“Mencari Setitik Cahaya Ramadhan di Bumi Sham”


Oleh: A. Widya Nugraha (Deputi Salam International Center Salam UI 20)

“Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kamu ayat-ayat yang memberi penerangan, dan contoh-contoh dari orang-orang terdahulu sebelum kamu dan pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa”
Q.S. An-Nur ayar:34

Kehadiran Ramadhan di bumi Indonesia nampaknya membawa kesan tersendiri bagi kita sebagai umat muslim yang tinggal disini, dari mulai pawai obor dalam menyambut datangnya ramadhan, membuat meriam bambu yang ditembakkan saat waktu buka dan juga tidak kalah kegaduhan anak kecil yang membangunkan sahur yang terkadang membuat kita kesal akan tindakan mereka.

Nuansa Ramadhan yang dihadirkan pun terasa hangat ditengah sanak keluarga, dimulai dari berbuka puasa bersama hingga menunaikan shalat secara berjamaah. Namun, nampaknya hal ini mungkin sudah tidak bisa dirasakan lagi oleh saudara-saudari kita yang berada di Suriah dan sekitarnya.

Suriah sebelum berkecamuknya tragedi kemanusiaan, merupakan negeri yang dimana merayakan Ramadhan merupakan sebuah tradisi yang dilakukan secara turun-menurun. Damaskus sebagai ibu kota, dahulu merupakan kota yang tidak pernah padam oleh cahaya lentera selama Ramadhan berlangsung. Berbagai proses ritual dan tradisi Ramadhan dilakukan warga Suriah tanpa henti, tetapi kini semua itu hanya tinggal cerita bagi mereka.

Perang yang terjadi sejak tahun 2011 memadamkan kebahagiaan penduduk Suriah. Meletusnya perang amat berdampak terhadap setiap aspek dalam masyarakat. Faktor keamanan dan keberlangsungan ekonomi yang memburuk akibat perang memainkan peran penting dalam mengubah kehidupan sosial masyarakat Suriah.

Damaskus dahulu pernah menjadi salah satu kota teraman di Suriah. Namun, kini situasinya sudah tidak bersahabat dan tidak kondusif. Hampir tidak ada kendaraan yang dijumpai di jalanan Damaskus diatas jam 10 malam selama Ramadhan. Orang-orang lebih memilih menetap di rumah daripada harus dihantam oleh peluru tajam patroli penjaga kota.

Penduduk Damaskus tidak lagi dapat mendenga meriam yang biasa ditembakan tiga kali sehari selama Ramadhan. Hari ini, sebagai gantinya adalah suara tembakan mortir dan ledakan yang hampir terjadi setiap saat di pinggiran kota. Suasana yang hangat bersama keluarga yang berkumpul di meja makan untuk berbuka atau sahur semakin jarang terlihat di pelosok kota. Tradisi permen Ramadhan pun yang semula amat ditunggu-tunggu oleh berbagai kalangan kini mulai ditinggalkan.

Rumah-rumah penduduk yang biasanya penuh dengan dekorasi dan pernak-pernik Ramadhan kini sudah jarang ditemukan. Lentera yang menjadi simbol keagungan Ramadhan pun kini tidak lagi digantungkan di sisi-sisi jalan. Semua itu adalah tradisi Ramadhan di Suriah yang kini dilupakan, karena konflik yang berkepanjangan.

Cahaya Ramadhan pun hanya bisa dinikmati dengan mengingat kembali suasana dan tradisi yang dilakukan sebelum pecahnya perang. Kini semua tradisi dan suasana tersebut mustahil untuk dihadirkan kembali.

Dokumen dapat diunduh di bawah ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *