“Idul Fitri sebagai Momentum Kebersamaan”


Oleh: Tri Musthafa Hadi (Ketua Komisi Pengawasan DPM UI 2017)

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.“ (QS. Ali ‘Imran :103)َ

“… Dan Alloh yang mempersatukan hati para hamba beriman. Jikapun kau nafkahkan perbendaharaan bumi seluruhnya untuk mengikat hati mereka, takkan bisa kau himpunkan hati mereka. Tetapi Alloh-lah yang telah menyatupadukan mereka…” (QS. Al-Anfaal : 63)

Idul Fitri merupakan sebuah momen besar bagi umat islam di seluruh dunia. Hari yang dianggap suci dan merupakan satu dari dua hari raya bagi umat islam yang menandai berakhirnya bulan suci Ramadhan. Menjadi sebuah perayaan untuk kembali berbuka setelah selama satu bulan kewajiban untuk berpuasa telah paripurna ditunaikan oleh kaum muslim. Tak terkecuali di tanah air tercinta kita, Indonesia. Umat islam di Indonesia selalu menantikan momen Idul Fitri sebagai sebuah tradisi tahunan yang mendarah daging.

Di negeri ini, terkenal dengan dua tradisi utama yaitu mudik dan halal bi halal. Tradisi yang sudah dilakukan selama beberapa dekade di Indonesia ini menuju pada suatu muara yang sama, yaitu kebersamaan dan persaudaraan. Dalam QS Ali Imran : 103 diatas, Allah menyuratkan bahwa persaudaraan merupakan sebuah nikmat yang Allah berikan kepada umat islam yang kemudian ditegaskan kembali pada QS Al Anfaal: 63. Tentunya, pada hari raya idul fitri ini adalah sebuah momentum kita untuk sama-sama memaknai kembali kebersamaan dan persaudaraan, serta merenungi kembali nikmat Allah yang satu ini.

Memaknai Tradisi sebagai Momentum Kebersamaan

Tradisi mudik merupakan suatu hajatan besar umat muslim di Indonesia, khususnya yang berada di kota-kota besar. Tak tanggung-tanggung, hajatan ini juga menjadi salah satu prioritas dan bahkan menjadi salah satu indicator keberhasilan pemerintah Indonesia dalam penyediaan sarana dan prasarana di bidang Transportasi. Tidak dapat dipungkiri bahwa mudik bukan suatu hal yang murah. Perjuangan dan biaya untuk mudik relatif mahal tidak hanya secara ekonomi, tetapi secara sosial dan psikologis. Tetapi, ketika kita menengok pada tujuan dari mudik itu sendiri, harga-harga tersebut menjadi pantas untuk dibayarkan. Soemantri (tt) dalam artikel yang berjudul “Kajian Sosiologis Fenomena Mudik” menjelaskan setidaknya ada dua motif utama masyarakat melakukan mudik di era sekarang. 1) rekreasi keluarga dalam suasana kekeluargaan; 2) pertemuan keluarga luas yang praktis, efisien, dan pada saat yang tepat secara sosio-kultural. Tentunya motif ini sangat erat kaitannya dengan waktu bersama keluarga. Maka, tradisi mudik merupakan suatu hajatan yang dapat mempertemukan kembali para pemudik dengan keluarganya, yang dapat lebih bermakna jika kita membingkainya dalam mentadabburi nikmat Allah tersebut.

Pada tradisi yang kedua, yaitu Halal bi halal, merupakan tradisi unik yang hampir tidak bisa kita temukan di Negara manapun selain di Indonesia. Secara historis, banyak versi yang mengisahkan awal mula adanya tradisi ini. Namun, yang paling populer adalah kisah tentang berkumpulnya para elit politik pasca kemerdekaan pada saat hampir terjadinya disintegerasi bangsa. Halal bi halal menjadi sebuah cara untuk mempertemukan mereka adalam suatu momen untuk saling memaafkan. Istilah “halal bi halal” ini secara eksplisit dicetuskan oleh KH. Wahab Chasbullah dengan analisa pertama (thalabu halâl bi tharîqin halâl) adalah: mencari penyelesaian masalah atau mencari keharmonisan hubungan dengan cara mengampuni kesalahan (Hazreiza, 2015). Secara praktek kekinian, halal bi halal adalah ajang dimana umat muslim di Indonesia bertemu dan bertukar maaf.

Lalu, muncul pertanyaan apakah tradisi halal bi halal diperbolehkan dalam islam? Jawaban atas pertanyaan ini pernah disampaikan oleh Ustad Farid Nu’man. Beliau berpendapat bahwa jangan sampai terjebak pada nama, tetapi esensi dari halal bi halal itu sendiri. Dalam Ushul Fiqh, lanjut beliau, ada istilah _’Urf Shahih,_ tradisi shahih, yaitu tradisi yang tidak ada dasar secara khusus tapi esensinya tidak salah dan tidak bertentangan kaidah umum agama. Seperti tradisi kerja bakti, membuat makanan lebaran lalu saling memberi makanan itu menjelang hari raya, dan semisalnya. Semua ini tidak ada dasarnya, tp tidak terlarang.

Kedua tradisi diatas bermuara pada kebersamaan atas persaudaraan umat muslim. Maka, bagi kita yang masih Allah berikan kesempatan untuk memperoleh nikmat ini, mari sama-sama kita maknai dengan lebih baik dan tentunya jangan sampai kita sia-siakan momen berharga yang ‘hanya’ sekali setahun ini. Bagi yang sempat mudik, gunakan waktu kalian bersama keluarga, saudara, sahabat, dan handai taulan kalian dengan lebih baik dan lebih bermanfaat. Bagi yang belum berkesempatan, maka sempatkanlah sejenak untuk bertukar kabar lewat alat telekomunikasi yang sudah semakin canggih di era sekarang ini dan ciptakan momen kebersamaan dengan saudara muslim yang dapat kalian jangkau.

Wallahu a’lam bisshowab.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Dokumen dapat diunduh dibawah ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *