“Buah Keberkahan Cahaya Ramadhan”

Oleh: Intan Sari (Wakil Kepala Departemen Keilmuan KAIFA FIA UI)

“Bulan Rajab adalah bulan untuk menanam dan Sya’ban adalah bulan untuk menyirami tanaman, sementara bulan Ramadhan adalah bulan untuk memetik hasil panen.” (Syekh Abu Bakar Al- Balkhi).”

Bulan-bulan yang diciptakan oleh Allah mempunyai keutamaan tersendiri. Salah satu bulan yang paling istimewa dibandingkan dengan bulan lainnya adalah bulan Ramadhan. Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah. Di antara keberkahan bulan ini adalah dijauhinya api neraka (ditutupnya pintu neraka dan dibukanya pintu-pintu surga). Merupakan kebahagiaan untuk memetik semua jerih payah ibadah dan semua kebaikan yang telah dilakukan pada bulan sebelumnya yakni Rajab dan Sya’ban. Bulan Ramadhan ini juga merupakan bulan di mana diturunkannya Al-Qur-an (Nuzulul Qur’an). Keutamaan di bulan Ramadhan ini juga adalah adanya malam Lailatul Qadr dimana telah dijelaskan dalam Q.S Al-Qadr ayat 3.

Bulan Ramadhan merupakan bulan dimana setiap amalan akan dilipatgandakan, seperti dalam hadits berikut ini:

Dan Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah dan Waki’ dari Al A’masy Dan Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Jarir dari Al A’masy -dalam riwayat lain- Dan Telah menceritakan  kepada kami  Abu Sa’id  Al Asyajj  -lafazh juga miliknya- Telah menceritakan kepada kami  Waki’  telah menceritakan  kepada  kami  Al  A’masy dari  Abu Shalih  dari  Abu Hurairah radliallahu ‘anhu, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setiap amal anak Adam dilipatgandakan pahalanya. Satu macam kebaikan diberi pahala sepuluh hingga tujuh ratus kali. Allah ‘azza wajalla berfirman; “Selain puasa, karena puasa itu adalah bagi-Ku dan Akulah yang akan memberinya pahala. Sebab, ia telah meninggalkan nafsu syahwat dan nafsu makannya karena-Ku.”Dan bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan. Kebahagiaan ketika ia berbuka, dan kebahagiaan ketika ia bertemu dengan Rabb-Nya. Sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah daripada wanginya kesturi.” (HR. Muslim).

Hadits yang lain menjelaskan mengenai keutamaan bulan Ramadhan ini adalah: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Khalid bin Makhlad Al Qathawani dari Sulaiman bin Bilal telah menceritakan kepadaku Abu Hazim dari Sahl bin Sa’d radliallahu ‘anhu, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Di dalam surga ada satu pintu yang disebut Ar Rayyan. Orang-orang yang diperkenankan masuk surga melalui pintu pada hari kiamat kelak hanyalah orang-orang yang berpuasa,  sedangkan  yang  lainnya  tidak  diperkenankan.  Mereka  akan  dipanggil;  ‘Manakah orang-orang yang sering berpuasa? ‘Dan bila orang yang terakhir dari mereka telah masuk, maka pintu itu pun segera ditutup, hingga tak seorang pun yang dapat memasukinya.” (HR. Muslim).

Berikut merupakan dzikir yang sering dibaca Rasulullah saat Ramadhan:

Asyhaduallaa ilaahaillallah. Astaghfirullah. Asalukal jannah, wa a’udzubika minannaar.”

Bulan Ramadhan adalah bulan kemenangan. Mengapa dikatakan bulan kemenangan? Ini dikarenakan bulan Ramadhan adalah bulan dimana tiba waktu memanen. Panenan tersebut dalam bentuk keberkahan yakni bertambahnya kebaikan dan bertambahnya ilmu. Ibadah-ibadah dan semua kebaikan yang telah dilaksanakan pada bulan sebelumnya akan dipetik pada bulan ini. Pada malam lailatul qadr dimana malam tersebbut lebih baik dari pada seribu bulan.  Bulan yang cahayanya terang benderang yang dalam ilmu thareqah, bulan diperumpamakan sebagai qalb. Malam yang lebih baik dari seribu bulan seolah-olah mengisyaratkan bahwa malam tersebut sangatlah istemewa dan hanya qalb orang-orang Mukmin  yang hatinya bersih  yang mampu menampung cahaya Ilahi yang dapat merasakannya. Tersingkapnya malam lailatul qadr merupakan suatu anugerah.

Waktu datangnya malam lailatul qadr ini telah dijelaskan dalam hadits, sebagai berikut:

Dan Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya ia berkata, saya telah membacakan kepada Malik dari Nafi’ dari Ibnu Umar radliallahu ‘anhuma bahwa seroang laki-laki dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bermimpi bahwa Lailatul Qadr terdapat pada tujuh hari terakhir (dari bulan Ramadlan). Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku juga bermimpi seperti mimpimu itu, melihat Lailatul Qadr itu jatuh bertepatan pada tujuh hari terakhir bulan Ramadlan. Maka siapa yang mencarinya, carilah dalam tujuh hari terakhir itu.” (HR. Muslim).

Juga dalam hadits lain, yakni: Dan Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Hatim dan Ibnu Abu Umar keduanya dari Ibnu Uyainah – Ibnu Hatim berkata- Telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Uyainah dari Abdah dan Ashim bin Abun Najud keduanya mendengar Zirr bin Hubaisy berkata, saya bertanya kepada Ubay bin Ka’b radliallahu ‘anhu. Saya katakan, “Sesungguhnya saudaramu Ibnu Mas’ud berkata, ‘Barangsiapa yang menunaikan shalat malam sepanjang tahun, niscaya ia akan mendapatkan   malam   Lailatul   Qadr.'”   Maka   Ubay   bin   Ka’b   berkata,   “Semoga   Allah merahmatinya. Ia menginginkan agar manusia tidak hanya bertawakkal. Sesungguhnya ia telah mengetahui bahwa Lailatul Qadr terjadi pada bulan Ramadlan, yakni dalam sepuluh hari terakhir tepatnya pada malam ke dua puluh tujuh.” kemudian Ubay bin Ka’b bersumpah, bahwa adanya Lailatul  Qadr  adalah  pada  malam  ke  dua  puluh  tujuh.  Maka  saya  pun  bertanya,  “Dengan landasan apa, Anda mengatakan hal itu ya Abu Mundzir?” Ia menjawab, “Dengan dasar alamat atau tanda-tanda yang telah dikabarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada kami, bahwa di hari itu matahari terbit dengan pancaran cahaya yang tidak menyengat.”

Di malam lailatul qadr ini malaikat turun ke bumi, sebagaimana sebuah hadits menyebutkan:

“Lailatul Qadr itu pada malam 27 atau 29, sungguh malaikat yang turun pada saat itu ke bumi lebih banyak dari jumlah batu kerikil”. (HR. Thayalisi dalam Musnadnya no. 2545 juga Ahmad II/592 dan Ibnu khuzaimah dalam shahihihnya II/223).

Selain itu juga diungkapkan dalam Surah Al-Qadr ayat 4:

“Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.”

Telah  dijelaskan  di  atas  bahwa  banyak  sekali  keistimewaan  bulan  Ramadhan.  Oleh karena itu patutlah kita berlomba-lomba untuk perbanyak ibadah baik sunnah maupun wajib serta memperbanyak berbuat kebaikan di bulan Ramadhan ini. Insyaallah bagi seorang Mukmin yang telah berusaha untuk terus istiqamah dalam ibdah, berbuat kebaikan dan memperbaiki diri ia akan mendapatkan predikat takwa dari Allah SWT. Dan mudah-mudahan di bulan Ramdhan ini serta pada bulan-bulan selanjutnya cahaya Allah bisa masuk ke dalam jiwa kita dan tidak tertolak lantaran terhijabi dengan berbagai dosa. Sebagaimana ayat dalam Q.S An-Nur, dibawah ini: Allah (pemberi) cahaya langit dan  bumi. Perumpamaan cahaya-Nya,  seperti sebuah misykat yang didalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca, dan tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di Timur dan tidak pula di Barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi walaupun, tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya, Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan- perumpamaan bagi manusia. Dan Allah mengetahui segala sesuatu.” (Q.S An-Nur :35).

Dokumen dapat diunduh di bawah ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *