“Saya Mau Tidur”

Oleh: M. Imam Nawawi S. (Kepala Bidang Syiar Salam UI 20)

Bulan Ramadhan hanya terjadi selama setahun sekali dalam penanggalan Hijriah (ya sebenarnya bulan lain juga setahun sekali sih hehe). Dalam momen istimewa yang jarang seperti ini seharusnya bisa jadi sarana kita untuk merencanakan maksimalisasi amal yang pahalanya lagi diobral oleh Allah di bulan ini. Iya guys, selain baju lebaran yang di obral buat lebaran, pahala juga lagi diobral dimana-mana.

Kalau misalnya kamu menganggap ibadah di Ramadhan itu hanya puasa, jadi kasian buat para wanita yang kedatangan “tamu” dan orang sakit yang berhalangan untuk berpuasa se-fullmoon (sebulan penuh maksudnya, keren ya fullmoon kaya film gitu). Nah memang ada apa aja sih ibadah-ibadah yang bisa dilakukan di bulan Ramadhan selain puasa?

“Tidurnya orang puasa merupakan ibadah”

Nah mari kita awali dengan poin tidur. Kalimat di atas merupakan kalimat yang cukup sering kita dengar di telinga saat bulan puasa. Jadi poin pembenaran saat setelah subuh kita tidur sampai dzuhur, lalu sholat dzuhur dan tidur sampai ashar, lalu sholat ashar dan tidur sampai buka. Karena apa? Karena termasuk ibadah. Eits, sebetulnya kalimat di atas bukan merupakan hadits yang kuat loh, sob. Dinukil oleh As-Suyuti di dalam kitabnya, Al-Jamiush Shaghir, seraya menyebutkan bahwa status hadits ini sebenarnya dhaif (lemah). Namun status dhaif yang diberikan oleh As-Suyuti justru dikritik oleh para muhaddits yang lain. Menurut kebanyakan mereka, status hadits ini bukan hanya dhaif tetapi sudah sampai derajat hadits maudhu’ (palsu). Jadi ibadah lainnya itu bukan tidur ya.

Dari Salman Al-Farisy radiallahu ‘anhu yang diriwayatkan secara marfu’, “Siapa yang mengerjakan amal sunnah meski kecil, sama seperti orang yang mengerjakan amal fardhu. Siapa yang mengerjakan amal fardhu, seperti mengerjakan 70 amal fardhu.”Keren kan, sob. Bayangin kamu sholat dhuha tapi pahalanya setara sama sholat fardhu. Bayangin kamu sholat dzuhur tapi pahalanya udah kaya sholat dzuhur 70 kali. Nah itu kan sholat ya, kalau tadi kasusnya adalah memang gak puasa karena ada halangan syar’i ibadahnya gimana? Banyak banget, cuy yang bisa dilakukan.

“Siapa yang memberi makan (saat berbuka) untuk orang yang puasa, maka dia mendapat pahala seperti pahala orang yang diberi makannya itu tanpa dikurangi sedikitpun dari pahalanya.” (H. R. At-Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaemah)

Tuh, buat yang gak bisa puasa masih bisa dapat pahala kaya orang puasa, tapi tetap harus diganti ya puasanya setelah Ramadhan. Enak aja gak puasa gara-gara ngasih makan orang yang puasa, ye gak usah sok deh (ceritanya iklan biskuit yang ramai di Line). Masih banyak lagi sih amalan di bulan ini, kaya baca Quran yang bulan ini bulan diturunkannya Quran juga loh (beberapa hadits memperbolehkan wanita yang sedang haid untuk membaca Al Quran). Ada juga sholat tarawih yang hanya ada di bulan ini. Bisa juga i’tikaf (berdiam diri di masjid) di sepuluh malam terakhir agar mendapat malam Lailatul Qadr.

Jadi, dibandingkan tidur dari sahur sampai buka, mending kita belanja pahala yang lagi diobral dimana-mana. Puasa jangan sampai jadi halangan untuk tidak produktif. Jangan menjadi malas karena lapar dan haus, justru di sana esensi puasa kita: untuk melawan nafsu dan lebih semangat dikala segala hal yang dibatasi. Semangat, gengs!

Semoga Allah mengakselerasi kita di bulan ini.

Wassalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarrakatuh.

Dokumen dapat diunduh di bawah ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *