“Merenungi Toleransi dengan Kekhusyu’an Hati”


Oleh: Wahyu Adji (Kepala Departemen Kastrad FSI FEB UI 2017 )

Bismillahirrahmanirrahim,

Segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya dan memohon pertolongan-Nya. Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa disesatkan oleh Allah, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi tidak ada tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah rasul yang diutus dengan segala kesempurnaan yang telah Allah kehendaki, untuk menyempurnakan manusia yang selalu dihantui oleh hawa nafsu dan pemahaman yang tidak Allah ridhai, dengan sebaik-baik petunjuk.
Allah Ta’ala berfirman,

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatanperbuatan yang baik dan mereka (selalu) berdoa kepada Kami dengan berharap dan takut. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ (dalam beribadah)” [Q.S. Al-Anbiyaa’: 90].

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Puasa itu perisai, maka janganlah berbuat rafats dan jangan pula berbuat bodoh. Apabila ada orang yang mengajaknya berkelahi atau menghinanya maka katakanlah aku sedang berpuasa…” [Sahih Bukhari No. 1761]

Hadits tersebut mengondisikan seorang muslim untuk menjaga dirinya dalam kekhusyu’an. Ketahuilah bahwa seorang muslim pada hari-hari di bulan Ramadhan itu berada dalam kondisi puasa, sedangkan berpuasa adalah ibadah maka jalankanlah hari-hari tersebut dengan khusyu’. Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata: “Asal (sifat) khusyu’ adalah kelembutan, ketenangan, ketundukan, dan kerendahan diri dalam hati manusia (kepada Allah Ta’ala).1

Dalam ketenangan puasa, hendaknya seorang muslim mampu menjalani hari-hari menghadapi orangorang yang berbeda darinya dengan hati yang tenang dan pikiran yang jernih, terlebih seorang muslim yang senantiasa menuntut ilmu. Syaikh Bakr bin Abdullah rahimahullah berkata “Hiasilah dirimu dengan adab-adab hati, seperti kehormatan, kebijaksanaan, kesabaran, rendah hati terhadap kebenaran.”2 Tidak akan habis perselisihan hingga hari di mana keputusan Allah datang, maka menumbuhkan adab-adab yang penting dipegang dalam berseru dan bertoleransi ini merupakan tantangan yang berlangsung seumur hidup.

Mungkin sering muncul rasa risih dalam hati akibat adanya perbedaan-perbedaan, baik itu perbedaan pendapat yang ilmiah maupun perbedaan yang sifatnya kemunkaran yang jelas. Namun, toleransi dalam perbedaan ini bukan selalu tentang menghindari, tetapi untuk menyikapi dengan tenang dan bijak. Bahwa dengan perbedaan yang masih sesuai Qur’an dan Sunnah, ini menyebabkan diskusi terus berjalan sehingga meningkatkan kemantapan ilmu di bulan Ramadhan. Sedangkan pada perbedaan yang dilandasi syahwat dan syubhat modern, menjadi peluang bagi seorang muslim untuk amar ma’ruf nahi munkar dengan ilmu dan hikmah, kembali ke jalan di mana Nabi dan para sahabat berada di atasnya.

Berapa banyak orang yang berusaha menegakkan kebenaran di lingkungannya tidak dengan adab yang dicontohkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan cara yang tidak diterima lingkungannya sehingga menimbulkan permusuhan dan mempersulit diri sendiri dan bahkan mencemari nama ahlusunnah wal jamaah. Syaikh Al Utsaimin menjelaskan betapa Allah dalam penetapan syariat dan ajaran selalu dengan tahapan yang memperhatikan kondisi dan kesiapan umat.3 Demikian pula kita dalam menyerukan kebenaran yang kita pegang, kepada orang-orang yang belum mengimani kebenaran itu.

Jagalah hati dari sikap keras dan tinggi hanya karena kebenaran (dianggap ada) dalam genggaman. Katakanlah, sesungguhnya kebenaran itu milik Allah, diwariskan dari nabi, dan memastikan warisan ini dapat diterima manusia adalah hal yang penting. Ingatlah bahwa keberhasilan dalam dakwah merupakan investasi yang menguntungkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa yang menunjukkan pada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” [Sahih Muslim 1893]

Sebuah keberuntungan besar bagi orang-orang yang tenang berpuasa dalam kekhusyu’an, tetapi pahalanya mengalir deras, bukan hanya karena multiplier dari Ramadhan, tetapi juga dari orang-orang yang berhasil kembali ke jalan yang Allah ridhai lewat seruannya.

Wallahu waliyyuttaufiq.

Dokumen dapat diunduh di bawah ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *