“Berkah Ramadhan untuk Semua: Antara Kita dan Rohingya”

Oleh: Annisa Dina Amalia (Kepala Bidang Keummatan Salam UI 19)

Tanpa terasa 4 hari di bulan Ramadhan telah kita lalui. Bagaimana kabar Ramadhan- mu? Semoga senantiasa semangat menjemput ridho-Nya, ya. Bagi umat Islam se-dunia, Ramadhan tentunya menjadi bulan yang ditunggu-tunggu. Segala momen kebahagiaan dapat kamu temukan di bulan ini. Dini hari, senyum dan tawa mewarnai kehangatan momen sahur bersama Bapak, Ibu, dan saudara-saudara. Sorenya, senda gurau menghiasi momen buka bareng teman-teman yang udah jarang ketemu. Malamnya, ketemu orang sekomplek buat tarawih-an di masjid bareng-bareng. Menjelang akhir Ramadhan, kehebohan mempersiapkan lebaran bakal jadi momen yang kamu rindukan. Dan yang paling penting, Ramadhan jadi momen kamu bisa total banget ngerjain amal ibadah, mulai dari ibadah personal sampe ibadah sosial. Kedekatan dengan Allah itu, rasa-rasanya jarang kamu maknai di luar bulan Ramadhan. Ah, pokoknya kebahagiaan selama Ramadhan itu sulit diungkapkan dengan kata- kata, deh!

Eits, tunggu dulu. Mungkin bahagia adalah perasaan yang kita dan mayoritas umat Islam rasakan saat ini. Tapi, bagi sebagian umat Islam di tempat-tempat lain, Ramadhan tak semenyenangkan itu. Bisa bayangkan Ramadhan tapi dilarang puasa? Itu yang dirasakan saudara-saudari kita di Xinjiang, Tiongkok, setiap tahunnya. Pernah bayangkan buka puasa sambil memendam ketakutan akan dijatuhi bom? Itu yang terjadi di Aleppo, Suriah. Atau, pernah bayangkan gimana rasanya sahur di kamp pengungsian tanpa keluarga? Itu yang dirasakan anak-anak pengungsi Rohingya di Aceh, sejak setahun lalu. Kalau saja kita mau membuka mata dan hati kita lebih lebar, sesungguhnya umat Islam tidak dalam keadaan baik- baik saja Ramadhan ini, kawan. Tapi, berapa banyak sih yang peduli?

Setahun pasca-Masa ‘Darurat’: What’s Next?

Sering kali kita menemukan satu waktu ketika bencana alam ataupun sosial terjadi, heboh, lalu umat manusia berbondong-bondong menyumbangkan hartanya. Waktu berselang, bulan demi bulan berlalu, lalu kehebohan itu hilang. Bukan karena efek bencananya sudah tuntas, tapi karena donaturnya merasa sudah menyumbang, lalu sudah. Dianggap tanggung jawabnya sudah lepas, atau barangkali juga karena euforianya sudah kandas.

Berkaca pada krisis pengungsi Rohingya yang terombang-ambing di laut lepas satu tahun silam, lalu diselamatkan oleh para nelayan Aceh pada 15 Mei 2015, berapa banyak yang tau kondisinya saat ini? Satu tahun pasca-masa ‘darurat’ itu, apa yang terjadi di Aceh? Masyarakat Aceh mungkin tau, tapi kita yang berjarak ribuan kilometer dari provinsi paling ujung barat Indonesia itu? Ironisnya, media pun tak banyak meliput. Apakah karena krisis ini dianggap sudah selesai saat bantuan bertubi-tubi datang selepas tragedi itu terjadi?

Mungkin tak banyak yang tau pemerintah Indonesia hanya menetapkan batas satu tahun untuk penanganan pengungsi Rohingya di Aceh. Tak ingin kepedulian kita menarik pengungsi-pengungsi lain, kata Menteri Luar Negeri kita. Lantas, setelah satu tahun berlalu, mau diapakan orang-orang ini? Meskipun banyak yang sudah meninggalkan Indonesia karena pergi ke Malaysia—mereka boleh bekerja di sana—ataupun dikirim ke negara-negara ketiga, sekian ratus orang masih terlunta-lunta di tanah Aceh. Meskipun masih ada banyak lembaga kemanusiaan yang mengulurkan tangan, masih ada sekian hak-hak mereka sebagai manusia yang tercerabut. Di sini, hidup mereka serba susah. Sekolah sulit, kerja tak boleh. Hanya diam menunggu bantuan-bantuan datang.

Menurut seorang ilmuwan, Peter Nyers, pergerakan pengungsi memang sering dianggap sebagai fenomena politik yang erat kaitannya dengan wacana ‘emergency’. Hal ini yang menyebabkan kecenderungan negara-negara untuk mengatasi permasalahan pengungsi secara ad hoc—tanpa perencanaan jangka panjang—dan dengan perspektif manajemen krisis darurat. Mereka berfokus pada pergerakan pengungsi masal yang terjadi tiba-tiba, kondisi beragam dan kompleks yang menyebabkan pergerakan tersebut, dan jumlah manusia yang mencari suaka yang semakin meningkat. Padahal, persoalan pengungsi tidak hanya sekadar itu, tetapi merupakan persoalan kategorisasi—pembedaan secara sosial. Fokus pada ‘masa darurat’ akan mengabaikan perhatian terhadap kondisi-kondisi yang menyebabkan diskriminasi tehadap pengungsi terjadi. Ini yang terjadi juga di negara kita tercinta.

Ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa negara adalah seorang ibu dan rakyatvadalah anaknya. Dalam kasus Rohingya, mereka adalah anak-anak yang tidak diakui ibunya. Mereka pergi dari rumah mereka, terdampar di negeri antah berantah, lalu menjadi seorang piatu. Pertolongan pertama oleh nelayan-nelayan Aceh dan berbagai lembaga kemanusiaan mungkin membantu meredakan sesaknya hidup mereka, tapi siapakah yang menjamin masa depan mereka? Pengungsi tentunya bukan status yang ingin mereka lekatkan pada diri
mereka selamanya. Mereka butuh kembali menjadi manusia-manusia seperti yang lainnya.

Proses ini tentu membutuhkan waktu yang tidak pendek. Indonesia yang begitu baik bagi mereka pun sejatinya hanya menawarkan bantuan sebagai ibu tiri. Ketika mereka sulit bersekolah, sulit mendapatkan akses kesehatan, dilarang bekerja, dan hidup tak tentu arah di kamp sembari menunggu kepastian nasib mereka, hanya karena dianggap ‘orang asing’, apakah benar mereka kita anggap saudara, manusia? Kalau kita dan mereka sama-sama manusia, mengapa masih ada perbedaan perlakuan yang begitu kontras?

Pengungsi dan Filantropi Islam

Katanya, sih, Ramadhan itu bulan di mana kita menempatkan kepentingan umat di atas kepentingan kita pribadi. Itu konsep sentral dalam ajaran agama kita. Makanya di bulan ini, Rasulullah SAW menganjurkan kita memperbanyak silaturahim, sedekah, infaq, bagi-bagi ta’jil, dan lain sebagainya. Di akhir Ramadhan bahkan kita diwajibkan menyisihkan sebagian harta kita yang di dalamnya terdapat hak atau bagian orang lain yang kurang beruntung. Tapi, coba kamu tanyakan pada dirimu sendiri, apakah konsep ini benar-benar berlaku sebagaimana mestinya?

Konsep filantropi dalam Islam adalah salah satu konsep yang begitu indah. Filantropi Islam tidak mengenal batasan. Selama dia memenuhi kriteria-kriteria sebagai seorang mustahiq, misalnya, ia berhak menerima zakat. Tidak peduli dia bersuku apa, punya warna kulit seperti apa, dan dari negara mana. Lalu, selama ini kita hanya tau sedekah, infaq, zakat, sebagai contoh bentuk filantropi Islam. Tak banyak yang tau makna filantropi dalam Islam sesungguhnya. Tak banyak yang tau filantropi Islam itu tak sekadar transfer uang, kirim makanan pokok, sumbang baju, lalu selesai. Menurut Hilman Latief, filantropi Islam seharusnya memiliki sasaran ganda, yakni perubahan individual dan perubahan kolektif. Ia mengajarkan individu untuk lebih peduli pada sekitar dan mengubah tatanan sosial untuk membangun budaya tanggung jawab sosial dan kesehahteraan bersama. Ini keindahan lain dari filantropi Islam.

Selama ini, filantropi Islam lebih sering dilakukan sebagai bentuk pelanggengan hubungan superior-inferior antara pemberi dan penerima. Penerima sumbangan lebih sering dilihat sebagai obyek pasif yang terus membutuhkan bantuan. Anjuan sedekah, infaq, zakat lebih dilihat sebagai bentuk amalan yang harus digugurkan saja. Padahal, filantropi Islam seharusnya bisa membangun hubungan keseimbangan dan kesetaraan, dibarengi upaya memberdayakan si penerima yang notabene hidupnya kurang beruntung agar posisinya tidak terus-terusan di bawah. Jika kita masih menganggap orang-orang yang kita beri bantuan itu lebih rendah dari kita, baiknya kita periksa lagi hati kita masing-masing. Benarkah kita menjalankan konsep filantropi Islam? Filantropi Islam barangkali tidak berhenti sampai semua muzakki menjalankan kewajibannya dan semua mustahiq menerima haknya, tetapi sampai kesejahteraan bersama itu terwujud. Sampai tidak ada lagi orang-orang yang bisa disebut mustahiq.

Mungkin kita masih ingat kisah heroik kaum Anshar yang rela memberikan apapun yang mereka punya untuk kaum Muhajirin yang hijrah ke Madinah karena mengalami penindasan di Makkah. Mereka tidak pernah melihat kaum Muhajirin sebagai orang asing, tetapi saudara seakidah yang kebetulan mendapatkan nasib yang kurang beruntung. Mereka juga tidak pernah melihat kaum Muhajirin lebih rendah dari mereka, maka bantuan yang diberikan pun tidak sekadar pertolongan pertama, tetapi bentuk-bentuk bantuan yang memberdayakan kaum Muhajirin itu sendiri agar mendapatkan kehidupan normalnya kembali.

Kalau kita paham ini, takkan ada lagi anggapan bahwa pengungsi itu orang asing. Takkan ada lagi pembedaan antara kita dan mereka hanya karena sekat-sekat kenegaraan. Takkan ada lagi pula pandangan bahwa mereka hanya obyek pasif yang terus-terusan membutuhkan bantuan, sebab sejatinya proses menyembuhkan luka-luka batin mereka tak sesederhana menyembuhkan luka-luka fisik mereka. Butuh lebih dari sekadar bantuan selama satu tahun untuk memulihkannya. Butuh dorongan dan penguatan bahwa mereka bisa berdiri
sendiri menanggalkan status pengungsi yang mungkin menyakitkan, lalu menentukan masa depan mereka. Sampai saat itu datang, don’t stop to care.

Semoga tulisan ini menjadi refleksi diri di bulan suci ini, bahwa berkah Ramadhan sejatinya tidak hanya untuk kita orang-orang Indonesia, tapi juga untuk pengungsi-pengungsi Rohingya dan umat Islam di belahan dunia manapun yang sedang menderita.

Dokumen dapat diunduh di bawah ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *