“Jangan Cuma Dapat Lapar dan Haus”

Oleh: Gesang Ridho Subhan (Sekretaris Jenderal Salam UI 19)

Ketika Bulan Ramadhan tiba, mungkin beberapa dari kita ada yang merasa sangat “senang” karena bulan yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Namun mungkin kesenagan itu bukanlah kesenangan akan datangnya keberkahan Bulan Ramadhan, melainkan kesenangan karena akan banyak makan makanan enak yang disiapkan orang tua kita atau senang akan datangnya masa reuni menghadiri berbagai macam acara buka bersama. Kita menghadiri berbagai undangan buka bersama di berbagai tempat makan atau restoran yang enak, bahkan menunya lengkap dari takjil buka puasa, makanan utama, hingga makanan penutup. Padahal kita sudah sama-sama tahu Bulan Ramadhan adalah bulan puasa, berarti bukan lezatnya makanan yang kita tunggu-tunggu di Bulan Ramadhan. Hal itu memang menyenangkan, tetapi jangan sampai kita salah “senang” seperti itu dalam merespon datangnya Bulan Ramadhan yang penuh keberkahan dan keistimewaan ini.

Justru sebaiknya kita menilai Bulan Ramadhan bukan saatnya kita untuk makan-makan, namun Bulan Ramadhan adalah saatnya kita banyak-banyak memberi makan kepada orang lain. Memberi makanan kepada orang-orang yang membutuhkan, bisa kepada anak yatim, kepada teman kita yang sedang kekurangan, atau mungkin kita bisa memberi makanan kepada saudara-saudara muslim kita yang sedang terjebak macet di jalan saat waktu buka puasa telah tiba. Kegiatan-kegiatan tersebut yang justru dianjurkan oleh junjungan kita Nabi Muhammad saw.

Sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Barangsiapa memberi makan orang yang berpuasa akan mendapat pahala puasa orang itu, tanpa mengurangi pahala puasa orang itu”. (HR. Tirmidzi)

Jadi, pada Bulan Ramadhan ini janganlah terlalu  memikirkan untuk menghadiri berbagai undangan makan-makan yang banyak itu, namun pikirkanlah untuk memberi makan saudara muslim kita yang juga sedang berpuasa. Apa yang ingin saya sampaikan di sini adalah bahwa inti dari ibadah puasa kita di Bulan Ramadhan ini bukanlah sekedar tentang makanan, bukan sekedar tentang kita sudah seharian menahan makan lalu apa yang akan kita dapatkan saat berbuka, karena Rasulullah saw justru mengajarkan kita untuk memberi makan kepada orang lain yang sedang berpuasa. Fokusnya bukan makanan apa yang kita dapatkan, tetapi makanan apa yang kita berikan. Lalu, apa sebenarnya inti dari ibadah puasa Ramadhan ini?

Jika kita bertanya pada anak-anak “apa itu puasa”, mereka akan menjawab puasa adalah tidak makan dan minum dari waktu Subuh hingga tiba waktu Maghrib. Itu adalah apa yang kita pelajari dari guru agama kita sejak kecil. Pertanyaannya, apakah kita masih menganggap puasa hanya tentang hal itu? Hanya menahan makan dan minum saja? Bagaimana jika saat saya berpuasa, tiba-tiba saya lupa sedang puasa, lalu saya makan dan minum. Jika makna puasa hanya tentang menahan makan dan minum, apakah puasa saya batal? Padahal Rasulullah saw memberi keringanan bagi mereka yang lupa dan tidak sengaja makan saat sedang puasa.

Seperti sabda Rasulullah saw, “Barangsiapa yang lupa sedang ia dalam keadaan puasa lalu ia makan atau minum, maka hendaklah ia sempurnakan puasanya karena saat itu Allah yang memberi ia makan dan minum”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Hal ini menunjukkan makan dan minum bukanlah inti dari puasa, karena pun jika lupa dan tidak sengaja makan dan minum, puasanya tetap sah dan boleh dilanjutkan hingga waktu tiba buka puasa. Berarti ibadah puasa kita bermakna lebih dari sekedar menahan makan dan minum saja, lebih dari sekedar urusan makanan saja.

Puasa atau dalam Islam kita menggunakan istilah Shaum berasal dari bahasa arab yang secara bahasa berarti menahan diri. Namun bukan hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga dari hal-hal lainnya. Secara umum, menahan diri yang dimaksud adalah menahan diri dari berbagai hawa nafsu, termasuk di dalamnya menahan diri dari berbohong, berkata kasar, bergunjing, marah, dan lain sebagainya. Shaum bukan hanya menahan diri dari apa yang masuk ke dalam mulut tetapi juga dari apa yang keluar dari mulut (lisan).

Kebanyakan dari kita terlalu fokus pada apa yang masuk ke mulut saja, padahal shaum juga berarti menahan diri dari apa yang ingin kita keluarkan dari mulut. Ada yang sampai dengan sangat detil menjaga agar tidak ada yang masuk ke dalam mulut, misalnya ketika berwudhu selepas berkumur ia terus meludah berkali-kali untuk memastikan tidak ada setetes air pun yang masuk ke mulut. Beberapa orang mungkin ada yang berlebihan bahkan tidak sikat gigi saat shaum supaya tidak ada sama sekali air yang masuk ke dalam mulut. Beberapa contoh di atas adalah contoh yang berlebihan dalam menahan diri dari sesuatu yang masuk ke dalam tubuh dan masih banyak contoh berlebihan lainnya. Sangat disayangkan bagi mereka yang berlebihan menjaga supaya tidak ada yang masuk ke dalam mulut justru tidak menjaga diri dari apa yang keluar dari mulut, tidak menahan lisannya. Mereka menahan lapar dan haus, tetapi juga bergunjing, berbohong, marah, berkata kasar, berkata tidak penting, dan lain-lain.

Sabda Rasulullah saw, “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengamalkannya, maka Allah tidak butuh rasa lapar dan haus yang ia tahan”. (HR. Bukhari)

Kemudian muncul pertanyaan, apakah orang yang tidak menjaga lisannya saat berpuasa itu membatalkan puasanya? Perlu diketahui bahwa menurut jumhur ulama hal-hal yang membatalkan shaum adalah makan, minum, dan jima’ pada waktu shaum. Mereka yang masih tidak mampu menjaga lisannya ketika shaum tetap sah shaumnya hanya saja tidak mendapat kesempurnaan ibadah shaum.

Rasulullah saw bersabda, “Betapa banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga”. (HR. Ath Thabrani)

Hadits di atas menunjukkan bahwa seharusnya kita yang sedang berpuasa mampu mendapatkan lebih dari sekedar rasa lapar dan dahaga saja. Melalui ibadah shaum seharusnya kita juga mampu menahan diri dari marah, berbohong, berkata kasar, bergunjing, dan perbuatan buruk lainnya. Sehingga tujuan ibadah shaum, yakni menjadi orang-orang yang bertakwa dapat kita raih setelah shaum selama 30 hari lamanya. Jadi, pada Bulan Ramadhan ini pastikan kita tidak hanya fokus pada makanan yang masuk ke dalam mulut saja, tetapi juga memperhatikan apa yang keluar dari mulut kita, apa yang kita ucapkan kepada orang lain. Jika kita mampu melaksanakan keduanya, maka insya Allah sempurnalah ibadah shaum kita. Aamiin..

Dokumen dapat diunduh di bawah ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *