“Memaafkan Diri Sendiri”


Oleh: Muhammad Grand Perwiranegara (Staff FSIPreneur FSI FISIP UI 28)

Pernahkah kita menyalahkan diri kita sendiri?

Saya pernah, dan tentu saja setiap orang juga pernah melakukannya

Kita menyesali masa lalu kita yang tidak menyenangkan. Mungkin ada dari kita yang memiliki orang tua kandung yang sudah bercerai, pernah memiliki kenangan dengan pacar, pernah tidak lulus tes masuk perguruan tinggi, merasa mendapat nilai yang tidak sebanding dengan usaha yang sudah dilakukan, ataupun pernah tidak perform dalam suatu kepanitiaan atau organisasi.

Kita menyalahkan diri kita yang tidak memiliki pencapaian sehebat teman kita yang lain. Kita melihat IP kita tidak sebagus IP teman kita. Kita melihat teman kita banyak mengikuti konferensi atau memenangkan berbagai kompetisi sementara kita hanya berkutat dengan rutinitas yang tak kunjung habis. Kita melihat teman kita lebih lancar progress skripsinya dibandingkan skripsi kita.

Dan berbagai cerita tidak menyenangkan lainnya.

Hingga kita memberikan berbagai predikat buruk kepada diri kita atas serangkaian masa lalu yang tidak menyenangkan tadi. Merasa payah, tidak berguna, penyesalan yang berkepanjangan, merasa ditinggalkan, merasa mengecewakan atau dikecewakan orang lain, dan meratapi diri kita yang tidak becus menjalani semuanya.

Kita ingin semuanya berjalan normal dan sesuai dengan keinginan kita. Tetapi kehidupan tidaklah demikian. Banyak kejutan terjadi di tengah perjalanan.

Terkadang kita tidak menyadari sepenuhnya, bahwa masa lalu, seburuk apapun itu, tidak dapat kita putar kembali. Terkadang kita mulai melupakan bahwa takdir adalah manifestasi yang berada di luar kontrol kita.

Maafkanlah diri kita sendiri atas berbagai masa lalu yang tidak menyenangkan dan berbagai kesalahan yang sudah terjadi. Berdamailah dan terimalah sebagai bagian dari hidup kita. Dengan menerima keutuhan diri kita. Karena setiap dari kita berharga. Setiap dari kita berhak untuk hidup lebih baik dan lebih bahagia. Setiap dari kita memiliki jalan hidupnya masing masing. Dan Allah sudah memberikan skenario yang terbaik untuk kita.

Bukan tidak mungkin memaafkan diri kita sendiri adalah perkara yang lebih sulit dibandingkan memaafkan orang lain. Karena kita terlampau sering menganggap rendah diri kita dan mulai melupakan hal hal positif yang sudah kita lakukan.

Sebagai penutup, izinkan saya berbagi salah satu nasihat dari teman saya. Ia adalah Kak Grady Nagara, salah satu senior saya di FISIP UI yang berbeda dua angkatan dari saya. Ketika ia dinyatakan kalah dalam Pemira BEM FISIP UI 2014 dengan selisih suara yang cukup jauh, ia memberikan nasihat yang menurut saya amat berharga

Kegagalan bukanlah ketika kita berada di posisi yang tidak sesuai dengan ekspektasi kita.
Kegagalan adalah ketika kita tidak tahu lagi langkah kita berikutnya apa

Yuk, di bulan ramadhan ini, selain memaafkan kesalahan orang lain, jangan lupa berdamai dan memaafkan diri kita sendiri.

Dokumen dapat diunduh di bawah ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *