“Spiritualitas Shaum: Menata Jiwa, Meniti Hati”


Oleh: Rizki Iramdan Fauzi (Wakil Kepala Biro ARC FSI FISIP UI 28)

“Ya Allah, pertemukan diriku dengan bulan Ramadhan. Selamatkan Ramadhan untukku. Dan terimalah seluruh amalku di bulan Ramadhan.”

Tak henti-hentinya bibir berucap memohon kesempatan pada Allah sang penguasa masa dalam setiap waktu. Hati menasbihkan zikir dan doa-doa mengharapkan pertemuan dengan bulan yang suci nan agung. Rasa rindu yang menggebu mengikis setiap keraguan dalam batin, hanya untuk meraih kesempatan menjalani hidup selama satu bulan di mana pintu surga terbuka luas dan segala rahmat Allah dilimpahkan kepada hamba-Nya. Tentunya, perjalanan menuju Sang Bulan Agung harus penuh persiapan fisik dan batin, cukup perbekalan spiritual dan totalitas dalam memanjakan ruh yang keruh selama sebelas bulan dipenuhi dengan dosa yang kian hari kian meluruh.

Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar, menikmati libur, ngabuburit atau seringnya bercengkrama dengan keluarga. Ada satu esensi utama yang sering dilupakan oleh manusia, karena sejatinya bulan Ramdhan adalah masa ketika manusia didekatkan dengan aspek spritualitas dan sejuta kenikmatan yang dihasilkan dari hikmah shaum dan indahnya ukhuwah Islamiyah. Begitu pun, kesempatan bermaksiat sangat kecil karena pintu-pintu neraka ditutup dan syetan pun dibelenggu, namun hanya hawa nafsu yang terus menggoda yang harus diperangi oleh setiap manusia. Sebulan penuh kita berlayar dalam kapal pengharapan, berbekal keyakinan dan penuh tekad, melawan arus ujian dan bertarung dengan badai kemaksiatan tuk mencapai pulau ketaqwaan.

“Wahai orang-oramg yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” (Q.S Al-Baqarah:183)

Ayat di atas mengandung makna yang mendalam, diwariskan selama berabad-abad untuk disampaikan kepada setiap penghuni dunia ini. Sebuah perintah murni nan sakral untuk menunaikan salah satu perangkat keislaman kita yaitu shaum atau berpuasa. Berpuasa bukan tentang kewajiban semata, namun sebuah kebutuhan jasmani dan ruhani. Alat jihad yang paling jitu, perisai jiwa yang paling ampuh tuk menggapai predikat “taqwa” dan insan pariurna.

Seperti yang disabdakan oleh Rasulullah SAW “Shaum itu perisai, oleh karenanya jangan berbuat keji dan buruk. Apabila seorang mengganggu atau menghina, cukup katakan kepadanya saya sedang berpuasa sebanyak dua kali.” (HR. Bukhari: 1894). Hadist di atas menyuratkan bahwa setiap manusia harus berupaya untuk menjauhi kemaksiatan baik maksiat mata, tangan maupun maksiat hati. Segala dengki, dendam dan niat yang buruk harus steril, minimal selama ramadhan. Mulailah menghadirkan spiritualitas yang tinggi di setiap langkah dan waktu kita demi memperoleh kesempurnaan ramadhan.

Ibarat sebuah baterai, ramadhan adalah proses recharging ruh dan tools mengenal Allah secara lebih dekat dan momen persatuan umat yang dinanti-nantikan. Karena setiap rutinitas selama bulan ini berfaedah dan bernilai mahal bagi setiap individu. Mulai dari shalat jama’ah dan shalat tarawih – tatkala setiap orang bertemu dalam satu waktu dan tempat, hingga amalan sunnah seperti qiyamul lail, dhuha dan tilawah quran yang menjadi bagian yang tak terpisahkan. Sejatinya esensi ramadhan ialah bulan menata jiwa dan menata hati demi kembali menjadi insan yang paripurna nan suci.

Mari sambut ramadhan dengan menghadirkan hati yang dipenuhi cinta pada Allah SWT, bersikap baik dan tak henti-hentinya menebarkan kebaikan pada sesama serta penuhi momen ramadhan dengan sikap-sikap spiritual baik sebelum menjelang puasa maupun ketika tiba bahkan setelah ramadhan pergi. Adapun sikap yang harus hadir dalam setiap jiwa manusia ketika ramadhan ialah dengan membersihkan hati dari permusuhan, kebencian antar sesama agar ukhuwah islamiyah tetap terbina. Lalu, berkontemplasi atau merenungi sikap dan sifat kita selama berbulan-bulan dengan memperbanyak dzikir dan istigfar serta bertaubat yang sesungguhnya. Selain hablum minallah, hablum minannaas harus tetap dijaga baik dengan mengupayakan memperbanyak berkumpul dengan orang-orang baik dan fastabiqul khoirot yang dilandasi niat untuk meraih sebanyak-banyak pahala dan hikmah selama ramadhan.

Setiap langkah dan sikap kita di bulan tersebut adalah rahmat, jadi jangan menyianyiakan dengan melakukan perbuatan maksiat. Kita harus memilih dan memilah setiap perkataan dan perbuatan serta hindari berkata bohong dan berbuat hal-hal yang dapat menyakiti sesama saudara. Biasakan mengucap kata maaf dan terima kasih karena dua kata tersebut merupakan formula membangun hubungan yang baik. Pentingnya setiap kita memaknai kekuatan ucapan maaf dan terima kasih. Menurut Komaruddin Hidayat salah satu pemikir muslim abad ini menyatakan bahwa kata maaf merupakan kata magis, jika diucapkan sepenuh hati membuat manusia menjadi manusia dan mengingatkan kita pada kesalahan pada sesama.

Kata terima kasih ialah simbol refleksi kebaikan yang telah dilakukan oleh manusia. Intinya, apabila dua kata ini dibiasakan kita ucapakan khususnya pada ramadhan, misalnya dengan memperbanyak shadaqah dan infaq maka jaringan kebaikan yang dihasilkan akan luas dan manfaat yang dirasakan akan semakin besar.

Sikap khusnuzhan (berprasangka baik) dan mujahadah (sungguh-sungguh) harus senantiasa hadir dalam rutinitas ramadhan. Karena pada dasarnya semua aktivitas dari bangun sahur hingga berbuka saat maghrib dan waktu di sela-sela tersebut merupakan satu kesatuan yang memiliki makna. Sikap khusnuzhan inilah yang harus diutamakan, misalnya dengan kita bangun sahur tubuh kita akan bugar karena salah satu hikmah shaum ialah menyehatkan badan. Lalu, seharian kita menahan lapar dan baru bisa makan saat maghrib tiba mengajarkan kita tentang merasakan susahnya menjadi orang fakir yang terkadang menahan lapar karena kurangnya materi. Dan di sela-sela waktu tersebut ialah ladang amal kita untuk menebar dan mengalirkan kebaikan dengan caranya masing-masing, ada yang mendermakan sebagian materinya, ada yang mengabdikan diri untuk mengajar ilmu dan agama pada sesama dan ada bermujahadah mencari nafkah demi keluarga dengan ragam profesi masing-masing.

Semua itu tak lain hanyalah untuk mengisi hari-hari dengan sesuatu yang berfaedah dan tabungan amal di akhirat kelak. Karena Allah menjanjikan kepada manusia, setidaknya ada hadiah dan tiga jaminan yang dijanjikan Allah kepada orang yang sungguh-sungguh berpuasa ramadhan yaitu rahmat di permulaan, ampunan pada pertengahannya dan pembebasan dari neraka pada 10 hari di akhir ramadhan. Sudah sepantasnya kita menjalaninya dengan menata jiwa dan meniti hati selama ramadhan.

Ramadhan itu lentera dunia, walau cahayanya tak benderang namun setiap saat dirindukan. Ramadhan itu pelita hati yang senantiasa menerangi taku menggapai rahmat Illahi. Masih banyak syair indah nan mendamaikan perihal ramadhan. Inilah tanda bulan ini menjadi buah bibir makhluk baik di dunia maupun di akhirat. Sudah saatnya kita membingkai hati tuk raih pelita Illahi, melukis asa dalam jiwa demi ridha Allah Azza Wajala.

Di bulan ini pertama kali diturunkan Quran yang mencerahkan dan mendamaikan. Satusatunya pedoman penyempurna dari pedoman lainnya yang isinya mencakup semua serba-serbi kehidupan dan sebagai pemisah antara yang haq dan yang bathil. Maka, isilah hari-hari selama ramadhan dengan memperbanyak tilawah quran tuk gapai sejuta hikmah.

Hikmah terbesar bulan ini yakni dihadirkannya primadona malam dan momen terbaik sepanjang masa sebagai hadiah utama nan agung kepada manusia yang berpuasa. Malam Lailatul qodr, itulah namanya. Sebagian mufassir menyebutkan malam tersebut adalah malam dimana Allah menurunkan Al quran secara utuh sekaligus dari Lauhul Mahfudz ke Baitul “Izzah yang ada di langit dunia. Kemudian Allah menurunkan Al Quran kepada Rasulullah SAW tersebut secara terpisah dan berangsur-angsur sesuai dengan kebutuhan selama 23 tahun (Tafsir Al Quran Al Azhum, 14:403).

Lailatul Qodar, malam yang lebih baik dari 1000 bulan dan malam yang penuh keberkahan. Yang apabila kita beribadah tepat di momen itu, niscaya berlipat-lipat pahala kan kita dapatkan. Oleh karena itu, mari kita sambut dan isi malam-malam kita dengan mempersiapkan semaksimal mungkin tuh bertemu dengan lailatul qodar Semoga harapan dan doa-doa serta segala keinginan dan cita-cita dikalbulkan oleh Allah Al Aziz.

Meski kita tak tahu kapan malam primadona itu tiba, meski semua ganjaran dan hikmah puasa itu masih menjadi misteri. Setidaknya kita tetap hadirkan spiritualitas dalam setiap  langkah dan ucapan selama bulan suci nan agung ini. Karena hanya pencinta yang tahu makna cinta sejati dan hanya pecinta juga yang paham mengapa dia mencintai. Semoga kita termasuk hamba yang dicintai oleh Allah dan menjadi alasan kita tuh menggapai rahmat dan ridha Illahi.

Dokumen dapat diunduh di bawah ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *