“Menuju Taqwa melalui Puasa”

Oleh: Farhan Abdul M. (Kepala Departemen Al Hikmah Research Center FSI FISIP UI 28)

Terkadang, timbul tanya dalam benak, “bagaimana mungkin menahan lapar dan dahaga bisa membuat manusia menjadi taqwa?” Inilah yang harus kita dalami lagi bahwa taqwa, tidak sesulit yang dikira. Begitu pula puasa, tak sesederhana yang diduga.

Puasa, atau yang dalam bahasa Arab disebut sebagai shiyam, secara makna ialah al imsak, menahan. Dalam fiqih dikatakan, menahan diri dari segala yang membatalkan puasa dari terbit fajar hingga berjumpa waktu malam. Ini adalah puasa dari segi hukum. Sementara itu, pemahaman puasa kita, ada baiknya tak terhenti pada hukum, syarat, dan rukun semata. Mari kita gali hakikatnya agar tercapai jalan taqwa.

Siapakah yang diseru untuk berpuasa?

Dialah mereka yang beriman. Bila kita merujuk pada surat Al Mu’minun ayat 1-11 saja, dapat kita temukan beberapa ciri orang yang beriman. Ciri mereka, ialah yang khusyu’ dalam sholatnya, menghindari diri dari laku yang tiada guna, menunaikan zakat, menjaga farjinya, tidak berani melampaui batas, memelihara amanat serta sholat, dan mereka itulah yang di kemudian hari kekal di dalam surga-Nya. Itulah ciri orang beriman, menurut Al Mu’minun sebelas ayat di awal.

Iman inilah landasan menuju visi besar tiap diri yang berpuasa. Berpuasa, bila mengambil yang minimal agar tercapai keabsahannya, ialah menjaga mulut dan kemaluan dari yang penggunaannya dapat membatalkan puasa. Menurut Buya Hamka, sebenarnya, hawa nafsu manusia tidak jauh dari kedua organ ini. Dari mulut, muncul nafsu bicara berlebih, ghibah, hingga fitnah. Dari kemaluan, muncul nafsu syahwat hingga berhubungan. Bila kedua organ tubuh ini telah berada dalam kendali, insyaAllah, selamatlah diri ini.

Mengapa demikian?

Lihatlah bermacam kejahatan yang ada di muka bumi ini. Pembunuhan banyak bermula dari adu mulut. Perzinahan banyak bermula dari imajinasi yang tak terkendali. Hingga yang saat ini amat tersiar di berbagai penjuru bumi, homoseksual, terjadi karena memperturutkan nafsu di atas akal dan iman. Itulah dosa-dosa besar yang meruntuhkan adab dan akhlak manusia. Puasa hadir menjadi solusi atas masalah tersebut. Sebab, puasa mendekatkan pelakunya pada taqwa. Dan Allah, mencintai hamba-hamba-Nya yang bertaqwa kepadanya. 

Siapakah yang sebenarnya orang bertaqwa itu?

Ada banyak ayat Al Quran dan Hadits yang menjelaskan apa itu taqwa. Mari kita ambil ayat yang kebanyakan dari kita menghapalnya. Lima ayat awal di surat Al Baqarah.

“Alif Lam Mim. Inilah kitab (Al Quran) yang tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang yang beruntung.” (Q. S. Al Baqarah: 1-5)

 Dapat dipahami, bahwa lima ayat di muka Al Baqarah ini adalah mengenai ciri orang yang bertaqwa. Ciri pertama, ia meyakini Al Quran, bahkan menurut Quraish Shihab, Al Quran itu sendiri yang akan menunjukinya pada jalan yang benar. Bila kita telah mencapai derajat taqwa, segala sisi hidup akan dinaungi oleh cahaya Al Quran.

Berikutnya, orang yang bertaqwa mengimani yang ghaib, baik ghaib mutlak, yang tidak dapat diinderai bahkan oleh teknologi paling mutakhir sekalipun, maupun ghaib relatif, yang tidak diketahui oleh sebagian orang saja. Iman pada yang ghaib ini mencakup mengimani Allah, malaikat-Nya, hingga hari kiamat.

Selanjutnya, mendirikan sholat, atau menurut Quraish Shihab, melaksanakan shalat secara terus menerus sesuai dengan tuntunan. Ciri lainnya ialah gemar berinfaq, menyedekahkan sebagian rezeki yang dipunya. Sebab ia yakin, pada hakikatnya pun, semua harta itu adalah milik Allah.

Orang yang beriman pun, meyakini kitab Al Quran, dan kitab-kitab yang Allah turunkan pada nabi yang terdahulu. Sekalipun misalnya, kitab yang terdahulu itu sudah tidak dapat kita pastikan lagi validitasnya.

Terakhir, orang yang taqwa yakin akan kehidupan akhirat. Sehingga, bila kita merujuk pada surat Al Hasyr ayat 18, kita diperintahkan,

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.” (Q. S. Al Hasyr: 18)

Ayat ini menjadi pertanda, bila kita telah beriman, bertaqwa kepada Allah itu berarti menjadikan diri kita manusia yang visioner. Tak cukup visioner 5 atau 10 tahun ke depan, melainkan visioner hingga kehidupan yang akan datang. Menyiapkan diri untuk bekal menuju kampung akhirat, akan menjadikan hidup orang yang bertaqwa itu mengikuti tuntunan.

Melihat ciri ketaqwaan tersebut, melintas kembali dalam benak, ‘alangkah berat!’

Tidak, bung! Tidaklah mungkin Allah memerintahkan, kecuali kita dapat menjalankannya.

Bacalah kembali salah satu sabda baginda yang mahsyur mengenai tiga nasihat, salah satunya disebut, ‘ittaqillaha haytsumaa kunta’, atau ‘bertaqwalah kepada Allah di mana pun engkau berada!’. Artinya, perilaku taqwa itu amat kontekstual. Di mana pun, kapan pun, dan oleh siapa pun, sebenarnya mampu menjadi pribadi yang taqwa.

Mari, di bulan yang penuh rahmat ini, mohonkanlah pada Allah rahmat-Nya agar kita mampu menjadi pribadi yang taqwa. Juga, berusahalah agar diri kita lulus dari madrasah Ramadhan. Sehingga, melalui puasa, terbentuklah pribadi yang taqwa. InsyaaAllah!

Dokumen dapat diunduh di bawah ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *