“Persatuan Ummat di Bulan Ramadhan”

Oleh: Rangga Kusumo (Ketua Salam UI 19)

Ada satu kondisi yang tidak akan kita temui, selain hanya ada di bulan yang penuh berkah Ramadan ini. Kondisi itulah yang akhirnya akan membuat setiap yang menjadi bagiannya menjadi merinding dan bergetar hatinya. Tak lain, kondisi itu adalah “bareng-barengnya” umat Islam dalam aktivitas kebaikan. Ya, di bulan mana lagi kita bisa melihat masjid-masjid sesak penuh oleh umat muslim yang tak sama sekali memikirkan dari kelompok yang mana, aliran mana, mahzab mana, pakai fiqih mana, selain di bulan Ramadan. Itu hanya salah satu bagian indahnya persatuan umat.

Terlebih, momen kebersamaan saat di Masjid itu, kita temui dalam kondisi ruhiyah yang sedang naik, kita temui dalam kondisi lisan basah berdzikir kepada Allah, kita temui dalam konsisi bahkan sedang suka cita merayakan kemenangan dengan lantunan takbir saat hari raya. Indah sekali, umat terasa menjadi satu. Bahkan, di kampung-kampung tak jarang selepas shalat Idul FItri, mereka meluangkan waktu untuk saling bersalaman meminta maaf. Yang tadinya tidak saling sapa, yang tadinya tidak pernah saling tegur, lebur menjadi satu saling mengakui dosa dalam tetesan air mata saat bermaaf-maafan.

Sesungguhnya Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus atau bersuka-cita bisa kembali berkumpul bersama keluarga dan teman lama. Ada pesan besar dan lebih bermaka di dalamnya untuk umat ini, ditengah kondisi umat yang hari ini sedang tidak baik-baik saja. Siapa yang peduli, ketika di awal tahun 2016 ini isu LGBT marak kembali bahkan menjadi isu nasional, juga pengeboman di dalam negeri (Thamrin), Belgia, Turki, sampai penggempuran saudara kita di Aleppo, Suriah. Bahkan kasus kekerasan seksual yang terjadi di kalangan pemuda yang sangat mencuat akhir-akhir ini, bermula dari kisah tragis almarhum Yuyun, yang merembet ke kasus serupa di beberapa tempat, juga masalah kita bersama. Atau berbagai bencana alam dan kemanusiaan yang juga masih banyak terjadi diseluruh belahan bumi ini. Sekali lagi, siapa yang peduli?

Sedernaha, kalaulah umat Islam di dunia, atau tidak usah jauh-jauh umat Islam di Indonesia ini, tidak peduli terhadap permasalahan itu semua, akan seperti apa kondisi umat hari ini dan masa-masa mendatang. Oleh karena itu, perlu rasanya kita lebih memaknai Ramadan tahun ini secara mendalam, bahwa ada pesan dari Allah agar kita mampu melatih diri kita menjadi pribadi yang tidak egois. Teringat sebuah nasihat bijak yang selalu ternginang dalam benar dari seorang guru terbaik, Ustadz Musholli (Ketua Dewan Pembina Yayasan Bina Nurul Fikri dan Rumah Kepemimpinan) tentang empat kriteria menjadi muslim yang seharusnya, yang jika kita mampu mengimplementasikannya, maka tak mustahil umat Islam akan bersatu hidup saling berangkulan dan mampu menjadi pemimpin dunia. Beliau menyingkat empat kriteria itu dengan ROMO (Rendah hati, Open Mind, Moderat, Objektif).

Pertama menjadi pribadi yang rendah hati, artinya meskipun Ia bagian dari sebuah kelompok atau jamaah tertentu, Ia tidak akan menjadi pribadi yang sombong yang menolak kebenaran. Ia akan rendah hati, mengakui sebagai insan pasti memiliki kekurangan dan siap berkolaborasi dengan siapapun untuk mencapai tujuan kebaikan bersama. Kedua pribadi yang Open Mind, pribadi yang siap menerima keberanan dari siapapun, dari manapun sumbernya, meski bukan dari kelompoknya. Ketiga adalah pribadi bersikap moderat, yang dalam perkara muamalah dia tidak berlebih-belihan, baik dalam perihal memusuhi ata membenci karena Ia tetap yakin orang hina sekalipun Allah yang berkehendak menurunkan hidayah, pasti ada titik dimana dia akan kembali kepada kebaikan, pun sebaliknya. Terakhir bersikap objektif, pribadi yang selalu bersikap adil, membuat keputusan dengan bijak dan sesuai dengan konteks keadaan tertentu yang pastinya adalah keputusan yang berkaitan dengan muamalah atau ajaran yang cabang dari agama ini, tanpa kemudian justru membenarkan yang seharusnya salah, meski kebenaran bukan dari kelompoknya. Atau menganggap dirinya yang paling benar, dan kelompok yang lain salah.

Akhirnya, semoga Ramadan tahun ini menjadi momen kebangkitan bagi umat Islam, khususnya di Indonesia. Dengan menanamkan prinsip ROMO (rendah hati, terbuka, moderat, dan objektif), serta tetap berkeyakinan bahwa sesama muslim adalah bersaudara ketika masih berdasarkan Quran dan Sunnah, meski dalam hal-hal yang berkaitan dengan ajaran furu/cabang agama ini ada terjadi perbedaan insyaAllah umat ini akan semakin solid. Kedepan masalah bangsa, masalah umat Islam haruslah menjadi dasar kuat dan benang merah pemersatu yang patut diperjuangkan bersama, bukan lagi berdebat/berselisih dalam hal-hal kecil yang justru akan membuat umat Islam semakin terbelakang dan terpuruk dalam peradaban. Semoga juga momen kebersamaan umat Islam selama Ramadan, momen indahnya shalat tarawih berjamaah, saling meningkatkan kepedulian sosialnya dengan gemar berinfaq dan kebaikan lainnya, akan tetap bisa berlangsung diluar Ramadan.

Wallahu’alam bissawab.

Dokumen dapat diunduh di bawah ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *