“Tadabbur Surah Asy-Syu’araa: Sebuah Keyakinan akan Petunjuk-Nya”

Oleh: Arifa Amal (Staff Biro Media Center Salam UI 19)

 Bismillahirrahmaanirrahiim.

Setiap manusia yang hidup di dunia ini pasti punya masalah. Tidak mungkin ada yang tidak punya masalah. Masalah yang dihadapi masing-masing manusia pun tidaklah sama. Ada yang memiliki masalah pekerjaan, masalah akademik, masalah finansial, masalah organisasi. Ada pula yang memiliki masalah keluarga, masalah dengan teman sejawat, atau masalah-masalah lainnya yang mungkin tidak orang itu sadari bahwa sebenarnya itu adalah masalah.

Selain memiliki permasalahan yang berbeda, setiap manusia juga memiliki cara yang berbeda dalam menyikapi datangnya masalah. Sebagian dari mereka ada yang panik, ada pula yang gelisah dan khawatir, hingga tak jarang pula masalah yang dihadapi malah membuatnya menjadi putus asa.

Namun yang pasti, setiap orang yang menghadapi masalah akan memikirkan satu hal yang sama, ”Apakah ada jalan keluar? Bagaimana caranya menemukan jalan keluar itu?”

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari kita tafakkuri dan tadabburi sejenak sebuah kisah nyata yang termaktub dalam Al-Quran Surah Asy-Syu’araa ayat 1-68, sebuah kisah tentang pencarian jalan keluar.

Dikisahkan dalam awal Surah Asy-Syu’araa bahwa Nabi Musa AS. hendak berjumpa dengan Fir’aun. Namun, Nabi Musa AS. merasa takut, tidak percaya diri, dan menganggap dirinya tidaklah sepandai saudaranya, Nabi Harun AS., dalam berbicara dan bernegosiasi. Oleh karena itu, ia mengajukan permohonan kepada Allah agar dirinya tidak diutus dan digantikan saja oleh Nabi Harun AS.

Allah menjawab permohonan Nabi Musa AS. dengan kalam yang sangat menenangkan dalam ayat 15-16:
(Allah) berfirman, “Jangan takut (mereka tidak akan dapat membunuhmu)! Maka pergilah kamu berdua dengan membawa ayat-ayat Kami (mukjizat-mukjizat); sungguh, Kami bersamamu (mendengarkan apa yang mereka katakan), maka datanglah kamu berdua kepada Fir’aun dan katakan, ‘Sesungguhnya kami adalah rasul-rasul Tuhan seluruh alam, lepaskanlah Bani Israil (pergi) bersama kami’”

Singkat cerita, berangkatlah Nabi Musa AS. ditemani Nabi Harun AS. untuk menemui Fir’aun. Saat bertemu dan saling bertatap muka setelah sekian lama, Fir’aun mencoba menjatuhkan mental Nabi Musa AS. dengan melontarkan pernyataan yang tajam, yakni dengan menyebut Nabi Musa AS. sebagai anak yang tidak tahu berterima kasih. Jika kita mengingat kembali sejarah, Nabi Musa AS. memang dari bayi hingga remaja diasuh dan dibesarkan oleh keluarga Fir’aun. (Tertera pada ayat 18-19)

Mendengar perkataan tersebut, Nabi Musa AS. tak gentar dan tetap tegar seraya membalas perkataan Fir’aun, “…ketika itu aku termasuk orang yang khilaf. Lalu aku lari darimu karena takut kepadamu, kemudian Tuhanku menganugerahkan ilmu kepadaku serta Dia menjadikan aku salah seorang di antara rasul-rasul.” (Tertulis pada ayat 20-21)

 Fir’aun merasa terpancing dengan perkataan Nabi Musa AS. dan kemudian bertanya, (seperti terekam dalam ayat 23), “…Siapa Tuhan seluruh alam itu?”

Dalam ayat selanjutnya (ayat 24-40),  terjadilah percakapan yang menegangkan antara Nabi Musa AS. dengan Fir’aun. Nabi Musa AS. berkali-kali memberitahukan Fir’aun serta menegaskan kepadanya bahwa hanya Allah, Dzat yang menciptakan langit dan bumi, yang menguasai timur dan barat dan diantara keduanya, serta Dzat yang merupakan Tuhannya Fir’aun dan nenek moyang terdahulu, tidak ada yang patut disembah kecuali Dia. Mendengar lontaran demi lontaran pernyataan Nabi Musa AS. tentang adanya Tuhan selain dirinya, Fir’aun pun murka dan meminta bukti nyata.  Nabi Musa AS. pun kemudian menunjukkan dua mukjizatnya, yakni melemparkan tongkat yang kemudian berubah menjadi ular, dan mengeluarkan tangan dari dalam bajunya dalam keadaan putih bercahaya.

Namun rupanya mukjizat yang ditunjukkan Nabi Musa AS. tidak membuat Fir’aun terbuka mata hatinya. Ia justru malah mencemooh dan menyebut Nabi Musa AS. sebagai tukang sihir yang gila. Tak mau kalah, Fir’aun kemudian menantang Nabi Musa AS. untuk bertanding dengan tukang-tukang sihir yang diperintahkan Fir’aun untuk mengalahkan Nabi Musa AS.

Dikisahkan (di ayat 41-51) pada hari yang ditentukan, bertandinglah Nabi Musa AS. dan para tukang sihir Fir’aun. Pertandingan dimulai oleh para tukang sihir yang melemparkan tali-temali dan tongkat-tongkat mereka yang kemudian menjelma menjadi ular-ular (perlu kita ketahui, bahwa sesungguhnya tali-temali dan tongkat-tongkat tersebut disihir untuk memanipulasi penglihatan manusia agar terlihat seperti ular-ular, padahal sejatinya ular-ular hanyalah benda-benda mati yang tak memiliki daya sedikitpun). Saat tiba giliran Nabi Musa AS. yang melemparkan tongkatnya, tongkat tersebut berubah menjadi ular besar yang kemudian memakan ular-ular palsu milik para tukang sihir Fir’aun. Melihat fenomena tersebut, para tukang sihir Fir’aun lantas jatuh tersungkur dan bersujud seraya berkata, “Kami beriman kepada Tuhan seluruh alam, (yaitu) Tuhannya Musa dan Harun”.

Kisah pertaubatan para tukang sihir Fir’aun tercatat dalam sejarah sebagai peristiwa pertaubatan tercepat. Mengapa mereka begitu cepatnya bersujud dan bertaubat? Karena sesungguhnya akibat ilmu pengetahuan yang mereka miliki, di detik mereka menyaksikan mukjizat Nabi Musa AS. tersebut, mereka langsung menyadari bahwa tongkat Nabi Musa AS. yang berubah menjadi ular bukanlah sihir seperti yang mereka lakukan, karena tongkat yang disihir takkan mungkin mampu memakan serta menelan habis benda-benda selayaknya ular yang hidup. Mereka paham betul, bahwa fenomena yang mereka saksikan saat itu tak ada yang mampu melakukannya dan mendatangkannya selain Dzat Yang Maha Agung Pemilik semesta alam. Mereka tak mampu lagi membendung kebenaran itu dan tak punya pilihan lain selain untuk menghamba, bersujud, serta memohon ampun kepada satu-satunya Dzat Pemilik Kekuatan, yakni Allah Subhaanahu Wa Ta’ala.

Fir’aun, yang menjadi saksi peristiwa taubatnya para tukang sihirnya sendiri, marah besar dan melaknat para tukang sihir itu dengan siksaan pedih yang ia janjikan. Apakah para tukang sihir itu takut? Tidak. Tidak sama sekali. Mereka justru berkata (tertera dalam ayat 50-51),

Tidak ada yang kami takutkan, karena kami akan kembali kepada Tuhan kami. Sesungguhnya kami sangat menginginkan sekiranya Tuhan kami akan mengampuni kesalahan kami, karena menjadi orang yang pertama-tama beriman.”

Setelah selesai peristiwa tersebut, Allah memerintahkan Nabi Musa AS. untuk segera pergi dari negeri yang berada dalam kuasanya Fir’aun itu bersama para pengikutnya, karena Allah tahu bahwa Fir’aun hendak mengejar dan menangkap mereka.

Maka Nabi Musa AS. pun melarikan diri pada malam hari bersama pengikutnya yang terdiri dari 12 suku Bani Israil. Mereka menyusuri jalan panjang yang berliku dan penuh rintangan. Saat dalam pelarian tersebut, benar saja bahwa Fir’aun dan bala tentaranya mengejar mereka dari belakang. Dikatakan bahwa pada masa itu, Fir’aun dan tentaranya memiliki perlengkapan dan persenjataan yang hebat. Pada zaman belum ada kereta kuda, mereka sudah punya kereta kuda. Pada zaman belum memiliki senjata, mereka sudah memiliki senjata. Dengan segala perlengkapannya itulah Fir’aun dan tentaranya dapat menyusul dan mengejar Nabi Musa AS. dan pengikutnya dalam waktu singkat. Hingga digambarkan pada ayat ke 60, Falammaa taraa-al jam’aani… (Tatkala saling melihat kedua golongan…), yang berarti bahwa jarak mereka sudah sangat dekat hingga memungkinkan kedua rombongan ini dapat melihat satu sama lain.

Namun, Nabi Musa AS. dan para pengikutnya tak dapat lagi melangkahkan kaki untuk memperjauh jarak. Sebab, di hadapan mereka terbentang lautan yang begitu luas, begitu dalam. Mereka tak memiliki kapal untuk menyeberang. Mustahil pula bagi mereka untuk terjun ke laut dan berenang melawan golakan ombak lautan yang begitu hebat. Hal ini lantas membuat para pengikut Nabi Musa AS. dipenuhi ketakutan. Mereka panik, resah, gelisah, lemah, lesu, dan merasa perjalanan panjangnya akan sia-sia. Mereka serasa berhadapan dengan jalan buntu, tak ada lagi jalan keluar. Mereka tak mampu lagi berpikir dan bertindak selain memasrahkan diri mereka untuk ditangkap, dan menyiapkan diri mereka untuk mati di tangan Fir’aun dan bala tentaranya. Mereka berkata dengan penuh keputusasaan, Innaa lamudrakuun, “Wahai Musa, sungguh kita akan benar-benar tersusul, terkejar, dan tertangkap!”

Jika kita perhatikan kisah tersebut, kita sesungguhnya dapat merefleksikannya dalam kehidupan kita. Saat menghadapi masalah, kita seringkali bersikap sebagaimana para pengikut Nabi Musa bersikap. Kita juga merasa panik, pusing, cemas, khawatir, galau, bahkan tak jarang akhirnya menyerah begitu saja pada keadaan. Saat kita bersikap seperti itulah, kita menjadi “The Loser”.

Lalu bagaimana sikap Nabi Allah, Nabi Musa AS.? Beliau sama sekali tidak seperti pengikutnya. Nabi Musa AS. tampil sebagai insan yang Allah utus menjadi “The Winner”. Beliau berkata dengan penuh kemantapan hati kepada para pengikutnya, sebagaimana yang tertulis dalam ayat ke 62, “Kalla!” (Tidak! Tidak akan kita tersusul!) “Inna ma’iya Rabbii sayahdiin.” (Sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku). Inilah ciri “The Winner”, takkan khawatir, takkan gentar, takkan takut, takkan cemas, takkan gelisah terhadap sebesar dan sepelik apapun kesulitan yang menghadang. Sebab, seseorang yang merupakan “The Winner” selalu menyandarkan dirinya kepada Allah SWT, memahami kebesaran Allah SWT, serta meyakini dengan haqqul yaqiin janji dan pertolongan Allah SWT. Bukan seperti “The Loser” yang memikirkan dan fokus pada keterbatasan otak, akal, pikiran, tenaga, dan situasi yang ada.

Selanjutnya dikisahkan pada ayat ke-63 sampai ayat 66, bahwa Allah mengabulkan permohonan yang dipanjatkan Nabi Musa AS. dan membukakan jalan keluar baginya dengan memerintahkan kepadanya, “Pukullah laut itu dengan tongkatmu,” Maka atas izin dan kuasa Allah, terbelahlah lautan luas itu dan terbentanglah jalan keluar untuk mereka. Allah menyelamatkan Nabi Musa AS. dan orang-orang yang bersamanya, serta menenggelamkan Fir’aun dan tentaranya.

Kisah tersebut kemudian ditutup dengan sebuah prolog yang patut membuat kita tertunduk malu dalam perenungan, “Sungguh, pada yang demikian itu terdapat suatu tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu Dialah Yang Maha Perkasa, Maha Penyayang.” (QS. Asy-Syu’araa: 67-68)

Kita mungkin telah berkali-kali khatam membaca Al-Quran. Namun, kita seringkali luput akan begitu banyak kisah dan hikmah yang sesungguhnya patut kita tadabburi dan kita ambil pelajarannya.

Ramadhan kali ini dapat kita jadikan sebagai awal bagi kita untuk memulai rutinitas baru, yakni mengiringi setiap tilawah Quran kita dengan membaca, memahami, serta mentadabburi terjemahan ayatnya.

Kisah yang termaktub dalam Surah Asy-Syu’araa ini sesungguhnya mengajarkan kita tentang Nabi Musa AS. yang memiliki keyakinan lurus dan akhirnya menjadi seorang “The Winner” dalam menghadapi masalah. Pertanyaan selanjutnya, bagaimana caranya kita bisa menjadi pribadi seperti yang dicontohkan Nabi Musa AS.?

Jawabannya ada pada ayat Allah di Surah Al-Baqarah ayat 186, yang berbunyi: Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka (jawablah) sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka berada dalam kebenaran.”

Berdasarkan ayat ini, langkah pertama adalah dengan menjadikan diri kita dekat pada Allah, yang sesungguhnya selalu dekat dengan kita. Tujuan dari mendekatkan diri kita kepada Allah adalah untuk membangun koneksi, agar terhubung langsung dengan-Nya. Bagaimana caranya? Yakni dengan melakukan ibadah-ibadah wajib dengan lurus dan diperkuat dengan ibadah lainnya, seperti shalat rawatib, shalat dhuha, shalat tahajjud, dzikir, dan tak lupa bershadaqah. Selain itu, kita hendaknya meninggalkan dosa-dosa dan maksiat. Sebab dosa dan maksiat yang kita lakukan adalah penyebab menjauhnya kita dari Allah. Jika bulan Ramadhan membuat kita merasa lebih dekat pada Allah, maka wajib hukumnya bagi kita untuk me-Ramadhan-kan bulan-bulan lainnya. Jangan sampai selepas Ramadhan, semangat kita untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah malah luntur.

Setelah kita mendekatkan diri kepada Allah, terhubung dengan Allah, maka langkah selanjutnya adalah memanjatkan doa. Dalam langkah ini, kita sampaikan kepada Allah masalah-masalah dan keinginan-keinginan kita. Kita jadikan Allah tempat curahan hati kita. Kita berdoa dengan sungguh-sungguh dengan penuh kerendahan hati dan keyakinan bahwa memang sejatinya hanya Allah-lah satu-satunya yang patut kita pintai pertolongan. Karena milik-Nya lah seluruh alam semesta dan isinya. Tak perlu ada lagi keraguan bagi kita untuk meminta hanya kepada-Nya. Tak perlu lagi kita menjadikan manusia, benda, atau zat lainnya sebagai tempat kita menaruh harapan. Terlebih lagi, dalam potongan ayat 186 Surah Al-Baqarah tersebut, Allah sendiri yang menjanjikan bahwa doa seorang hamba pasti akan sampai kepada-Nya dan akan Dia kabulkan doa tersebut.

Langkah ketiga sekaligus yang terakhir adalah Action. Action yang dimaksud disini adalah implikasi dari dua langkah sebelumnya. Setelah kita terhubung dengan Allah dan memanjatkan doa, kita akan sampai pada keadaan dimana kita, atas izin Allah, diberi petunjuk. Bagaimana bentuk dan wujud petunjuk tersebut, hanya Allah dan individu masing-masing kitalah yang mengetahui. Yang harus kita lakukan selanjutnya adalah mengikuti dan melaksanakan apa yang Allah tunjukki pada kita. Just do it. Sama seperti halnya yang terjadi pada Nabi Musa AS. Pada kisah diatas saat diperintahkan untuk memukul tongkatnya ke lautan, tanpa berpikir panjang dan balik bertanya kepada Allah, Nabi Musa AS. patuh dan melaksanakan petunjuk yang Allah berikan. Sepintas, perintah Allah terlihat seperti hal yang mustahil, menyuruh Nabi Musa AS. memukul lautan, tapi disinilah letak fal yastajiibuu lii, wal yu-minuu bii, memenuhi perintah-Nya dan percaya kepada-Nya. Ikuti, percaya, dan yakin. Maka dengan begitulah, kita, sebagaimana Nabi Musa AS. dan pengikutnya yang diberi jalan dengan lautan yang terbelah, akan berakhir pada la’allahum yarsyuduun, seperti yang disebutkan dalam dua kata terakhir ayat 186 Surah Al-Baqarah, yakni berakhir pada sebuah kebenaran.

Akhir kata, sebagai seorang mukmin, tidak ada lagi kata ketidakmungkinan bagi kita saat menghadapi masalah. Tidak ada lagi kebuntuan bagi kita saat sedang mencari jalan keluar. Tidak perlu lagi ada kerisauan serta kebimbangan atas petunjuk yang Allah berikan. Al-Quran yang Allah turunkan dan Allah pelihara adalah jawaban atas seluruh kesulitan dan permasalahan yang kita hadapi di dunia ini.

Semoga selepas mentadabburi Surah Asy-Syu’araa, kita menjadi pribadi yang tidak pernah berhenti belajar. Belajar untuk menjadi “The Winner” seperti seorang Nabi Musa dan pada akhirnya mampu dengan penuh keyakinan hati mengatakan: Inna ma’iya Rabbii sayahdiin, Sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.

Wallahu A’lam bi-Shawaab.

Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya.

Tulisan ini merupakan hasil redaksi penulis terhadap materi yang disampaikan oleh Dr. Deddi Nordiawan, S.E, M.M, (Dosen FEB UI) dalam Training Wisatahati: “Selalu Ada Jalan Keluar”

Dokumen dapat diunduh di bawah ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *