“Menggapai Kemenangan yang Hakiki”


Oleh: Rico Novianto (Ketua MWA UI UM 2017)

Kata kemenangan, hampir pasti merupakan kata yang dikejar oleh seluruh manusia. Kisah kemenangan selalu diceritakan turun temurun di dalam perabadan manusia, mulai dari kisah kerajaan yang saling menaklukan lewat senjata dan pembantaian hingga saat ini penaklukan “lebih halus” dengan masuknya pengaruh multi sektor seperti pemikiran maupun sektor bisnis dan diplomasi antar negara. Apabila kita mau menilai secara fair dewasa ini, umat muslim dan Indonesia dari banyak indikator belum dapat dikatakan sebagai umat pemenang dibandingkan umat beragama dan bangsa lain meski ada beberapa hal yang bisa mengatakan umat Islam dan Indonesia sebagai pemenang.

Paling terbaru, tentu krisis diplomasi di timur tengah membuat negara yang penduduknya mayoritas muslim terpecah belah. Bicara Indonesia, faktor umat Islam Indonesia tidak dapat dilepaskan dari faktor penting maju atau mundurnya negara ini. Dengan data dari BPS yang menunjukan 87 persen lebih adalah muslim dengan sektor publik juga banyak dikuasai oleh muslim, menjadi sebuah hal yang relevan apabila kita dapat menjadikan dasar kemenangan Indonesia ditentukan oleh umat muslim.

Saya masih percaya, bahwa dengan atau tanpa Tuhan, manusia dan bangsa akan dapat maju, semua tentu tergantung dari seberapa keras faktor usaha manusia dan bangsa tersebut dapat berjuang meraih kemenangan. Beberapa abad terakhir, kisah umat manusia pun banyak didominasi oleh bangsa Barat yang dimulai dari ekspedisinya mengelilingi dunia ditambah dengan tokoh seperti Aristoteles dan paham renaissance dengan revolusi industrinya yang sangat tersebar di meja akademik maupun praktik. Walaupun kala itu, bangsa lain sudah jauh melanglang buana, sebagaimana penyebaran Islam di Nusantara yang tentu akarnya berasal dari jazirah Arab dan sebelum datangnya Belanda ke Maluku, menjadi bukti bahwa sesungguhnya ekpedisi bukan hal baru di dunia pelayaran, hanya saja pelayaran Colombus dkk menjadi bersejarah karena sejarah adalah cerita para pemenang.

Bicara tentang kemenangan, izinkan saya berbicara tentang apa saja syarat kemenangan umat Islam dari apa yang saya dengar dari khutbah di hari kemenangan pada pagi yang cerah di sebuah lapangan desa di Jawa Tengah. Diceritakan sebuah kerajaan besar yang dikenal dengan Gengis Khan. Kala itu Raja Mamluk menerima sebuah surat dari Gengis Khan yang bertuliskan “Bila Mamluk tidak ingin menjadi tengkorak, maka kamu harus mencium kaki saya dan tunduk oleh saya”

Kengerian yang ditimbulkannya memang menjadi cerita luas juga oleh Raja Mamluk kala itu. seolah belum hilang di tempat-tempat yang pernah diserbu oleh pasukan Genghis Khan. Saat berkunjung ke Herat, Afghanistan, Mike Edwards mendengar komentar masyarakat tentang peristiwa yang berlaku tujuh setengah abad yang lalu itu, seolah baru saja terjadi sehari sebelumnya. “Hanya sembilan saja! Seluruh yang masih bertahan hidup di sini – sembilan orang!” seru seorang warga tua saat menggambarkan serangan Mongol ke kota itu (National Geographic, Desember 1996). Dan Herat bukan satu-satunya kota yang menerima nasib buruk dari pasukan Mongol.

Wilayah China Utara diinvasi oleh Mongol pada tahun 1211. Cucu Genghis Khan, Kubilai Khan, menyempurnakan penaklukkan China pada tahun 1279, sekitar setengah abad setelah kakeknya meninggal. Dinasti Mongol di China dikenal sebagai Dinasti Yuan.

Pada tahun 1219, pasukan Mongol menyerang kesultanan Khawarizmi dan merebut kota-kota penting, seperti Bukhara dan Samarkand. Dari sana, pasukannya menyerbu ke Utara dan mengalahkan pasukan Rusia. Kemudian berbalik arah lagi dan menaklukkan wilayah-wilayah Afghanistan dan Iran. Setelah kematian Genghis Khan, proses penaklukkan sama sekali tidak berhenti, malah semakin kuat. Sementara di Utara, tentara-tentaranya terus menginvasi Eropa Timur hingga ke Laut Adriatik, dan nyaris meneruskannya hingga ke Eropa Barat.

Pada tahun 1258, Hulagu Khan bahkan menyerang ibukota Kekhalifahan Bani Abbasiyyah di Baghdad dan menyebabkan simbol utama kepemimpinan dunia Islam itu runtuh. Dari sana, pasukan Mongol terus menginvasi Syria dan Palestina, serta berusaha masuk ke Mesir, dan Raja Mamluk kala itu dihadapkan pada pilihan sulit.

Menyerah pada Mongol yang berarti dapat mengamankan para tentara dan rakyatnya karena tidak harus berperang dengan pasukan Mongol yang mengerikan, tetapi di sisi lain itu artinya kemuliaan Islam dan moral umat Islam jatuh sejatuh-jatuhnya. Hal itulah yang dihindari oleh Raja Mamluk. Meskipun sadar tidak sebesar Bani Abbasiyah, Raja Mamluk kala itu berpidato dihadapan para pasukannya yang berpesan bahwa selama Islam masih ada di dada, maka pertolongan Allah akan datang.

Kala itu, Gengis Khan sudah berjanji akan membuat semacam bangunan tengkorak dari para tentara Mamluk, akan tetapi bukannya gentar malah menjadikan semangat juang pasukan Mamluk semakin terbakar untuk melawan tentara Gengis Khan yang sudah menyatukan Cina sebagian Eropa dan Timur Tengah. Akan tetapi, hasil berkata lain. Pasukan muslim dimenangkan oleh Allah dan perang Ayn Jalut jadi akhir dari kisah penaklukan Gengis Khan.

Pertanyaan kemudian timbul? Mengapa Gengis Khan dapat memenangkan Bani Abbasiyah yang notabene lebih besar dan pusat perabadan umat muslim, sementara justru bagian dari wilayah Bani Abbasiyah tidak dapat ditaklukan? Ya, inilah rahasia kemenangan yang dimiliki oleh umat Islam yang mungkin tidak diyakini oleh umat lain, yaitu adanya pertolongan Allah SWT.

Bani Abbasiyah waktu itu telah dijangkiti suatu penyakit Wahn, yaitu Cinta dunia dan takut mati. Inilah yang menjadi sebab kekalahan dari Bani Abbasiyah yang meski kekuataan tentara besar, sumber daya lebih banyak dengan kondisi kerajaannya lebih siap menghadapi pertempuran, tetapi apabila umat muslim telah dijangkiti penyakit ini, niscaya keruntuhan cepat atau lambat akan segera datang.

Berbeda dengan Raja Mamluk dan pasukannya. Mereka mempunyai kunci kemenangan umat muslim, yaitu moral dan spiritual. Dua modal inilah yang ditunjukan dari Raja ketika menerima surat dari Gengis Khan. Bukannya takut akan kehilangan kekuasaannya, justru yang ada dipikirannya adalah bagaimana mempertahankan kemuliaan islam yang ingin diinjak di mata kaki raja tersebut. Begitu pula spiritual yang terjaga, dengan keyakinan bahwa Allah akan hadir dalam setiap langkah, menjadi modal sangat penting bagi Raja Mamluk untuk menaklukan Gengis Khan meski tidak memiliki cukup pasukan tentara, sumber daya, maupun ilmu pengetahuan yang kurang maju.

Mungkin kita juga perlu belajar dari Arek Suroboyo dalam mempertahankan kemerdekaan dengan bambu runcing melawan senapan dan senjata canggih Belanda. Bila kita ingin tarik ke masa persiapan peperangan, tentu tidak akan lepas dari Resolusi Jihad NU yang kala itu menggerakan masa berbondong – bondong ke Surabaya dan pidato Bung Tomo yang berisi ajakan merdeka ataoe mati dengan ditutup oleh Pekikan Takbir (Allahu Akbar) Tiga Kali yang kemudian dapat memenangkan Indonesia dalam peperangan yang seakan tidak mungkin dimenangkan melihat sumber daya , tentara, maupun teknologi yang sangat timpang dikedua belah pihak.

Belajar dari hal tersebut, umat Islam Indonesia haruslah bertanggung jawab memajukan bangsa Indonesia di era AEC dan persaingan global hari ini maupun masa depan. Ada suatu perumpaan dalam sebuah film “Pak, kok saya ga dikasih menang terus?” “Bapanya kemudian menjawab “Sampai Kamu besar pun tidak ada yang akan memberikan kamu kemenangan, kemenangan itu diraih, bukan dikasih”.

Memang kita masih ketinggalan dari banyak hal, tetapi ingatlah, dengan modal moral dan spiritual , haruslah menjadi pengingat bahwa kita masih dapat menang. Janganlah umat Islam termasuk di Indonesia terjangkit penyakit cinta dunia dan takut mati. Hendaknya kita selalu memperbaiki interaksi kepada Allah dengan tidak meninggalkan amalan wajib yaitu shalat dan mengerjakan amalan sunnah seperti sedekah, sholat dhuha, sholat malam, dan tentunya melakukan pekerjaan dengan usaha yang terbaik, tetap berpegang teguh pada 5 nilai Pancasila yaitu dengan Berketuhanan, Berkemanusian, Persatuan, Bermusyawarah, dan Berkeadilan Sosial. Saya pikir dengan begitu, akan menjadi solusi bagi permasalahan bangsa dan saya percaya bahwa Allah akan memberikan jalan bagi masa depan Indonesia menggapai kemenangan yang hakiki, karena kemenangan yang hakiki itu ketika Allah berada di dalam hati.

Dokumen dapat diunduh di bawah ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *