“Idul Fitri kembali ke Fitrah?”

Oleh: Ahmad Fauzy Habiby Prasetya (Staff Media Center Salam UI 20)

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh

Allhamdulillahirabbil’alamin, Kaum Muslimin sudah melaksanakan puasa sebulan penuh di Bulan Ramadhan pada tahun ini, disamping banyak orang merasa senang dengan ber- Lebaran bersama Keluarga, perlu kita lantunkan kesedihan bahwa Bulan Penuh Berkah, Bulan Penuh Rahmat telah berakhir, dan belum tentu kita akan bertemu kembali dengan Bulan tersebut. Mari kita sampaikan doa kita kepada Allah semoga kita dipertemukan kembali dengan Bulan Istimewa-Nya, Bulan Ramadhan, Amiin.

Sering sekali kita mendengar masyarakat mengucapkan Idul Fitri sebagai moment kembali ke fitrah, dalam makna bahwa setiap orang yang berpuasa akan kembali ke keadaan seperti kala bayi. Benarkah muslim yang berpuasa selama sebulan penuh akan kembali dalam keadaan seperti bayi, dalam keadaan Fitrah? Tentu ini bukan kembali memiliki kulit yang halus dan muka tanpa jerawat seperti bayi ya hehe.

Istilah Idul fitri bila kita tinjau dari pendekatan gramatika bahasa arab tersusun dari dua kata, yakni Ied dan Al-fitri. Kata Ied memiliki banyak pendapat, ada yang berpendapat bahwa maknanya adalah kebiasaan, dan ada pula yang berpendapat bahwa maknanya adalah perayaan (Demikian yang diucapkan Ibnul A’rabi dalam Lisan Al-Arab, 3/315). Kata fitri berasal dari kata Afthara Yufthiru yang berarti berbuka (Tidak berpuasa).

Berarti maknanya apa dong? Maka makna dari Idul fitri adalah kembali/merayakan berbuka, karena selama sebulan penuh muslim berpuasa tidak boleh makan dan minum di siang hari, namun pada hari Idul Fitri kembali umat Islam diperbolehkan makan dan minum di siang hari. Kegembiraan ini memang dirayakan setiap tahun (kebiasaan) oleh umat Islam. Dan juga pada saat Idul Fitri Muslim dilarang untuk berpuasa pada hari – hari tersebut.

Berarti, makna Kembali ke Fitrah salah dong?

Tidak sepenuhnya salah, hanya pengartian yang perlu diluruskan hehe.  Apakah kembali ke fitrah berarti menjadi seperti bayi yang bebas dari dosa? Makna ini masih harus dilengkapi. Adapun keadaan fitrah yakni seperti bayi tidak hanya sekadar bebas dari dosa namun juga kembali memiliki Aqidah yang lurus. Seorang Muslim yang berpuasa dan beribadah dengan sungguh – sungguh sebulan penuh di Bulan Ramadhan akan memiliki Iman dan Ketaqwaan yang lebih dibandingkan sebelum – sebelumnya, bahkan seperti kembali ke fitrah. Dalam sebuah hadist disebutkan makna dari fitrah.

“Tidaklah setiap anak yang lahir kecuali dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orangtuanyalah yang akan menjadikannya sebagai Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Seperti hewan yang melahirkan anaknya dengan sempurna, apakah kalian melihat darinya buntung (pada telinga)?”

(Diriwayatkan oleh Al-Imam Malik, Al-Imam Ahmad, Al-Imam Al-Bukhari, dan Al-Imam Muslim)

Sesuai dengan hadist diatas bahwa bayi telah dilahirkan dalah keadaan fitrah, kemudian dijadikan oleh orangtuanya Yahudi, Nasrani, atau Majusi, maka fitrah bermakna Aqidah asal sebelum dibengkokkan yakni Aqidah Islam yang lurus. Maka Muslim yang dikatakan kembali ke fitrah adalah kembali ke Jalan Islam yang lurus selepas berusaha mendekatkan diri kepada Allah di Bulan Ramadhan, semakin bertaqwa kepada-Nya. Allah SWT. berfirman:

نوقتت مكلعل مكلبق نم نيذلا ىلع بتك امك مايصلا مكيلع بتك اونمآ نيذلا اهيأ اي

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” [Al-Baqarah: 183]

Lalu bagaimana dengan makna bebas dari dosa? Hal ini perlu diluruskan. Makna fitrah yang banyak diartikan orang adalah bahwa setelah berpuasa selama sebulan, seluruh dosa dibersihkan  dari  amalan  seorang  Muslim.  Sebagaimana hadits  yang terdapat  dalam  ash- Shahihain dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

هبنذ نم مدقت ام هل رفغ اباستحاو اناميإ ناضمر ماص نم.

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena keimanan dan mengharapkan pahala (dari Allah Subhanahu wa Ta’ala), niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

Namun ada kesalahan disini. Ada 2 kriteria penilaian amal yakni keabsahan amal dan diterimanya amal. Adapun keabsahan amal, artinya amal yang sah, tidak perlu diulangi dan menggugurkan kewajiban, maka manusia bisa menilainya. Selama amalan tersebut dijalankan sesuai dengan syarat sah, wajib, dan rukunnya, maka amal tersebut sah.

Namun bagaimana dengan diterimanya amal? Allahu a’lam. Hanya Allah yang tahu, manusia tidak dapat dan tidak akan bisa mengetahuinya karena hal tersebut menjadi Hak Allah. Karena itulah tidak dapat kita memastikan bahwa amal yang kita kerjakan di bulan Ramadhan sepenuhnya diterima dan dosa – dosa kita diampuni oleh Allah. Yang dapat kita lakukan adalah selalu memohon dan berdoa kepada-Nya semoga amalan kita diterima oleh Allah SWT, Amiin.

Kita sebagai Umat Islam yang mengikuti Agama Allah harus bisa mempelajari firman- Nya dengan lebih mendalam seraya mendekatkan diri kepada-Nya agar kita mendapat petunjuk-Nya. Semoga amalan kita selama Bulan Ramadhan diterima di Sisi Allah SWT. Dan kita selalu ditempatkan-Nya dalam barisan Ummat-Nya yang menikmati indahnya Islam dan InsyaAllah semoga kita  dipertemukan  kembali  dengan  Bulan Ramadhan  di  tahun depan ataupun hingga Allah memanggil kita dalam keadaan istiqamah di Jalan-Nya, Amiin.

TaqabbalAllahu minna wa minka

Wassalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *