“Delay of Gratification : Sebuah Konsep Menunda dalam Islam”


Oleh: Dian Fatmaa Thaib (Kepala Departemen Kajian Islam Strategis FUSI Psikologi UI 19)

Di suatu hari yang terik, di bulan Ramadhan, Ms X sedang sedang berjalan-jalan di pasar karena rute dari tempat kerja menuju rumahnya yang memang melewati pasar, dimana di didalamnya dijual berbagai macam hidangan untuk berbuka puasa.
“Ya Salam, ini es buah nya menggoda banget” “ Innalillahi, es kelapa muda nya kok seger gitu ya keliatannya” “Ondeh mandeeh cincauu” “Ya Allah haus, aku gak kuat, aku buka sekarang aja apa ya?”

Apakah Ms X akan memilih untuk minum es cincau? Atau apakah ia akan menunda hingga waktu bedug tiba?

Sebelum itu, mari kita simak sebuah bahasan di Psikologi yang berkaitan dengan kejadian di atas. Mari Berkenalan dengan Delay of Gratification. Istilah Delay of Gratification secara sederhana dapat diartikan sebagai kegiatan menunda sebuah kesenangan yang tersedia saat ini untuk mendapat kesenangan yang lebih besar nantinya. Seorang pakar psikologi bernama Walter Mischel pada tahun 1960-1970 telah membuat suatu penelitian eksperimen terkait konsep Delay of Gratification, yang kemudian di kenal dengan nama “The Marshmallow Test”.

Penelitian yang dilakukan di Universitas Colombia ini melibatkan tak kurang dari 653 anak berusia 4-5 tahun. Setiap anak akan diberikan satu marshmallow, dan akan mendapat tambahan satu marshmallow lagi, hanya jika ia berhasil menunggu penguji yang akan datang dalam 15 menit kedepan tanpa memakan marshmallow yang ada dihadapannya. Waktu 15 menit dipilih karena Mischel memahami, bahwa bagi anak-anak waktu 15 menit bukanlah waktu yang singkat, terlebih mereka disuruh menunggu bersama makanan yang paling mereka sukai. Uniknya, hasil penelitian ini dilihat bukan saat itu, melainkan beberapa tahun kemudian, saat anak sudah beranjak dewasa . Hasilnya mengagumkan, Mischel menemukan korelasi yang kuat antara kemampuan menahan diri (atau menunda kepuasan) dengan masa depan yang lebih baik, dimana anak yang berhasil menunda memakan marshmallow yang ada dihadapannya terbukti lebih sukses di masa depan mereka, karena kontrol diri yang baik yang mereka miliki (Mischel, 2003).

Sesungguhnya, jika kita telaah lebih dalam, konsep delay of gratification ini sangat berkaitan dengan nilai-nilai yang dianut dalam agama islam, yang diimplementasikan dalam berbagai ibadah ritual umat muslim, yang salah satunya ialah Puasa. Seseorang yang berpuasa akan menahan haus dan lapar dari waktu subuh hingga maghrib datang, tidak hanya itu mereka yang berpuasa juga dituntut untuk dapat mengendalikan diri dari hal-hal yang dapat merusak pahala puasa tersebut. Kita boleh saja memilih untuk makan, minum, dan mengerjakan hal-hal yang dapat merusak ibadah puasa tanpa seorang pun mengetahui, namun dengan konsekuensi berupa alfanya kita dari merasakan nikmatnya berbuka puasa, yang menjadi satu diantara 2 kebahagiaan orang yang berpuasa. Sebagaimana dalam hadis qudsi Allah Ta’ala berfirman, “Bagi orang yang melaksanakan puasa ada dua kebahagiaan; kebahagiaan ketika berbuka, dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabbnya.” (muttafaq ‘alaihi). Rasa puas karena mampu menahan diri hingga dapat berbuka dengan nikmat, merupakan buah dari kesenangan yang kita tunda saat lapar dan haus melanda di siang hari.

Lebih jauh lagi, Islam sejatinya telah mendeklarasikan ‘penundaan kebahagiaan yang sementara’ sebagai inti dari ajarannya. Konsep “Hari Akhir” adalah salah satu yang paling utama. Dalam banyak ayat di dalam Alquran telah disebutkan, bahwa sesungguhnya kehidupan manusia di alam dunia itu ialah sementara, maka dari itu hendaklah mereka berhati-hati dan mampu menahan diri dari perilaku-perilaku yang akan membuat mereka mendapat azab dan gagal memperoleh surga-Nya kelak di hari akhir. Islam meyakinkan setiap umatnya untuk tidak berlebih-lebihan dalam urusan dunia, karena kebahagiaan yang sesungguhnya itu ialah nanti, di alam akhirat.

Oleh karena itu, bolehlah kiranya, di momen Ramadhan yang tak lama lagi akan pergi ini, kita sama-sama memaksimalkan untuk terutama melatih kemempuan delay of gratification untuk dapat menghadapi 11 bulan kedepan yang mungkin akan dipenuhi oleh kejutan-kejutan yang menuntut kontrol diri yang tinggi dalam menghadapinya. Rasa malas untuk beribadah, agenda bukber yang tak jarang membuat sholat tarawih tereliminasi ataupun rasa kantuk yang acap kali menggagalkan niat bangun di sepertiga malam agaknya dapat menjadi hal-hal yang kita tunda terlebih dahulu demi mendapatkan kemenangan yang lebih hakiki diakhir Ramadhan nanti. Semoga kita termasuk orang-orang yang dapat menunda kebahagiaan sesaat, untuk mendapat kebahagiaan yang lebih kekal nantinya.

Epilog : “Ini teh jadi gak neng es cincau nya?”, “Eh maaf bang, gajadi, nanti aja deh kayaknya, waktu udah deket mau buka”, begitulah akhirnya Ms X mengurungkan niatnya untuk membatalkan puasanya dengan es cincau di siang yang terik itu.

Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal. (QS Al-Ghafir 40:39)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *