“Membayar Fidyah di Bulan Ramadhan”

Oleh: Siva Purwaningsih (Kepala Departmen Kemuslimahan Salam UI 19)

Tahukah kamu, apa itu fidyah?

Secara bahasa kata fidyah bermakna harta untuk tebusan. Harta atau yang sejenisnya yang digunakan untuk menyelamatkan seorang tawanan atau sejenisnya, sehingga ia terbebas dari ketertawanannya itu.

Sedangkan secara istilah, kata fidyah didefinisikan sebagai :

الْبَدَل الَّذِي يَتَخَلَّصُ بِهِ الْمُكَلَّفُ مِنْ مَكْرُوهٍ تَوَجَّهَ إِلَيْهِ

Pengganti untuk membebaskan seorang mukallaf (muslim yang dikenai kewajiban atau perintah dan menjauhi larangan agama) dari larangan yang berlaku padanya.

Sebenarnya istilah fidyah ini tdak hanya berlaku dalam berpuasa, namun berlaku pula untuk haji dan perang. Dalam puasa, fidyah adalah memberi makan kepada fakir miskin sesuai dengan jumlah puasa yang ditinggalkan sebagai gantinya.

Siapa sajakah yang harus membayar fidyah?

1. Orang Sakit Yang Tidak Ada Harapan Sembuh

Orang yang sakit dan secara umum ditetapkan sulit untuk sembuh lagi, maka dia tidak perlu mengganti puasanya dengan puasa qadha’. Dia cukup membayar fidyah saja.

Berikut adalah firman Allah SWT :

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ

“Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” (QS. Al-Hajj:78)

Sedangkan orang sakit yang masih ada harapan sembuh, maka dia harus membayar hutang puasanya itu dengan puasa qadha’ di hari lain.

2. Orang Tua Renta

Termasuk orang yang diperbolehkan mengganti utang puasa dengan membayar fidyah adalah tuna netra, yang dikarenakan sudah sangat lemah dan fisiknya sudah tidak kuat lagi untuk mengerjakan ibadah puasa.
Berikut adalah firman Allah SWT :

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

“Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.” (QS. Al-Baqarah : 184)

3. Wanita Hamil dan Menyusui

Untuk wanita hamil dan menyusui, ada beberapa perbedaan pendapat antar ulama. Berikut merupakan beberapa pendapatnya :

a. Hanya membayar fidyah

Ibnu Umar dan Ibnu Abbas menyerupakan wanita hamil dan  menyusui seperti orang yang tidak sanggup melaksanakan puasa, seperti halnya orang lanjut usia. Jika mereka tidak berpuasa di bulan Ramadhan sebab mengkhawatirkan kondisi dirinya ataupun bayinya, maka harus membayar Fidyah tanpa perlu mengqadha’ (Bidayatul Mujtahid I, hal. 63).

Pendapat ini mengambil dasar dalil firman Allah sebagai berikut:

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fid-yah, (yaitu): Memberi makan seorang miskin.” (Al-Baqarah : 184)

b. Hanya membayar Qadha’

Pendapat ini menyerupakan wanita hamil dan/atau menyusui seperti orang yang sakit. Apabila mereka (wanita hamil dan menyusui) tidak berpuasa di bulan Ramadhan, maka harus membayar Qadha’ (tidak perlu fidyah).

Pendapat ini berdasarkan firman Allah sebagai berikut:

أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka jika di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.” (Al-Baqarah: 184) 

c. Membayar Qadha’ dan Fidyah

Imam Syafi’i mengatakan bahwa wanita hamil dan menyusui serupa dengan orang sakit dan juga orang yang terbebani dalam melakukan puasa.

Apabila mereka tidak berpuasa di bulan Ramadhan, maka mereka harus membayar qadha’ dan fidyah juga. Pendapat ini menggabungkan dua dalil di atas yaitu Al-Baqarah: 184.

d. Untuk wanita hamil hanya Qadha’, sedangkan menyusui membayar Qadha’ dan Fidyah

Ulama dari madzhab Imam Maliki membedakan antara wanita hamil dan wanita yang menyusui. Wanita hamil diserupakan dengan orang sakit, yang apabila meninggalkan puasa di bulan Ramadhan, ia wajib mengganti dengan qadha’.

Sedangkan, wanita menyusui diserupakan dengan orang sakit sekaligus orang yang terbebani melakukan puasa. Apabila ia tidak berpuasa di bulan Ramadhan, maka ia wajib membayar qadha’ dan juga fidyah.

4. Wafat Dan Memiliki Hutang Puasa

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامُ شَهْرٍ فَلْيُطْعِمْ عَنْهُ مَكَانَ كُل يَوْمٍ مِسْكِينًا

“Orang yang wafat dan punya hutang puasa, maka dia harus memberi makan orang miskin (membayar fidyah) satu orang miskin untuk satu hari yang ditinggalkan.” (HR. At-Tirmizdi)

Bagaimana cara untuk membayar fidyah?

Cara membayar fidyah dapat dilakukan dengan hal berikut:

  1. Memasak atau membuat makanan, kemudian mengundang orang miskin sejumlah hari-hari yang ditinggalkan selama bulan Ramadhan. Sebagaimana hal ini dilakukan oleh Anas bin Malik ketika beliau sudah menginjak usia senja (dan tidak sanggup berpuasa), dan
  2. Memberikan kepada orang miskin berupa makanan yang belum dimasak. Alangkah baiknya jika diberikan sesuatu untuk dijadikan lauk juga.

Bagaimana bila kita membayar fidyah menggunakan UANG?

Dengan definisi dan tujuan fidyah yaitu santunan kepada orang-orang miskin, maka boleh saja memberikan fidyah dalam bentuk uang. Karena apabila orang miskin tersebut sudah cukup memiliki bahan makanan, maka baiknya memberikan fidyah dalam bentuk uang, agar dapat dipergunakannya untuk keperluan lain.

Namun, apabila dikhawatirkan uang tersebut dipergunakan untuk berfoya-foya, alangkah baiknya diberikan dalam bentuk makanan dengan bahan mentah ataupun makanan yang telah jadi.

Terkait takaran fidyah itu sendiri, terdapat peberdaan pendapat, yaitu.

Pendapat pertama, fidyah itu memberi makan sebesar satu mud sesuai dengan mud nabi. Ukuran mud itu bila dikira-kira adalah sebanyak dua tapak tangan nabi SAW. Adapun jenis makanannya, disesuaikan dengan jenis makanan pokok sendiri-sendiri. Mud adalah telapak tangan yang ditengadahkan ke atas untuk menampung makanan, kira-kira mirip orang berdoa.

Pendapat kedua, menurut Abu Hanifah Fidyah memberi makan sebesar dua mud gandum dengan ukuran mud nabi SAW atau setara dengan setengah sha‘ kurma atau tepung. Atau juga bisa disetarakan dengan memberi makan siang dan makan malam hingga kenyang kepada satu orang miskin.

Namun pada dasarnya, membayar Fidyah dapat disesuaikan dengan makanan yang kita makan setiap harinya.

Kapan waktu pembayaran fidyah?

Para ulama sepakat bahwa fidyah itu harus dibayarkan hingga masuknya lagi bulan Ramadhan tahun berikutnya, sebagaimana masa mengqadha’ puasa.

Seseorang dapat membayar fidyah pada hari itu juga ketika dia tidak melaksanakan puasa, atau diakhirkan sampai hari terakhir bulan Ramadhan. Sebagaimana yang dilakukan oleh sahabat Anas bin Malik ketika beliau telah tua.

Yang tidak boleh dilaksanakan adalah pembayaran fidyah yang dilakukan sebelum Ramadhan. Contohnya ketika ada orang sakit dan tidak dapat diharapkan kesembuhannya, lalu keluarganya memutuskan untuk membayar fidyahnya tersebut di awal sebelum Ramadhan. Ia harus menunggu sampai bulan Ramadhan benar-benar telah masuk, barulah ia boleh membayarkan fidyah ketika hari itu juga atau bisa ditumpuk di akhir Ramadhan.

Wallahu A’lam Bishawab.

Dokumen dapat diunduh di bawah ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *