KOPI Ramadhan

“Husnudzan Kepada Allah”

Oleh Aditya Yuana Putra (Ketua Umum FOKSI Vokasi 2018)

Malam itu, seperti biasanya hujan kembali membasahi kota yang ku tinggali, kota hujan, begitu sebutan dari warga sekitarnya. Hikmahnya, curah hujan yang tinggi menjadikan kota ini lebih sejuk dibandingkan kota lainnya, meski masih tak banyak yang tersenyum saat hadirnya.

Tapi itu tidak berlaku bagi anak-anak kecil di komplekku, Amr adalah anak laki laki yang baru berusia 8 tahun. Ia biasa lebih memilih menikmati waktu ketika hujan mulai turun, ketika orang orang dewasa berlarian menjauhi hadirnya yang membasahi setiap sudut kota.

Amr dan teman-temannya justru berlarian dengan gelak tawa menyusuri jalanan bersama anak anak lainnya di sekitar komplek tempat tinggalku, tentu hujan sangat menyenangkan baginya, meski berulang kali orang dewasa sekitarnya menasehati juga memperingatkan, bahwa  bermain disaat hujan turun itu tidak baik bagi kesehatan.

“Ah, orang-orang ini hanya tak mengerti betapa asyiknya berlarian di komplek ketika hujan, andai saja mereka tau mungkin mereka akan ikut bermain bersamaku”, gumamnya.

Dulu, kita mungkin menyukai hujan yang sama seperti yang di sukai Amr, tapi tidak lagi ketika kita usia mulai menginjak usia 17 tahun, kita mulai berpikir bahwa hujan tidak semenyenangkan dulu lagi, hujan hanya berisi 10% air dan 90% masa lalu, itu yang biasa dikatakan remaja di kota ini.

Wahai saudara saudariku, tidakkah kau mengerti bahwa terdapat hikmah di setiap setiap kejadian dalam lembaran hidup kita, bahkan peristiwa dalam hal yang biasa kita anggap menyusahkan, misalnya hujan.

Hujan memiliki peran penting bagi lehidupan kita, contohnya :
– pendukung keberhasilan pertanian
– menjaga sumber air tanah
– menjaga kelestarian hutan
– menjaga lingkungan dari bencana alam
– pendukung perekonomian
– dan masih banyak lainnya

Amr merupakan sesosok hati yang memiliki rasa syukur yang besar dibalik kepolosannya sebagai anak kecil. Sedangkan kita yang telah dewasa perlahan lupa bahwa kita pernah menginjak usia yang sama, pernah menyukai hal yang dulu kita senangi bersama, tanpa mencela.

Wahai saudara saudariku, Islam mengatur umatnya dalam hal berprasangka, dan Nabi sangat menganjurkan kita berprasangka baik dalam setiap kejadian.

لَا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

Artinya : “Janganlah salah satu diantara kalian mati, kecuali berprasangka baik terhadap Allah.” ( HR : Muslim )

“Ya Allah ya tuhan kamu, jadikan hati hati kami selalu berprasangka baik terhadap nikmat yang tak jarang engkau bungkus rapi dengan kejadian kejadian yang mungkin kami tidak senangi.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *