“Budaya Ramadhan yang Perlu Dibenahi di Indonesia”


Oleh: Abdullah Al – Muzakki (Ketua Umum LD Formasi FIB UI 2017 )

Menurut Sir Edward Burnett Tylor (1832-1917), kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.

Dari pengertian tersebut salah satu unsur pembentuk kebudayaan adalah adat istiadat, lalu apa itu adat istiadat? Jalaludi Tunsam, dalam tulisannya pada tahun 1660 menyatakan bahwa “adat” berasal dari bahasa Arab yang merupakan bentuk jamak dari “adah” yang memiliki arti cara atau kebiasaan

Maka secara sederhana dapat kita pahami bahwa unsur pembentuk kebudayaan adalah kebiasaan
Lalu apa saja kebiasaan masyarakat Indonesia di kala ramadhan? Dalam tulisan ini saya akan memaparkan tiga hal yang perlu dibenahi terkait kebiasaan-kebiasaan seputar Ramadhan.

BANYAK TIDUR
Banyak orang yang terlalu banyak tidur di kala ramadhan menggunakan dalil hadist Nabi Muhammad SAW. Hadist ini memang benar adanya, lebih tepatnya ialah khutbah Rasulullah SAW menjelang Ramadhan. Dalam khutbah tersebut beliau bersabda:
“Wahai manusia! Sungguh telah datang pada kalian bulan Allah dengan membawa berkah rahmat dan maghfirah. Bulan yang paling mulia di sisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Jam demi jamnya adalah jam-jam yang paling utama.

Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tamu Allah dan dimuliakan oleh-Nya. Di bulan ini nafas-nafasmu menjadi tasbih, tidurmu ibadah, amal-amalmu diterima dan doa-doamu diijabah. Bermohonlah kepada Allah Rabbmu dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan shiyam dan membaca Kitab-Nya.
Seharusnya kita lebih jeli dalam membaca khutbah tersebut, karena lanjutan khutbah tersebut adalah
“Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan Allah di bulan yang agung ini. Kenanglah dengan rasa lapar dan hausmu di hari kiamat.”

BERLEBIHAN DALAM BERBUKA
Sebagian masyarakat Indonesia merayakan waktu selesainya waktu shaum dengan berbuka yang cukup banyak. Alhasil perut mereka kemudian kaget, begah dan sulit beraktivitas. Ini tentu bukanlah perkara yang benar. Rasulullah SAW tidak mencontohkan yang demikian, menu takjil Rasul SAW begitu sederhana.
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka dengan ruthab (kurma muda) sebelum shalat, jika tidak ada ruthab, maka beliau berbuka dengan kurma, jika tidak ada kurma, beliau minum dengan satu tegukan air. (HR Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah).

TERGESA-GESA SAAT TARAWIH
Tarawih adalah ibadah sunnah yang sangat utama. Tarawih sudah menjadi budaya yang sangat baik di masyarakat muslim Indonesia. Namun sayangnya masih banyak yang perlu ditingkatkan, antara lain adalah tumaninahnya shalat.

Dari sahabat Abu Hurairah RA: Rasulullah SAW bersabda: Jika Anda hendak mengerjakan shalat maka bertakbirlah, lalu bacalah ayat al Quran yang mudah bagi Anda. Kemudian rukuklah sampai benar-benar rukuk dengan tumakninah, lalu bangkitlah (dari rukuk) hingga kamu berdiri tegak, setelah itu sujudlah sampai benar-benar sujud dengan tumakninah, lalu angkat (kepalamu) untuk duduk sampai benar-benar duduk dengan tumakninah, setelah itu sujudlah sampai benar-benar sujud, Kemudian lakukan seperti itu pada seluruh shalatmu” (HR Bukhari no. 757 dan Muslim no. 397)

Selain itu hendanya kita memperhatikan kualitas shalat tarawih kita. Dalam hal kualitas shalat, Ibnul Qayyim al-Jauziyah mengklasifikasi orang yang shalat kedalam lima kelas. Kelima kelas tersebut antara lain:

1. Mu’aqqab
Mu’aqqab artinya disiksa. Bagaimana orang yang shalat bisa disiksa? Ya, dalam al-Quran jelas dikatakan bahwa kecelakaan bagi orang yang suka shalat, yaitu yang lalai dan riya (lihat Q.S. al-Ma’un [107]: 4-6!).
Kriteria mushalli yang mu’aqqab yang dijelaskan oleh Ibnul Qayyim adalah orang yang mengabaikan aturan-aturan seputar shalat dari mulai waktu shalat, wudhu, sampai rukun-rukun shalat.

2. Muhasab
Muhasab berarti dihisab. Maksudnya adalah shalatnya diperhitungkan oleh Allah. Orang ini mampu menjaga waktu shalat, wudlu, syarat-syarat dan rukun-rukun shalat, tetapi masih terbatas pada aspek zhahiriyahnya saja. Sedangkan aspek ruhiyah (kekhusyuan) kurang diperhatikan sehingga ketika shalat dijalankan, pikirannya dipenuhi oleh lamunan-lamunan tak berarti.

3. Mukaffar ‘Anhu
Tingkatan ketiga dalam kualitas shalat menurut Ibnul Qayyim adalah mukaaffar ‘anhu yang artinya diampuni (dihapus) dosa dan kesalahan. Yang menempati tingkatan ini adalah mereka yang mampu menjaga shalat dan segala ruang lingkupnya, kemudian ia bersungguh-sungguh untuk melawan intervensi setan. Ia berusaha menghalau lamunan dan pikiran yang terlintas.

4. Mutsabun
Tingkatan mutsabun atau yang diberi pahala memiliki ciri-ciri seperti tingkatan Mukaffar ‘Anhu. Lebihnya adalah ia benar-benar iqamah (mendirikan shalat). Ia hanyut dan tenggelam dalam shalat dan penghambaan kepada Allah swt.

5. Muqarrab min Rabbihi
Yang terakhir adalah tingkatan yang paling hebat. Mereka yang menempati tingkatan ini adalah orang yang ketika shalat, hatinya langsung tertuju kepada Allah. Ia benar-benar merasakan kehadiran Allah sehingga ia merasa melihat Allah (ihsan). Tingkatan ini adalah Muqarrab min Rabbihi (didekatkan dari Allah).

Jangan sampai kita menjadi orang yang mu’aqqab atau disiksa karena melalaikan rukun shalat ini.

Itulah tiga hal yang perlu diperbaiki dari budaya ramadhan di Indonesia. Perlahan tapi pasti mari kita benahi diri kita dan lingkungan kita. Mudah-mudah dengan begitu kita mendapat manfaat yang besar selepas Ramadhan ini.

Dokumen dapat diunduh di bawah ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *