“Antara Bukber dan Tarawih: Pilih Mana?”

Oleh: Rizqika Rahmadhini & Adrianisa Kamila S
(Departemen Kajian Islam Strategis FUSI Psikologi UI 18) 

Marhaban Yaa Ramadhan!

Tak terasa, setelah sebelas bulan tak menyapa, kini bulan suci Ramadhan kembali dapat kita jumpai. Perjumpaan kita dengan Ramadhan, biasanya ditandai dengan berbagai macam aktivitas-aktivitas “khusus” bulan suci ini, contohnya acara sahur di televisi, pasar kaget yang menjajakan kudapan menjelang berbuka puasa, hingga acara berbuka puasa bersama. Nah, acara berbuka puasa bersama, yang akrab disebut bukber, adalah salah satu perhelatan favorit yang diselenggarakan umat Muslim di bulan suci ini, dengan lingkaran-lingkaran sosial yang dimilikinya. Selain ajang silaturahmi, bukber juga menjadi pasar bagi pemilik kedai makan, hotel, hingga katering.  Tentu,  jumlah peserta bukber  yang kebanyakan berjumlah besar, membuat keuntungan semakin berlimpah. Kita pun tak habis mengkontak grup-grup lama di media sosial untuk mengajak buka bersama.

Buka puasa bersama tentu tak salah, terlebih bila mampu menjadikan ajang tersebut menjadi semakin bermanfaat bagi orang lain, seperti berbuka bersama di panti asuhan atau menyediakan penganan takjil gratis. Namun, seringkali itikad ini dilaksanakan dalam durasi yang tak sebentar. Berapa lama? Ada yang satu jam, dua jam, bahkan hingga larut malam. Ada kemungkinan, usai bersantap bersama, terkadang rasa malas dan lelah menyisakan kita kekuatan hanya untuk salat Maghrib dan Isya, kemudian memilih pulang dan tertidur hingga waktu sahur menjelang. Padahal, di waktu-waktu tersebut, banyak ibadah-ibadah yang bisa kita lakukan untuk memaksimalkan malam Ramadhan yang telah dianugerahkan-Nya. Membaca Alquran, mengikuti pengajian, berkumpul bersama orang-orang saleh, dan tentunya ibadah “khas” bulan Ramadhan, yaitu salat Tarawih.

Tentu shalat tarawih merupakan kegiatan yang sudah tak asing bagi kita, namun sebetulnya apa sih makna dari shalat tarawih itu sendiri? Kata “tarawih” diambil dari kata “tarwiehah” yang memiliki arti rileks atau bersenang-senang. Dinamakan demikian, karena shalat tarawih ini dikerjakan secara rileks dan dengan istirahat setiap selesai empat rakaat. Hukumnya shalat tarawih sendiri adalah sunnah muakad, yaitu sunnah yang dikuatkan bagi pria dan wanita, baik dikerjakan secara berjamaah maupun dikerjakan secara sendiri-sendiri.

Jumlah rakaat dalam Shalat Tarawih secara umum dapat dilakukan dengan sebagai berikut:

  1. Sebelas rakaat dengan delapan rakaat Tarawih dan tiga rakaat Witir, atau sepuluh rakaat Tarawih dan satu rakaat Witir
  2. Dua puluh rakaat Tarawih dengan tiga rakaat Witir dan Tiga puluh enam rakaat Tarawih dan tiga rakaat Witir (Mubarak, 2004). Di kehidupan sehari-hari kita banyak menemukan perbedaan pendapat terkait jumlah rakaat shalat tarawih, namun sejatinya perbedaan tersebut janganlah menjadi halangan bagi kita untuk melaksanakan shalat tarawih di bulan Ramadhan. Akan lebih baik apabila kita menyikapi perbedaan-perbedaan tersebut dengan tasamuh dan rasa persaudaraan yang kokoh.

Seperti ibadah-ibadah yang lainnya, tentu shalat tarawih ini memiliki keutamaannya tersendiri. Rasulullah S.A.W memberikan motivasi kepada ummatnya untuk melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan tanpa memerintahkan secara keras (‘Azimah), Beliau bersabda, “Siapa yang melaksanakan Qiyyam (Shalat malam) Ramadhan karena iman dan mengharapkan ridho Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu (H.R. al-Bukhari, Muslim, Abu Daud, al- Tirmizi, al-Nasa’i dan Ibn Majah).

Keutamaan yang diberikan oleh Allah S.W.T. bagi yang menjalankan salat Tarawih, adalah pengampunan dosa, apabila dilakukan dengan rasa iman dan pengharapan akan ridho-Nya, melandasai  tujuan  untuk  senantiasa memperbaiki  diri.  Teman-teman,  bulan Ramadhan  telah dikondisikan dengan baik, agar kita di bulan ini semakin mudah untuk menyucikan jiwa kita. Kedai-kedai makan rela tutup, atau membentangkan kain di jendela-jendela mereka, handai taulan yang tak berpuasa menghormati kita dengan tidak menyantap makanan di hadapan kita, acara- acara di media menayangkan program-program yang sekalipun masih membutuhkan banyak perubahan, ia ada untuk menyuarakan, bahwa bulan Ramadhan yang ditunggu itu telah tiba! Sungguh sayang, bila kondisi ini tak dimanfaatkan dengan saksama.

Dalam menjaga semangat tersebut, mengapa kita tidak mencoba untuk membuat sebuah perubahan pada “gaya hidup Ramadhan” kita? Dimulai dari acara buka puasa bersama, kita sepakati terlebih dahulu untuk selesai di jam berapa, atau membuat jamaah Isya dan Tarawih bersama-sama, atau melaksanakan buka puasa bersama di dekat masjid untuk memudahkan itikad kita untuk menyucikan jiwa. Banyak cara yang bisa ditempuh untuk dapat merekatkan silaturahmi, namun tetap menjaga ibadah kita selama Ramadhan. Hal tersebut dimulai dari diri kita sendiri, dengan melihat kondisi jiwa masing-masing, lalu bercermin pada kegiatan-kegiatan yang telah terencana di depan kita.

Keutamaan Tarawih telah sedemikian dahsyat untuk membantu hati-hati kita dalam menuju-Nya. Membawa diri dalam suasana syahdu, baik secara berjamaah ataupun sendiri, baik dengan rakaat-rakaat yang diyakini, semua kembali lagi pada diri kita untuk hendak berubah. Buka puasa bersama di bulan Ramadhan ini, siapa yang akan menjadi orang yang sigap dalam menjaga amalan-amalan-nya? Jawaban itu tak dapat dijawab secara mutlak. Silakan, jiwa yang hendak bermetamorfosa, renungkan sendiri pertanyaan tersebut di bulan suci ini.

Dokumen dapat diunduh di bawah ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *