yang memiliki sifat dan melakukan perbuatan selayaknya manusia seperti kita. Berikut potongan sabda beliau ketika berhadapan dengan tiga orang yang masing-masing hendak melakukan shalat malam seumur hidupnya tanpa tidur, berpuasa sepanjang tahun, dan tidak menikahi wanita agar bisa terus beribadah.

“…..Demi Allah, sesungguhnya akulah yang paling takut kepada Allah dan paling taqwa kepada-Nya di antara kalian. Akan tetapi aku berpuasa dan aku berbuka, aku shalat dan aku pun tidur, dan aku juga menikahi wanita. Maka, barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku, ia tidak termasuk golonganku.” (HR. Bukhari no. 5063)

Menikah memiliki posisi yang sangat tinggi di dalam agama Islam. Menikah dikatakan sebagai fitrah manusia, karena menikah merupakan gharizah insaniyyah (naluri kemanusiaan). Apabila naluri ini tidak dipenuhi sesuai dengan satu-satunya jalur yang sesuai dengan AlQur’an dan As-Sunnah (yakni menikah), maka ia akan mencari pelampiasan melalui jalur syaithan, yaitu perzinaan. Ikatan pernikahan juga ditetapkan sebagai penyempurna agama seorang Muslim/ah.
Dari Anas bin Malik ra., beliau berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh imannya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi.” (HR. At-Thabrani)

Anjuran Menikah di Bulan Syawal

Apakah benar Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk menikah di bulan Syawal? Jawabannya ya! Beliau sendiri mencontohkannya ketika menikahi istrinya Aisyah Ra.

Aisyah ra. berkata, “Rasulullah SAW menikahiku di bulan Syawal, dan membangun rumah tangga denganku pada bulan Syawal pula. Maka istri-istri Rasulullah SAW yang manakah yang lebih beruntung di sisinya dariku?” (Perawi) berkata, “Aisyah Ra. dahulu suka menikahkan para wanita di bulan Syawal” (HR. Muslim).

Dahulu kala, orang-orang Arab jahiliyah menganggap bahwa bulan Syawal merupakan bulan yang sial untuk menikah. Anggapan ini disebabkan unta betina yang mengangkat ekornya (syaalat bidzanabiha) di bulan Syawal. Unta betina yang mengangkat ekornya menandakan bahwa unta tersebut tidak mau untuk menikah dan juga sebagai tanda menolak unta jantan yang mendekat. Oleh sebab itu, para wanita tidak mau dinikahi bahkan para wali wanita pun enggan untuk menikahkan putri mereka.

Di dalam Islam, kesialan bukanlah datang karena bertepatan dengan waktu tertentu, tempat tertentu atau yang lain sebagainya. Islam mengajarkan kita untuk beriman kepada qadha dan qadar, yaitu meyakini segala ketentuan dan ketetapan oleh-Nya untuk kita selaku hambaNya. Tidak ada sesuatu yang terjadi melainkan karena izin dari-Nya, sehingga mempercayai bahwa bulan Syawal adalah bulan yang sial untuk menikah menyalahi apa yang telah diajarkan oleh Islam. Suatu musibah yang menimpa seorang hamba bisa jadi merupakan teguran agar ia dapat kembali ke jalan yang benar, ataupun ujian agar keimanan dan ketaqwaannya dapat meningkat seiring waktu.

Sungguh mulianya Rasulullah SAW yang telah memberikan petunjuk kepada umatnya melalui pengajaran terbaik, termasuk dalam hal menikah ini. Untuk menghilangkan anggapan Arab jahiliyah tersebut, Rasul menikahi Aisyah putri Abu Bakar di bulan Syawal sebagaimana yang telah disebutkan pada hadits Aisyah sebelumnya. Meskipun keduanya memiliki jarak umur yang cukup jauh, namun rumah tangga yang dibangun antara Rasulullah dan Aisyah berjalan dengan baik tanpa berujung kepada perceraian seperti yang ditakutkan masyarakat kala itu. Salah satu bukti berjalannya rumah tangga yang harmonis antara Aisyah dan Rasulullah yaitu bahwa Aisyah merupakan wanita yang paling dicintainya. Hal ini tercatat dalam hadits,

Suatu ketika Amr bin al-Ash bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling engkau cintai?” Beliau menjawab, “Aisyah.” “Dari kalangan laki-laki?” tanya Amr. Beliau menjawab, “Bapaknya.” (HR. Bukhari no. 3662 dan Muslim no. 2384)

Menikah adalah salah satu upaya untuk menghidupkan sunnah Rasullah sehingga pasti akan selalu ada hikmah serta manfaat yang dapat diambil ketika melakukannya. Membangun generasi penerus perjuangan kaum muslimin serta menghadirkan para pejuang baru yang siap menegakkan kalimat Allah merupakan salah satu di antaranya. Rasulullah akan sangat senang ketika di hari akhir nanti melihat umatnya berjumlah paling banyak di antara umat lainnya. Pasangan yang telah menikah juga akan mendapatkan ketenangan, kelembutan hati, serta kelembutan jiwa sebagaimana yang disebutkan dalam surat Ar-Rum ayat 21.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (Surat Ar-Rum:21)

Untuk kita yang belum menikah, semoga terbesit di dalam benak kita untuk mempertimbangkan bulan Syawal sebagai bagian rencana pernikahan kita, terlepas bagaimana akhirnya Allah SWT akan menyatukan kita dengan penyempurna agama kita. Bagi kita yang merasa tidak mampu menunaikan sunnah ini (karena sudah menikah atau hal lainnya), semoga Allah mudahkan kita untuk menyebarkan ilmu ini ke orang-orang yang mungkin mampu melaksanakannya.

Mudah-mudahan tulisan ini dapat membuka mata kita semua untuk mengenal lebih banyak dan lebih jauh sunnah-sunnah Rasul yang indah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *