“Memaknai Kemenangan”


Oleh: Fahrudin Alwi (Ketua LDKN Salam UI 20 – Ketua Puskomnas FSLDK Indonesia)

Idul Fitri, salah satu hari yang ditunggu sebagian besar umat manusia, terkhusus Muslim.  Disebut ‘Id karena pada hari itu Allah memberikan berbagai macam kebaikan kepada kita. Diantara kebaikan itu adalah nikmat berbuka setelah larangan makan dan minum selama bulan suci Ramadan dan kebaikan berupa diperintahkannya mengeluarkan zakat fitrah.

Meneropong Sejarah

Sebelum ajaran Islam diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, masyarakat Jahiliyah sudah memiliki dua hari raya, yakni Nairuz dan Mahrajan (Hannan Hoesin Bahannan dkk: Tuntunan Ibadah Ramadhan dan Hari Raya, 2002). Kaum Arab Jahiliyah menggelar kedua hari raya itu dengan pesta, menari –baik tarian perang maupun ketangkasan-, bernyanyi, dan menyantap hidangan lezat serta minuman memabukkan. Nairuz dan Mahrajan sendiri merupakan tradisi hari raya yang berasal dari zaman Persia Kuno.

Setelah Islam hadir, Rasulullah SAW melarang perayaan dengan minuman memabukkan dan ghuluw (berlebihan) dalam berpesta. Idul Fitri sendiri turun setelah adanya kewajiban menunaikan ibadah puasa Ramadan pada 2 Hijriyah, saat terjadinya Perang Badr Kubra. Dalam pertempuran itu, umat Islam meraih kemenangan. Sebanyak 313 (sebagian menyebutkan 313, 314, 317, dll) kaum Muslimin harus berhadapan dengan lebih dari 1.000 tentara dari kaum Quraisy (Safiyyurrahman Al Mubarakfury: Sirah Nabawiyah, 2010). Pada tahun itu, Rasulullah SAW dan para sahabat merayakan dua kemenangan, yakni keberhasilan mengalahkan pasukan kaum Quraisy dalam Perang Badr Kubra dan menaklukkan hawa nafsu setelah sebulan berpuasa. Dari sinilah lahirnya ungkapan “Minal ‘aidin wal faizin” yang lengkapnya ungkapan doa kaum Muslim saat itu: “Allahummaj ‘alna minal ‘aidina walfaizinYa Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang kembali (dari Perang Badr) dan mendapatkan kemenangan.

Menurut sebuah riwayat, Nabi SAW dan para sahabat menunaikan Shalat ‘Id pertama kali dalam kondisi luka-luka yang masih belum pulih akibat Perang Badr Kubra. Rasulullah SAW pun merayakan Hari Raya Idul Fitri pertama dalam kondisi letih. Sampai-sampai Nabi SAW bersandar kepada Bilal bin Rabbah ra dan menyampaikan khutbah ‘Id. Dalam suasana ‘Id, para sahabat saling bertemu dengan mengucapkan doa “Taqabbalallahu minna wa minkum“, “semoga Allah menerima ibadah kita semua” sebagaimana yang diriwayatkan oleh Jubair bin Nufair.

Maka sejak saat itu Nairuz dan Mahrajan diganti menjadi Idul Fitri dan Idul Adha sesuai dengan hadits Nabiyullah, “Sesungguhnya Allah mengganti kedua hari raya itu dengan hari raya yang lebih baik, yakni Idul Fitri dan Idul Adha.” (HR. Daud dan Nasa’i).

Memaknai Kemenangan

Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah menyampaikan nasehat yang amat baik, “Barangsiapa melakukan dan menyelesaikan suatu ketaaatan, maka di antara tanda diterimanya amalan tersebut adalah dimudahkan untuk melakukan amalan ketaatan lainnya. Dan di antara tanda tertolaknya suatu amalan adalah melakukan kemaksiatan setelah melakukan amalan ketaatan. Jika seseorang melakukan ketaatan setelah sebelumnya melakukan kejelekan, maka kebaikan ini akan menghapuskan kejelekan tersebut. Yang sangat bagus adalah mengikutkan ketaatan setelah melakukan ketaatan sebelumnya. Sedangkan yang paling jelek adalah melakukan kejelekan setelah sebelumnya melakukan amalan ketaatan. Ingatlah bahwa satu dosa yang dilakukan setelah bertaubat lebih jelek dari 70 dosa yang dilakukan sebelum bertaubat. Mintalah pada Allah agar diteguhkan dalam ketaatan hingga kematian menjemput. Dan mintalah perlindungan pada Allah dari hati yang terombang-ambing.” (Lathaif Al-Ma’arif, Ibnu Rajab Al Hambali, hlm. 393)

Maka sesungguhnya kemenangan itu ialah ketika kita bisa melakukan ketaatan yang berkelanjutan. Menjalankan ketaatan berikutnya dengan kualitas nilai yang jauh lebih baik. Maka sesungguhnya makna kemenangan ialah ketika ibadah kita bisa mencegah kita dari dosa durhaka di waktu berikutnya.

Salim A Fillah pernah menyampaikan, “Tanda diterimanya taubat seorang hamba adalah kekeliruan lalunya tak diulang lagi; dalam harap-harap cemas terus mencurigai diri sendiri; lalu sibuk berketaatan memperbaiki amalan. Maka jika kita tidak mampu bersaing dengan para shalihin, mari berlomba dengan para pendosa dalam istighfarnya.”

“Kembali lagi melakukan puasa setelah puasa Ramadan, itu tanda diterimanya amalan puasa Ramadan. Karena Allah jika menerima amalan seorang hamba, Allah akan memberi taufik untuk melakukan amalan shalih setelah itu. Sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama, ‘Balasan dari kebaikan adalah kebaikan selanjutnya.’ Oleh karena itu, siapa yang melakukan kebaikan lantas diikuti dengan kebaikan selanjutnya, maka itu tanda amalan kebaikan yang pertama diterima. Sedangkan yang melakukan kebaikan lantas setelahnya malah ada kejelekan, maka itu tanda tertolaknya kebaikan tersebut dan tanda tidak diterimanya.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 388).

Selamat memaknai kemenangan! Selamat menjadikan Ramadan sebagai pelecut untuk bisa mengoptimalkan amalan kebaikan di 11 bulan berikutnya. Kita jadikan Syawal ini sebagai momentum untuk meresolusi diri, keluarga, dan masyarakat. Mari bersaing dengan para shalihin dalam ketaatannya! Mari berlomba dengan para ‘pendosa’ dalam istighfarnya!

Taqabbalallahu minna wa minkum!

Dengan kerendahan hati saya pohonkan maaf atas segala khilaf.

Al Faqir Ilallah,
Fahrudin Alwi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *