“Manusia dan Hakikatnya Hidup di Dunia”


Oleh: Ahmad Yanis Audi (Anggota Majelis Syuro Salam UI 20)

Salah satu karunia terbesar yang Allah berikan bagi seorang manusia adalah kesadaran akan hakikat keberadaannya di dunia. Kesadaran tersebut yang bisa menyelamatkan manusia dari tipu daya dunia dan lurus hidupnya semata-mata hanya mengharapkan ridho dari Allah serta kebaikan di akhirat. Allah berfirman dalam Al-Qur’an,

يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُخَفِّفَ عَنْكُمْ ۚ وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا

“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.”(Q.S. An-Nisa (4): 28)

Dalam ayat tersebut Allah menyatakan bahwa pada dasarnya manusia diciptakan bersifat lemah. Pernyataan ini harus kita sikapi lebih dalam karena sesungguhnya hal tersebut merupakan predikat dasar seorang manusia dan akan sangat berbeda antara manusia yang menyadari sifat lemahnya dengan manusia yang selalu menyombongkan dirinya bahwasanya ia adalah orang yang memiliki sesuatu ataupun berkuasa atas sesuatu yang ada di dunia.

Sebagaimana yang kita ketahui, manusia adalah seorang hamba, seorang makhluk yang diciptakan oleh Allah yang Maha Pencipta, Maha Memiliki segala sesuatu. Keadaan “lemah” yang Allah sebutkan dalam ayat di atas sejalan dengan predikat manusia sebagai seorang hamba. Seorang hamba memang demikian adanya, tidak memiliki apa-apa, tidak bisa apa-apa, dan bergantung pada yang memiliki dirinya. Begitu pula manusia pada Tuhannya, manusia di dunia bukanlah siapa-siapa, tidak berkuasa atas apa pun. Semua yang ada pada dirinya sesungguhnya adalah titipan dan karunia dari Allah sebagai pemilik dirinya dan penguasa atas segala sesuatu yang ada di alam semesta. Allah berfirman dalam Al-Qur’an,

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ ۖ وَإِنْ يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.(Q.S Al-An’am (6): 17)

وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ ۚ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ

Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui”.(Q.S Al-An’am (6): 18)

Sungguh, semua yang terjadi pada diri manusia adalah atas kehendak dari Allah. Ilmu yang diusahakan, harta yang didapat atas kerja kerasnya, bahkan ketenangan dan kegelisahan dalam hati seorang manusia semuanya adalah karena Allah menghendaki yang demikian terjadi pada dirinya. Dalam hadits arba’in nomor 19 Rasulullah pernah berpesan,

“Dari Abu Abbas Abdullah bin Abbas RA berkata, ‘Saya pernah berada di belakang Rasulullah SAW pada suatu hari, beliau bersabda, ‘Wahai anak, saya hendak mengajarimu beberapa kalimat; Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu; jagalah Allah, niscaya engkau mendapati-Nya bersamamu; jika engkau meminta, mintalah kepada Allah; jika engkau meminta tolong, minta tolonglah kepada Allah. Ketahuilah, jika umat manusia bersatu untuk memberi manfaat dengan sesuatu, mereka tidak dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan bagimu, dan jika mereka bersatu untuk mencelakakanmu dengan sesuatu, mereka tidak akan dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan bagimu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering’ “. (HR. Turmudzi)

Dalam hadits tersebut jelas Rasulullah mangungkapkan bahwa sekalipun semua manusia bersatu untuk memberikan manfaat kepada seseorang, mereka tidak akan dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan terjadi pada orang itu. Begitupun sebaliknya, ketika semua manusia bersatu untuk memberikan kemudharatan kepada seseorang, mereka tidak akan dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan terjadi pada orang itu. Seandainya ada 1000 orang hendak memberikan 1000 trilyun uang pada seseorang sedangkan Allah hanya mengizinkan uang 1 juta rupiah yang sampai padanya maka hanya 1 juta itulah yang sampai padanya. Begitupun seandainya ada 1000 orang hendak membakar seluruh harta kekayaan seseorang dan berusaha menjebloskannya ke penjara sedangkan Allah hanya menghendaki terbakar sedikit sebelah sepatunya maka hanya sebelah sepatu orang tersebut sajalah yang terbakar. Sebaliknya, ketika 1000 orang hendak memberikan 1 juta uang pada seseorang sedangkan Allah menakdirkan uang 1 milyar akan sampai pada orang tersebut maka 1 milyar itulah yang akan sampai padanya. Allahu Akbar, Maha Suci Allah.

Ketika seorang manusia belajar dengan keras, kemudian ia menjadi seorang yang pntar, maka sesungguhnya kepintaran itu datangnya dari Allah. Ketika seorang manusia bekerja dengan keras, kemudian ia menjadi seorang yang kaya raya, maka sesungguhnya kekayaannya itu juga datangnya dari Allah. Maka tidak ada yang bisa disombongkan oleh manusia, dan memang manusia itu lemah, tidak memiliki dan tidak menguasai apapun. Segala yang ada padanya dan segala yang tidak ada padanya itu semua Allah yang mengatur.

Begitulah hakikat seorang manusia. Maka mereka yang menyadari hal tersebut akan selalu berusaha hidup dengan bersahaja, tidak ada kecintaan terhadap dunia dan kesombongan atas apa yang dia miliki. Karena dia menyadari bahwa itu semua hanyalah titipan dari Allah dan kapanpun Allah mau Allah bisa segera mengambilnya. Sosok manusia yang seperti ini akan selalu menggantungkan hidupnya pada Allah. Segala pikirannya, hatinya, semuanya lurus hanya pada Allah. Meminjam bahasa Ustadz Yusuf Mansur, prinsip orang yang menyadari hakikatnya sebagai seorang hamba dan Allah adalah tuhannya adalah “Allah dulu, Allah lagi, Allah terus”. Ketika mengharapkan sesuatu dia akan memintanya pada Allah, ketika sudah mendapatkannnya dia bersyukur dan tetap bermunajat pada Allah, ketika kehilangannya dia juga akan kembali pada Allah.

Laa hawla, wa laa quwwata, illaa billaah.

Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan kehendak Allah.

Hasbunallah wa ni’mal wakiil, ni’mal mawla wa ni’mannashiir.

Cukuplah Allah sebagai penolong kami, dan Allah adalah sebaik-baik pelindung.

Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin.

Hanya kepada Allah kami menyembah, dan hanya kepada Allah kami mohon pertolongan.

Wallahu a’lam bish shawaab.

Dokumen dapat diunduh di bawah ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *