“Ramadhan untuk Indonesia”

Oleh: Rafli Amri – Wakil Ketua LD KAIFA FIA UI 2017

Alhamdulillaahirabbil’aalamiin, tak henti-hentinya lisan ini mengucap syukur atas  rahmat Iman dan Islam, serta kesempatan yang selalu dilimpahkan oleh Allah SWT kepada kita semua, sehingga kita masih diizinkan untuk menikmati dan memetik keutamaan-keutamaan di bulan suci Ramadhan yang sebentar lagi mulai memasuki sepuluh hari terakhirnya.

Sebagai seorang muslim kita tentu mengetahui bahwa berpuasa di bulan mulia ini merupakan suatu amalan yang wajib kita lakukan sebagai umat Islam. Kita wajib menahan godaan lapar dan haus, menahan nikmatnya serangan hawa nafsu yang selalu menguji keimanan kita yang belum mencapai tahapan yang kokoh. Semua nya kita lakukan dalam rangka menunjukan eksistensi keimanan kita kepada Allah SWT dengan berharap diampuninya dosa yang telah kita lakukan. Rasulullah saw bersabda :“Barangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 38 dan Muslim no. 760).

Terkait hikmah berpuasa, di beberapa tulisan beserta dalil yang memperkuatnya, ada yang mengaitkan puasa dengan keutamaan menahan hawa nafsu, keutamaan sabar dan meredam amarah. Ada juga yang mengaitkan puasa dengan keutamaan menghindari perselisihan dan mencaci. Rasulullah saw berkata : “Sesungguhnya puasa itu adalah tameng. Apabila salah seorang di antara kalian sedang berpuasa, maka janganlah ia berkata keji dan janganlah ia melakukan kebodohan. Apabila seseorang menyerangnya atau mencacinya, maka hendaklah ia berkata, “Sesungguhnya aku sedang berpuasa.” (HR Bukhari dan Muslim).

Keutamaan mengendalikan amarah. Amarah mendatangkan perpecahan dan permusuhan. Amarah adalah api yang tersimpan di dalam hati sebagaimana bara yang tersimpan di bawah abu dan akan dikeluarkan oleh kesombongan yang tersembunyi. Amarah sangat dekat dengan Neraka Jahannam. Amarah sangat dekat dengan timbulnya rasa dendam yang akan melahirkan kedengkian dalam hati. Orang yang dapat menguasai dan mampu mengendalikanrasa marah dalam dirinya lebih kuat daripada orang yang dapat menaklukan sebuah kota. Keutamaan mengendalikan hawa nafsu. Mengikutinya sama saja dengan mengikuti iblis yang merupakan industri/pabrik segala kejahatan. Jika tunduk akan perintahnya, maka diri akan rusak. Sebaliknya jika lalai untuk menundukannya, maka kita akan tenggelam. Rasulullah SAW mengajurkan kita untuk melawannya dengan rasa lapar atau berpuasa. Rasulullah SAW bersabda,“Sesungguhnya setan mengalir di dalam tubuh anak Adam seperti mengalirnya darah. Karena itu, bersihkanlah aliran-alirannya dengan rasa lapar.” (HR Bukhari, Muslim, Ahmad, dan Darimi).

Jika kita cermati lebih dalam lagi, hikmah berpuasa sangatlah dekat dengan eksistensi kehidupan bermasyarakat. Terutama menjaga persatuan dan kesatuan umat yang mana menjadi PR besar bagi bangsa ini untuk mengatasinya. Seperti yang kita lihat dan saksikan, masyarakat Indonesia sangat rentan terhadap informasi-informasi (hoax), berita-berita bernada provokasi, yang belum tentu benar adanya, bahkan sering mengundang kemarahan antar kelompok masyarakat. Tidak hanya itu, gencarnya infomasi-informasi yang memberikan sinyal keburukan atau kekurangan akan satu/ beberapa golongan semakin memperbesar potensi konflik kebhinekaan yang menjadi alat kepentingan bagi beberapa oknum. Sudah selayaknya, masyarakat Indonesia terutama umat Islam untuk senantiasa berhati-hati dan cerdas dalam menanggapi setiap informasi yang didapati. Terutama di bulan suci Ramadhan yang dapat kita jadikan sebagai momentum untuk mengendalikan emosi dan kemarahan. Jangan mudah terprovokasi dan selalu menahan pendengaran dari segala sesuatu yang dibenci Allah SWT. Senantiasa menjaga lidah untuk tidak berkata dusta, bergibah, berkata keji, dan berbicara kasar, melainkan sebaliknya penuhi amalan dan menyibukan diri dengan berzikir kepada Allah SWT, dengan demikian tentu potensi konflik akan dapat dihindari dan persatuan dan kesatuan di ibu pertiwi akan selalu terjaga.Bukankah memang demikian, Allah menganugerahkan bulan yang mulia ini kepada kita agar kita dapat memperbaiki diri melalui pembiasaan-pembiasaan diri di setiap waktunya?

Bukankah Nabi Muhammad SAW, juga mengisyarakatkan kepada kita bahwa puasa merupakan tameng yang dapat melindungi diri dari perkataan-perkataan keji dan kebodohan? Pun bukankah seorang muslim apabila mencela seorang Muslim

Semoga di bulan Ramadhan ini dapat menjadi moment terwujudnya persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Ramadhan dapat menjadi perekat persaudaraan yang bisa jadi di akhir-akhir waktu ini mulai terkikis oleh kepentingan kelompok-kelompok yang mengharapkan keduniaan. Semoga Ramadhan tahun ini menjadi berkah bagi Indonesia tercinta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *