“Menerima Islam Seutuhnya”


Oleh: Fatchurrahman Geigy Haryutama (Ketua LD Serambi FHUI 2017)

“Eh iya ya, buat apa yak gue shalat setiap hari? Emang dapet pahala terus bisa masuk surga ? Yakin surga neraka itu ada ? Ah, palingan ayat Qur’an juga belum tentu bener, mungkin aja kitab suci yang lain bener ! Hmm tapi gue shalat dulu aja kali ya, kali aja beneran bisa masukin gue ke surga”. Begitulah pikiran-pikiran yang ada di kepala Fulan saat akan menunaikan Shalat Ashar hari ini. Selama 20 tahun menjadi Muslim, tak jarang Fulan menanyakan ke diri sendiri, apakah dia sudah beriman kepada agama yang pasti benar, atau masih ada kepercayaan yang lebih benar lagi.

Santai bro sis, cerita diatas hanya fiksi kok. Atau, ternyata kita tak jarang juga memiliki pikiran seperti itu ? Astaghfirullaah, ternyata aku sendiri juga pernah berpikiran seperti itu. Sebenarnya, mempunyai pola pikir seperti itu akan menuntun kita sebagai umat Islam untuk lebih mendekat kepada sumber ajaran agama Islam itu sendiri, seperti Al Qur’an, Hadits, dan Ijtihad. Ah, jadi teringat suatu ayat yang pernah menamparku saat ku berpikiran seperti itu. “Kebenaran itu datang dari Tuhanmu, maka janganlah kamu menjadi orang-orang yang ragu” Ayat tersebut merupakan ayat ke 147 dari Surat Al Baqarah. Ayat itu secara persis menohok sekali di relung hatiku, ternyata selama aku hidup di dunia ini, aku masih menjadi Muslim yang ragu-ragu. Iya, ragu. Mudahnya, masih belum percaya Islam seutuhnya dan masih percaya bahwa ajaran agama lain mungkin saja benar. Astaghfirullaaah.

Hei, kawan! Pernah ku berpikir, apakah meyakini Islam sebagai kebenaran yang absolut merupakan tindakan yang egois? Bukankah itu sama saja melukai perasaan teman-temanku yang meyakini agama lain? Bukankah agama atau kepercayaan lain juga perlu dihargai dan dianggap sebagai sebuah kebenaran pula? Ketika aku tanyakan hal tersebut kepada Murabbi-ku, dengan sederhana dia menjawab bahwa meyakini sebuah agama atau kepercayaan sebagai sebuah kebenaran yang absolut merupakan konsekuensi dari beragama. Reaksiku? Hanya mengangguk-angguk karena aku sendiri belum sepenuhnya paham mengenai hal tersebut.

Hingga pada akhirnya, ketika masa Pemilihan Umum di suatu daerah terjadi, dan Umat Islam bersatu untuk menyuarakan pembelaan terhadap salah satu tindakan dari pasangan calon Gubernur saat itu, aku tersadar dengan sebuah keheranan, apa yang menggerakkan jutaan massa ini untuk melakukan tindakan bela agamanya ? Aku tersadar bahwa inilah yang disebut sebagai konsekuensi dari ber-Islam, atau secara lebih luas, beragama. Ketika kita tidak meyakini agama sebagai sebuah kebenaran yang absolut, maka untuk apa kita beragama ? Maka untuk apa kita meluangkan waktu di setiap hari kita untuk sekedar beribadah atau mendekatkan diri kepada Rabb ?

Maka di momen Ramadhan ini adalah sebuah momen yang tepat bagi kita untuk kembali mempertanyakan ke diri sendiri, apakah kita sudah menjadi hamba yang tidak ragu dalam meyakini kebenaran Islam ? Atau kita masih berada dalam keadaan menjadi seorang hamba yang ragu ? Momen Ramadhan juga menjadi sangat tepat bagi kita yang telah memiliki niat kuat dalam meyakini Islam sebagai kebenaran yang absolut, karena ini merupakan kesempatan kita untuk menyampaikan kebenaran Islam yang indah, kaaffah, serta memiliki kemaslahatan umat Islam dan seluruh manusia di seluruh dunia. Wallahu’alam

Dokumen dapat diunduh di bawah ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *